
" Itu loh, Kalau nggak salah itu namanya Bayu Ragil Bagaskara Hartono, dia reserse ya sha." tanya Opa nya
Deg...
" Kok opa bisa tahu nama lengkap cowok nyebelin itu sih." gumam Shanum dalam hati.
" Opa kenal?." Bukannya menjawab Shanum justru bertanya balik ke opa kesayangannya itu.
" Sudah pasti kenal dan siapa yang tak mengenal keluarga Hartono. Opanya rekan bisnis Opa sekaligus sahabat opa." Jawab Deddy Gibran.
" Oh..."
" Kok oh doang Sha." Ledek Zafira.
" Lah terus aku harus ngomong apa Tante Fira."
" Kan opa tanya gimana kedekatan kamu sama Bayu."
" Ya nggak gimana-gimana Tante, Sha ketemu kalau sedang nangani kasus aja dan nggak ada gimana-gimana." Jawab Shanum.
" Yakin." Goda Zafira lagi.
" Yakin lah Tante."
" Serius katanya Bayu itu ganteng ya." Zafira makin menggoda keponakannya.
" Ih...Tante nyebelin." rengek Shanum sebal.
Semua di sana pun tertawa melihat kekesalan Shanum yang di goda oleh tantenya.
Kini ruangan tengah rumah kakek Azzam hanya tinggal orang dewasa dan juga Saralee anak bungsunya Rayyan dan Syera. Sedangkan yang lainnya sudah pergi ke asrama santri dan santriwati. Karena mereka akan menginap di sana satu malam.
Saat kakak-kakaknya akan berangkat ke asrama santri dan santriwati. Saralee menangis karena ingin ikut kakak-kakaknya tapi Rayyan maupun Syera tak mengizinkan untuk ikut.
Akhirnya Rayyan pun mencoba membujuk putri bungsunya untuk berhenti menangis. Makanya Rayyan pun mengajak Sara untuk membeli martabak kesukaannya.
__ADS_1
" Kita beli martabak aja mau nggak." Ucap Rayyan.
" Mau...ta..tapi mau ke kakak." Ucap Saralee yang masih ingin ikut sama kakaknya.
" Kalau mau martabak jangan lagi merengek minta ikut kakak Zee."
Saralee pun berpikir sejenak lalu mengangguk.
" Ayo." Ajak Rayyan ke putri bungsunya.
" kita jalan kaki aja ya."
Ayah dan anak itu pun jalan kaki menuju gerbang pesantren. Kebetulan yang jual martabak berada di depan pesantren.
Kini ayah dan anak itu pun sudah sampai di penjual martabak.
" Assalamualaikum." Rayyan mengucapkan salam begitu sampai di tempat martabak.
" Walaikum salam Gus, lagi ada di sini Gus." Tanya penjual martabak yang merupakan teman seangkatan Rayyan dulu di pesantren.
" Iya di, biasa ngunap kakek dan nenek kangen cicitnya. Oh iya di aku mau pesan martabak dong." Ucap Rayyan.
" Sayang mau martabak apa nak?." Tanya Rayyan ke anaknya.
" Om martabaknya ada warna apa aja?." Tanya Saralee ke soabi.
" Ada yang biasa, coklat, merah sama hijau." Jawab soabi.
" Anak nomor berapa Gus?." Tanya soabi
" Anak ke empat tapi kelahiran ke dua."
" Maksudnya?."
" Iya, anak yang pertama kan kembar tiga dan ini yang kedua. Jadi aku sudah punya anak empat." kekeh Rayyan.
__ADS_1
" Wah, mau nambah lagi Gus."
" Sudah stop sudah dapat dua laki-laki dan dua perempuan." Jawab Rayyan.
Saralee yang merasa di cuekin oleh dua orang dewasa dihadapannya. Saralee pun menarik ujung baju ayahnya.
" Apa sayang?." Tanya Rayyan karena anaknya menarik-narik baju nya.
" Ayah mau sampai kapan ngobrolnya sara belum pesan loh martabak nya." Protes si bungsu.
Rayyan dan soabi terkekeh melihat sara protes.
" Baiklah Ning mau rasa apa?." Tanya soabi.
" Yang biasa coklat kacang buat kakek buyut, yang merah coklat keju, yang hijau keju aja 1 sama Nutella 1 terus yang coklat kejunya aja 1 terus sama Nutella kacang 1. Udah itu aja." Jawab Saralee.
Rayyan hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar pesanan putrinya yang lumayan banyak.
" Banyak banget sayang." Ucap Rayyan sambil mengelus kepala putrinya.
" Ayah lupa ya? kan ada kakek buyut, nenek buyut, Oma, Opa, nenek Zafra, kakek Alif, ayah, bunda, Tante Dania, om Khalid, om sakti, Tante Amara,om Bagas, Tante Fira, om Zafran, Tante Khanza, aku." Jawab Saralee sambil mengabsen satu persatu.
" Oh iya lupa martabak telur nya belum yah, Beli berapa ya?." Ucap Saralee bergaya seolah sedang berpikir.
" Kita beli tiga aja ya." Ucap Rayyan dan Saralee pun mengangguk.
" Oh iya lupa lagi."
" Apalagi?."
" Bapak-bapak security nggak di beliin ayah.'
" Iya nanti kita beliin juga."
" Oke." Jawabnya yang langsung duduk di kursi yang memang sudah di sediakan.
__ADS_1
Karena pesanan yang banyak soabi pun memanggil seseorang dan tak lama muncul seorang laki-laki yang membantu soabi.
" Siapa bi? Anak!."