
Sore harinya breeze pun pergi ke rumah sakit bersama mama Amara dan bunda Syera. Sebenarnya semuanya ingin ikut mengantar tapi breeze nggak mau.
Hanya menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit mobil yang di Kendarai bunda Syera pun sampai di rumah sakit. Masuk ke rumah sakit bunda Syera pun langsung mendaftarkan Breeze. Setelah mendaftar baru mereka menuju ke poli obgyn, beruntung tidak begitu banyak yang antri hanya ada tiga orang saja yang menunggu untuk di periksa.
" Nyonya Breeze." Panggil perawat.
Breeze bersama bunda dan mama mertua pun langsung menghampiri perawat.
" Saya Breeze sus."
" Oh iya, silahkan masuk." Perawat mempersilahkan kami untuk masuk.
" Selamat sore silahkan duduk." Ucap dokter obgyn yang kalau di lihat seumuran dengan bunda Syera.
" Terima kasih dok." Kami pun duduk di depan dokter yang bernama dokter Raisa.
" Maaf Sebelumnya saya mau tanya, anda syera bukan dulu pernah sekolah di pesantren Al-Hikmah, cucunya ustad Soleh dan ustadzah Jasmine." Tanya dokter ke bunda Syera.
" Iya saya syera kok dokter bisa kenal dengan saya." Jawab bunda Syera sambil mengingat-ingat siapa dokter yang di hadapannya.
" Ya Allah Syera kamu sudah melupakan aku, padahal kita satu kamar loh. Aku Raisa."
" Ya Allah Raisa lama sekali ya kita nggak ketemu terakhir lulus sekolah dulu." Bunda Syera memeluk sahabatnya jaman sekolah.
" Nggak nyangka sekarang kamu jadi dokter sa, tapi kenapa kamu nggak main ke pesantren sih padahal kan nggak begitu jauh pulang pergi juga bisa."
__ADS_1
" Sorry bukannya nggak mau main tapi aku juga baru pindah ke Bandung. Lulus dari pesantren aku pulang ke Yogya dan kuliah di sana. Setelah lulus aku nikah sama teman satu kampus terus kami lanjut ambil specialist di Jerman. Sepuluh tahun tinggal di Jerman pindah ke Singapura dan baru tiga bulan aku pindah ke sini."
" Ilmi sama Nike pasti senang bisa ketemu dengan kamu."
" Oh iya, keasikan ngobrol sampai lupa, siapa yang mau di periksa." Tanya dokter Raisa.
" Astaghfirullahaladzim sampai lupa, aku ke sini kamu nganterin putri aku untuk periksa."
" Oh ini anak kamu syera?."
" Breeze, Tante. tapi panggil aja Zee." Breeze memperkenalkan diri ke dokter Raisa yang ternyata sahabat bundanya.
" Hallo cantik, senangnya bisa berkenalan." Ucap dokter Raisa.
" Amara."
" Raisa.'
" Jadi kenapa nih si cantik."
" Gini sa, tadi pagi tiba-tiba anakku pingsan dan pas di periksa menurut dokter anak aku hamil."
" Baiklah kita periksa dulu ya." Dokter Raisa meminta perawat untuk membantu Breeze untuk berbaring di brankar.
" Kita mulai periksa ya." Dokter Raisa mulai mengoleskan gel lalu dokter Raisa menempelkan sebuah alat.
__ADS_1
" Silahkan bisa di lihat di monitor dan memang benar nak Zee memang sedang hamil dan usia kandungannya sekitar sembilan Minggu."
" Sembilan Minggu sa, sudah dua bulan lebih kok bisa kita nggak ngeh ya." Potong bunda Syera.
" Dan selamat ya kalian bisa lihat ada dua titik hitam menandakan kalau nak Zee hamil anak kembar. Tapi memang keturunan kak sye adik ipar kamu juga kembar kan." Ucap dokter Syera.
" Iya tapi, Zee sendiri juga kembar malah kembar tiga." Jawab bunda Syera.
" Kamu hamil kembar tiga." Bunda Syera mengangguk.
Setelah di periksa mereka pun kembali ke meja dokter.
" Nak Zee ada keluhan."
Breeze menggeleng.
" Justru itu sa, tadi pagi saat mengantar suaminya yang mau tugas di papua biasa aja. Begitu suaminya sudah pergi dan kita mau pulang tiba-tiba pingsan." Jawab bunda Syera.
" Mungkin anak di dalam kandungan sangat pengertian, mungkin kalau nak Zee dan suami tahu lebih dulu, pasti suaminya akan bimbang untuk meninggalkan mbak Zee untuk bertugas. Kalau boleh tahu kerja apa?."
" Tentara dok." Jawab Breeze.
" Ya sudah nanti saya resep kan vitamin dan obat mual kalau nanti nak Zee mengalami mual."
Setelah itu mereka pun pamitan dan tidak lupa bunda syera dan dokter Raisa bertukaran nomor telepon.
__ADS_1