
Setelah keputusan sudah di buat, Kak Dania, bang Khalid dan Shanum pun pulang ke rumah dengan mobil bang Khalid. Sedangkan mobil Shanum di tinggal karena mulai besok Shanum akan diantar jemput oleh supir keluarga al-fathir.
Untuk Shaka mereka memutuskan untuk menginap di rumah opa dan Oma nya.
Syera, Zafira dan Khanza yang sudah penasaran dari tadi segera minta penjelasan setelah sang kakak dan kakak iparnya pulang.
Akhirnya Ayah Rayyan pun menceritakan kepada mereka tentang Shanum dan juga Sakha.
" Kalau aku jadi Shanum sudah aku terima Bayu dari dulu. Apa coba kurangnya Bayu, ganteng, punya jabatan bagus,, postur tubuhnya bagus, anak seorang pengusaha terkenal, ayah bersahabat sama Opa lagi coba kurang apa lagi." ucap Khanza membanggakan Bayu tanpa dia sadar di sebelahnya sudah memasang wajah jutek.
" Za kamu nggak lihat sebelah kamu sudah pasang wajah sangar. " Celetuk Zafira melihat kembarannya sudah memasang wajah kesal.
Khanza menengok kearah suaminya sambil nyengir kuda.
****
Sesuai permintaan Opa Gibran kini semua sedang berkumpul di restoran milik Oma Khayra yang saat ini di pegang oleh Tante Zafira.
Oma khayra dan Opa Gibran datang lebih dulu bersama dengan Sakha.
Tak lama kak Dania datang bersama dengan suami dan anaknya. Mereka datang bersamaan dengan orang tua, kakak dan adik bang Khalid juga bibi dan orang tua dan wanita itu.
Opa Gibran pun mempersilahkan mereka duduk dan Opa Gibran mengajak mereka makan siang terlebih dahulu.
__ADS_1
Sedangkan bibinya bang Khalid, wanita itu dan orang tuanya mereka besar kepala. Mereka berpikir kalau Opa dan Omanya Sakha setuju dengan bibinya bang Khalid.
Setelah makan opa Gibran memulai untuk membuka obrolan.
" Selamat malam semuanya terima kasih karena sudah meluangkan waktu karena sudah meluangkan waktu untuk datang." Ucap Opa.
" Malam juga pak Gibran, tentu saja kami harus bisa meluangkan waktu untuk datang ke sini " ucap bibinya bang Khalid.
" Maaf, ibu siapa ya?." Tanya Opa Gibran yang pura-pura tidak tahu.
" Saya Hamidah, saya bibinya Khalid. Dan ini nama suri dan kedua orang itu adalah orang tua suri. Jadi saya itu mau Sakha itu menikah dengan suri dari pada dengan wanita yang sekarang siapa namanya kalau nggak salah Gadis ya. Namanya Gadis tapi nggak tahu masih gadis atau nggak." Cibir bibinya bang Khalid.
" Namanya juga orang kota siapa yang tahu." Tambah suri yang ikut mencibir Gadis.
" Iya betul sangat tidak cocok , dan lebih cocok itu kamu suri iya kan." ucap bibinya bang Khalid.
" Tentu saja dong bi, aku kan cantik." Ucap suri percaya diri.
" Memangnya apa kelebihan suri ini sampai Bu Hamidah begitu yakin kalau suri ini cocok menjadi istri cucu saya, ingat cucu saya." Tanya Oma khayra yang sudah sebal melihat mereka.
" Itu sudah jelas lah cocok, pokoknya Sakha hanya boleh menikah dengan suri. "
" Suri lulusan apa?." tanya Oma khayra.
__ADS_1
" SMA." jawab suri.
" Sekarang kuliah atau kerja." Tanya Oma khayra lagi.
" Nggak kerja."
" Orang tuanya suri kerja apa?." Tanya Oma khayra kesekian kalinya.
" Me... Mereka.."
" Mereka punya usaha." Jawab bibinya Khalid yang melihat suri kesulitan jawab.
" Usaha apa?."
" Usaha...."
" Saya tanya dengan orang tua suri bukan dengan anda Bu Hamidah." Ucap Oma Khayra dingin.
" Sa... Saya Bu..buka usaha." Jawab bapaknya suri bingung mencoba melihat kearah bibinya bang Khalid.
" Mereka punya usaha furniture."
" Maaf Bu Hamidah kok tahu banget ya, sedangkan orang tua suri sendiri saya nggak bisa jawab." Ucap Oma Khayra sambil menatap tajam bibinya bang Khalid.
__ADS_1