
Selesai menelpon suaminya Breeze meminum vitamin dan juga meminum susu hamil yang tadi di beli oleh bunda Syera saat mereka pulang ke rumah.
Tok... Tok....
" Kak kita masuk ya." Ucap mezzaluna dan Saralee.
Breeze pun mempersilahkan adik dan juga adik iparnya masuk ke dalam kamarnya.
" Kak, kita tidur di sini ya." Ucap Saralee.
" Terus yang lainnya pada tidur dimana?." Tanya Breeze yang baru ingat kalau di rumah dinas hanya ada dua kamar saja.
" Mama dan papa tidur di kamar sebelah kalau yang lainnya kembali ke villa." Jawab mezzaluna.
Setelah tahu kalau kedua orang tuanya, opa dan Oma juga kakek dan neneknya tidur di villa milik keluarga al-fathir. Breeze pun merasa lega dan membiarkan adik dan adik iparnya tidur dengannya.
****
Setelah menelpon istrinya dan mendapatkan berita bahagia, Ghaizan terus saja mengembangkan senyumnya di wajahnya. Apalagi setelah istrinya mengirim foto USG anaknya. Dan ghaizan terus saja memandangi ponselnya menampilkan gambar foto USG anaknya sambil senyum sendiri.
Teman-teman Ghaizan menatap Ghaizan aneh, bagaimana tidak! Ghaizan yang terkenal dengan manusia dingin dan juga kaku.
__ADS_1
Kini tiba-tiba senyum-senyum sendiri.
" Bang, si Ghaizan kenapa tuh senyum-senyum sendiri." Tanya Edo.
" Iya ya, nggak lagi kesambet kan ." Timpal Rino.
" Hush... Nggak boleh begitu." Ucap bang Heru.
Tak lama Ghaizan pun datang dan kembali berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Ghaizan duduk di samping Edo, tiba-tiba Edo meletakkan telapak tangannya ke kening Ghaizan.
" Nggak panas." Ucap Edo.
Sedangkan teman-temannya yang lain hanya tertawa.
" Kamu kenapa ghai tadi di sana senyum-senyum sendiri." Tanya bang Soleh.
" Oh itu aku habis menelpon istri bang, dan aku dapat kabar bahagia makanya aku senyum-senyum."
" Kabar apa ghai?." Tanya Edo.
" Alhamdulillah istri aku hamil? Tadi pas kita meninggalkan batalyon istri aku pingsan dan pas di cek ternyata istri aku sedang hamil." Ucap Ghaizan sambil tersenyum.
__ADS_1
" Wah... Selamat ghai, akhirnya jadi ayah juga." Ucap Edo.
" Iya ghai selamat ya, sudah berapa bulan?." Tanya bang Heru.
" Alhamdulillah sudah sembilan Minggu " jawab Ghaizan.
" Kaya nya pulang dari sini nanti langsung di sambut dong sama buah hati."
Tiba-tiba wajah Ghaizan berubah setelah mendengar omongan bang Rifan. Berarti selama kehamilan istrinya Ghaizan nggak bisa mendampingi. Dan bisa jadi saat istrinya melahirkan dia masih bertugas.
Bang Heru yang melihat perubahan di wajah Ghaizan setelah mendengar omongan dari rekannya bang Rifan.
Karena sudah malam mereka pun kembali ke barak masing-masing. Tapi sebelum masuk ke barak bang Heru menepuk pundak Ghaizan agar berjalan lebih lambat dan membiarkan rekan-rekannya masuk ke barak terlebih dahulu.
" Jangan sedih semua prajurit pasti pernah mengalami hal tersebut. Sedih sudah pasti sedih tidak bisa mendampingi istri kita selama kehamilan. Aku memang belum pernah mengalami hal tersebut. Tapi aku pernah di tugaskan ke Libanon selama dua tahun. saat berangkat anak bungsuku berusia dua bulan. Dan sering kami melakukan video call agar anak aku mengenali bapaknya. Tapi tetap saja begitu pulang anak aku nggak mengenali aku. Dan itu konsekuensinya Namun itu hanya terjadi sesaat setelah itu malah lengket lagi ke aku." Jelas bang Heru.
" Aku juga pernah di posisi kamu ghai, saat itu aku pergi tugas saat istriku akan melahirkan dua Minggu lagi. Memang berat membayangkan istri kita berjuang sendirian tanpa kita. Tapi itu sudah menjadi konsekuensi buat kita." Ucap bang Soleh.
" Kamu jangan bersedih justru itu bisa menjadikan untuk kita apakah istri kita memang pantas untuk menjadi istri seorang abdi negara. Karena pada dasarnya seorang istri abdi negara memang harus menjadi super women saat suaminya pergi bertugas. Saya belum pernah mendampingi istri saya melahirkan dari anak pertama sampai anak ketiga . Jadi jangan pernah merasa bersedih dan jangan merasa bersalah." Tutur bang Noel atasan mereka
.
__ADS_1