
Saat ditengah-tengah acara pesta, aishe dengan cepat melesat meninggalkan semua orang menuju ke arah samping menuju ke arah balkon untuk mendapatkan udara segar.
"Rindu rumah?"
tanya Murat tiba-tiba pada Aishe, laki-laki itu tahu-tahu sudah berada dibelakang nya, berjalan pelan lantas berdiri tepat disamping kiri Aishe.
Aishe tersenyum kecil.
"Tidak begitu, sejak dulu aku tidak tahu arah jalan pulang kerumah"
aishe terkekeh pelan.
Murat sejenak terdiam.
"Kenapa?"
"Sejak kehilangan orang tua kami, kakak membuang ku ke Prancis, meninggalkan ku di mansion bibi"
Aishe menarik pelan nafasnya, bola matanya terus menatap kendepan, menatap jutaan lampu di bawah kota Jakarta yang begitu padat merayap.
__ADS_1
"Dikatakan tempat tinggal ku disana, aku lebih banyak menghabiskan waktu disekolah hingga menyelesaikan high school diploma, lalu saat masuk college/university aku memilih pindah ke apartemen, lucunya lagi aku juga jarang menempati nya"
"Saat pertama kali menginjakkan kaki di Prancis, aku merasa menjadi Anak yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, bibi dan paman orang yang cukup sibuk, nyaris tidak punya waktu untuk ku"
"Saat aku bertanya pada kakak kemana mommy dan daddy, dia bilang sedang jalan-jalan ke surga, aku memikirkan nya dalam waktu yang begitu lama, kenapa mereka melakukan perjalanan dalam waktu yang begitu lama, meninggalkan ku juga mengabaikan aku, dimana surga itu?"
"Hidup tidak adil! Aku berteriak pada dunia, terbesit iri saat melihat semua teman-teman di sekolah di antar jemput oleh orang tua mereka, sedang kan aku hanya mengandalkan sopir dan para pelayan"
Murat menoleh ke arah aishe, yang terus bicara dengan nada serius.
Aishe mendongakkan kepalanya ke atas, mencoba menatap bulan yang ada di atas kepalanya sejenak.
"Awalnya anak-anak seperti diriku yang kehilangan pegangan cenderung memiliki tingkat kepercayaan yang rendah, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Mungkin bukan hanya pada diri ku, Hal ini pasti sering terjadi pada anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka terutama sosok ibu"
"Daddy tahu? kehilangan sosok terdekat untuk selama-lamanya tentu saja meninggalkan luka batin pada anak-anak seumur ku Waktu itu, hmm aku masih 6 tahun saat itu"
"Waktu itu aku berfikir it's okey may be..yah may be mommy dan Daddy tidak membutuhkan aku lagi, sama seperti kakak yang hanya menghubungi aku sesekali, hanya diberikan fasilitas tanpa kasih sayang"
"Ketika anak-anak terlalu lama berduka dan tidak menemukan jalan keluar untuk menghentikan kesedihan, anak jadi lebih rentan terhadap gejala depresi. Ia akan cenderung menarik diri dari lingkungannya serta mengalami penurunan dalam kinerja akademis daripada sebelumnya"
"Aku sempat berada di titik itu saat berada di secondary school "
__ADS_1
"Dibalik depresi yang berada di titik terendah, biasa nya anak-anak seperti aku akan lari ke pergaulan yang salah, minum, merokok, ke diskotik atau bahkan melakukan hubungan sek..sualisme dengan sembarang pasangan karena dampak depresi itu sendiri, apalagi budaya barat jauh berbeda dengan budaya Asia"
aishe tertawa sambil membuang nafas nya pelan.
"Tapi lucunya, akal sehat kadangkala menekan diri kita untuk jangan melakukan nya, saat fikiran buruk mengeranyangi diri ku, seketika kesadaran menampar ku Seolah berteriak Come aishe jangan lari dari kenyataan, dibanding kamu diluaran sana ada yang lebih tragis kisah hidupnya, kamu punya uang, punya skill luar biasa, nilai-nilai akademis yang baik, semua orang iri dengan kemampuan mu, bahkan laki-laki banyak yang menyukai mu, kamu terlalu berharga untuk menghancurkan masa depan mu, semua orang pasti begitu senang melihat hancur nya diri mu, bahkan para laki-laki akan mencemooh dan berkata aishe harga nya tidak lebih dari 5 jari"
Aishe kembali tertawa.
"Padahal di luaran sana ada banyak orang yang hidupnya lebih menderita dari pada diri mu, kehilangan orang tua, tidak punya apa-apa, bahkan bisa jadi terlunta-lunta dipinggir jalan demi mencari sesuap nasi, lalu kenapa kamu tidak berterima kasih atas apa yang diberikan sang pencipta kepada mu?"
seketika Aishe diam lantas kembali terus menatap kedepan.
"Karena itu karakter mu tercipta begitu kuat? tidak suka ditindas?"
Murat bertanya sambil terus menatap dalam wajah aishe.
"Mungkin, bisa jadi, sebab setiap kali aku menangis kakak akan berkata berhenti lah menangis, karena pada akhirnya air mata yang tumpah akan menjadi sia-sia"
ucap Aishe kemudian melirik ke arah murat.
"Tapi kadang kakak ku lupa soal, jika aku hanyalah seorang gadis biasa"
__ADS_1
lantas Aishe membuang pandangannya, menarik nafasnya beberapa waktu tanpa kata-kata, Murat dengan ragu-ragu mencoba menyentuh bahu Aishe, sepersekian detik kemudian secara berlahan dia memeluk aishe dari arah samping kanannya, meletakkan kepala Aishe tepat dibawah dagunya.