
Efek minuman semalam masih cukup membuat kepala Bern terasa pening, karena malam pertama kembali ke Indonesia membuat semua teman-teman lama mencekokinya dengan minuman.
Niat awal hanya bersenang-senang hingga pagi hari berubah menjadi permainan konyol yang dimainkan teman-teman untuk membuat dia banyak menegak minuman.
"Stop... aku fikir sudah terlalu banyak minum"
ucap bern cepat mencoba untuk meminta berhenti, melirik ke arah pergelangan tangan nya, sudah hampir pukul 5 pagi.
"Oke, bagaimana dengan seorang gadis?"
salah satu laki-laki mencoba mengujinya.
"Tidak dalam keadaan mabuk, aku tidak suka hubungan yang terjadi dikala tidak sadarkan diri"
Bern bicara sambil berusaha beranjak pulang.
"Yakin ingin pulang?"
Winda bertanya sambil menaikkan alisnya.
"Shit, mereka hampir membuat ku tumbang"
Winda tampak Terkekeh, mencoba membantu Bern untuk melesat pulang.
Bern ikut terkekeh pelan sambil menatap Winda beberapa waktu.
Membawa Winda masuk ke red mafia cukup membuat dirinya memiliki suasana baru dalam hidupnya, baginya gadis itu cukup unik, cantik dan menggairahkan, tapi gadis itu cukup berpendirian teguh, Bern beberapa kali mencoba menggoda nya tapi gadis itu begitu teguh pada pendirian nya.
"One night stand?"
dia menaikkan alisnya sambil menatap wajah gadis itu penuh gairah.
__ADS_1
dan bisa ditebak gadis itu jelas menolak nya.
"Aku tidak begitu tertarik dengan kegiatan panas yang tidak melibatkan hati"
Bern Terkekeh, tertawa terbahak-bahak.
"Come baby, kau tahu dalam kehidupannya mafia tidak pernah ada hati"
"Karena itu aku tidak tertarik untuk mengikat hati juga melakukan hubungan sek..sualisme dengan mafia"
Winda terkekeh.
*******
Sejenak Bern Mencoba untuk membuka perlahan bola matanya, karena efek minuman yang dia konsumsi di club cukup membuat sakit kepalanya.
Masih berusaha menetralisir kesadaran nya, Bern mencoba kembali memejamkan bola matanya beberapa waktu, memijat-mijat perlahan kepalanya guna menghilangkan rasa pening setelah sisa efek minuman semalam.
Oh shit.
umpat nya sambil berusaha untuk bangun dari tidurnya.
Hampir kembali malam, pukul 5.40 sore.
Gila fikirnya, dia tidur sejak pukul 6 pagi setelah Winda mengantar dia pulang.
Wajar saja dia tiba-tiba merasa begitu lapar.
Dengan perlahan bergerak dan beranjak dari tidurnya, bangun dengan cukup enggan hampir ke arah pintu kamar, hingga terdengar suara samar-samar seseorang bicara.
perempuan?
__ADS_1
Bern mengerutkan dahinya.
Membuka cepat Pintu kamar nya bersamaan tertutup nya pintu depan apartemen nya.
Klikkkk
Bern tampak diam, memandangi pintu itu beberapa waktu dengan kondisi tubuh tanpa menggunakan pakaian, hanya menggunakan celana pendek.
Mematung sejenak melihat sepatu nya sudah berpindah tempat,dia menarik nafasnya pelan kemudian beranjak menuju ke dapur.
Lagi-lagi dia mengerutkan dahinya, menatap sebuah memo di atas meja makan dan di depan microwave.
Meraihnya dengan tangan kirinya lantas membacanya perlahan.
Sejenak Bern mendengus, meremas kertas itu kemudian membuang nya ke dalam kotak sampah.
Membuka Microwave dengan cepat lantas mengambil menu makanan yang ada di dalam sana, sejenak dia terpaku menatap beberapa menu yang ada di dalam sana.
(Ratatouille)
(Soupe à l’oignon gratinée)
sejenak Bern membeku, menatap apa yang dia lihat tanpa mengeluarkan sedikit pun suara.
Dia menarik perlahan kursi makan, mencoba duduk dengan tenang, menyuap Soupe à l’oignon gratinée lebih dulu secara perlahan.
Seketika kembali kenangan lama melesat melewati ingatan masa kecil nya, rasa dimulut nya saat ini seperti sebuah rasa yang sangat dia rindukan. sepersekian detik kemudian bern tampak memejamkan bola matanya, tidak mengeluarkan ekspresi apapun beberapa waktu, kemudian dengan cepat menghabiskan makanan itu secara perlahan.
__ADS_1