
Rahang Eden seketika mengeras, gigi nya seketika saking beradu saat dia mendapat kan kabar jika seseorang mencoba bergerak untuk mencari tahu soal kejadian sebenarnya 24 tahun yang lalu di Manhattan new York city.
"Siapa yang mencoba mencari tahu?"
"2 orang datang ke distrik stone street 2 hari yang lalu"
Pria bertubuh kekar itu bicara tepat di hadapan Eden.
"Satu laki-laki dan satu perempuan"
Bola mata Eden seketika membulat, dia sedang mencoba menerka-nerka saat ini, siapa yang berani mencari tahu soal Eden Al Jaber 24 tahun yang lalu, siapa yang mulai curiga dengan keberadaan dirinya saat ini?.
"Cari tahu soal siapa yang berani menyelidiki tentang Eden Al Jaber juga cari tahu bocah laki-laki sialan itu secepatnya"
ucap Eden sambil mencengkram leher pria yang ada dihadapannya itu.
"Secepatnya Musnahkan bocah laki-laki di masa lalu itu hingga tidak ada yang bisa menemukan dirinya"
setelah berkata begitu, Eden melepaskan cengkraman tangan nya dengan kasar.
"Baik tuan"
Pria itu bicara sambil menundukkan kepalanya, lalu Secepat kilat pria itu pergi meninggalkan Eden sendirian.
"Breng..sek"
umpat nya kesal, lantas langsung meraih handphone miliknya yang sejak tadi berdering tidak mau berhenti.
__ADS_1
"Ada apa ?"
Eden bertanya sambil memijat kepalanya sesaat. Sepersekian detik kemudian ekspresi wajahnya berubah menegang.
"Kakak akan ke sana sekarang juga"
**********
Seorang gadis muda berseragam SMA berdiri di koridor dekat tangga rumah sakit, gadis itu tampak menunggu dengan gelisah seseorang yang dihubungi nya tadi, sebentar-sebentar bola mata nya melirik ke arah depan berharap agar Laki-laki itu segera datang saat ini juga.
Wajah nya tampak panik saat lagi-lagi dokter berkata hal buruk soal ibunya, dia terus meremas telapak tangan nya dengan perasaan gelisah.
Saat dia melihat kehadiran Eden, secepat kilat berhamburan memeluk laki-laki kesayangan nya itu.
dia menangis terisak.
Langkah kaki Eden jelas melangkah dengan begitu tergesa-gesa menuju ke sebuah ruangan rumah sakit, seketika kaki nya terasa berat saat beberapa dokter sedang melakukan penanganan darurat terhadap wanita paruh baya lebih di atas ranjang pembaringan.
"Ma..."
__ADS_1
suara Eden jelas tercekat.
"Jangan pergi dulu, hingga semua keluarga Al Jaber dan faith Yildiz hancur tidak bersisa"
gumam nya pelan
"Hingga sakit hati dan dendam kita terbalas satu persatu, aku mohon jangan pergi dulu"
Eden memeluk sang adik kesayangannya dengan begitu erat, dia yang dalam seumur hidupnya begitu keras, yang tidak pernah menangis sekalipun pada akhirnya menangis juga kali ini.
Bayang-bayang ingatan soal kematian ayah mereka di proyek konstruksi terus menghantam fikiran nya, mereka hanya orang miskin yang orang tua nya mengais rezeki di Al Jaber group dan faith Yildiz.
Jika ayah Murat dan ayah Aland tidak membuat keluarga mereka lebih dulu hancur, Eden jelas tidak akan pernah melakukan semua nya. Semua orang tahu, bahkan orang baik bisa menjadi jahat jika dalam keadaan terdesak.
Eden masih punya hati, tapi itu dulu. Sebelum ayah nya tewas, sebelum kakak perempuan nya menjadi istri muda ayah Aland, sebelum perasaan kakak perempuan nya di kecewakan dan memilih untuk bunuh diri tiba-tiba, sebelum ayah Murat berkata jika keluarga orang miskin adalah keluarga seorang pembohong.
"Semua akan baik-baik saja hmm"
Eden berusaha menyentuh lembut wajah adiknya.
"Semua akan baik-baik saja Belle, semua akan baik-baik saja"
Eden langsung memeluk tubuh mungil sang adik, mengelus lembut kepala adiknya yang terus terisak tiada henti.
Dapat dilihat, semua dokter masih berusaha mencoba membantu mama mereka, berpacu dengan keadaan serta waktu menggunakan alat kejut jantung berkali-kali, garis acak di layar monitor dihadapan mama mereka terus bergerak tidak beraturan, suara nya yang berkali-kali sejak dulu acapkali terdengar dibalik telinga mereka.
Belle terus menangis di dalam dada sang kakak, selama belasan tahun acapkali dia ketakutan jika-jika saja garis di layar monitor itu berganti menjadi garis lurus dengan suara yang memekakkan telinga.
__ADS_1