
Karena pesanan yang banyak soabi pun memanggil seseorang dan tak lama muncul seorang laki-laki yang membantu soabi.
" Siapa bi? Anak!." Tanya Rayyan.
" Oh ini, bukan anak aku mah masih kecil Gus. Kalau ini namanya Galang dia ngebantuin di sini. Dia sama ibu dan adiknya baru pindah dan ngontrak punya Abah aku." Jelas Soabi.
" Umur berapa?." Tanya Rayyan.
" Dia masih SMP kelas tiga cuma dia berhenti sekolah."
" Kenapa berhenti?." tanya Rayyan ke anak itu.
" Karena nggak punya biaya." Jawab anak itu pelan.
" Dulu mereka tinggal di dekat rumah Abang aku Gus. Tapi dia, bersama ibu dan dua adiknya di usir oleh bapaknya karena bapaknya punya wanita lain. Padahal dulu mereka baik-baik saja tapi saat dia sudah menduduki jabatan sebagai manajer sebuah supermarket mulai berubah. Bapaknya mulai menjalin hubungan dengan wanita lain dan sering membawa wanita itu ke rumah. dan tak jarang bapaknya memukul ibu dan anak-anaknya. Makanya saat di usir dan nggak tahu mau kemana karena ibunya hanya sebatang kara tak punya sanak saudara. Kakak aku yang kasihan lalu membawa mereka ke sini dan tinggal di kontrakan milik Abah. Ibunya kerja bantu bersih-bersih di rumah Abah di suruh umi. Sedangkan Galang awalnya di berjualan asongan di jalanan. saya nggak tega saya ajak bantuin saya di sini dan kalau siang bantuin Abah di pemancingan." Jelas Soabi.
" Galang..." Panggil Rayyan. " Kamu masih mau sekolah." tanya Rayyan.
" Mau " Jawabnya pelan.
" Adik kamu sekolah."
__ADS_1
Galang menggeleng
" Kalau sekolah adik kamu kelas berapa aja?."
" Yang kedua harusnya kelas enam dan kelas empat."
" Kalau sekolah di pesantren kamu mau nggak." tanya Rayyan.
" Kalau aku tinggal di pesantren kasihan ibu."
" Kan nggak harus tinggal di pesantren kamu hanya sekolah aja. mau ya." ucap Rayyan.
" Nggak om malah senang bisa bantu kamu, besok pagi kamu bisa datang ke pesantren bawa juga adik kamu. Nanti kamu bilang ke security bilang di suruh om Rayyan ke sini gitu." ucap Rayyan.
" Iya om."
Setelah martabak pesanannya jadi Rayyan pun mengajak anaknya pulang. Dan mereka berdua berhenti dulu di pintu gerbang karena Saralee ingin memberikan martabak ke security. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya menuju rumah kakek dan nenek.
" Ayah dari mana? Kok nggak ngajak Zee." Ucap Breeze yang sedang bersedekap melihat ke ayah dan anaknya.
Breeze yang memang sudah berada di asrama santriwati tapi dia baru ingat kalau dia lupa membawa boneka kesayangan. Karena itu dia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah kakek dan nenek buyutnya.
__ADS_1
Tapi saat akan ke rumah kakek dan nenek buyutnya, Breeze melihat dua orang yang sangat dia kenali sedang berjalan. Breeze yang melihat itu langsung berdiri sambil bersedekap menunggu ayah dan adiknya.
" Aku sama ayah habis beli martabak dong." Jawab Saralee sambil memperlihatkan kantung yang berisi satu kotak martabak.
" Kok kakak nggak di ajak sih ayah mah gitu." Rengek Breeze yang langsung memeluk ayahnya.
" Kan kamu tadi di asrama! ayah ajak adik kamu beli martabak karena tadi dia nangis karena mau ikut kamu ke asrama." ucap Rayyan lembut.
" Tapi kan Zee juga mau martabak."
" Adek beli banyak kok kak! Iya kan yah." ucap Saralee.
" Iya, Ya udah yuk masuk." Ajak Rayyan membawa kedua putrinya masuk.
Saralee dan Breeze langsung memakan martabaknya, Memang martabak makanan kesukaan kedua anak perempuannya. Dan Rayyan sudah hapal rasa apa saja favorit anaknya.
" Kak tadi bukannya kamu pulang mau ngambil boneka kamu terus kenapa nggak balik lagi ke asrama." Tanya putrinya yang kini sedang tiduran berbantalan paha ayahnya.
" Nggak deh yah Zee kekenyangan jadi malas jalan." ucap Breeze.
" Dasar ." Rayyan langsung menoel hidup Breeze.
__ADS_1