
Ghaizan sudah sampai di Papua sore hari dan langsung menelpon istrinya. Sudah berapa kali Ghaizan menelpon tapi nggak juga di angkat oleh istrinya. Bahkan Ghaizan juga mencoba menelpon kedua orang tuanya, kedua besarnya, opa dan Oma, kakek dan nenek, adiknya dan juga adik iparnya sama dengan sang istri semuanya tidak ada yang mengangkat telponnya.
" Pada kemana sih di telpon semuanya nggak ada yang angkat, apa terjadi sesuatu ya? Astaghfirullahaladzim kenapa jadi berpikiran yang nggak-nggak." Gumam Ghaizan dalam hati.
" Kamu kenapa ghai?." Tanya pak Soleh yang melihat Ghaizan uring-uringan.
" Nggak apa-apa bang, cuma aku telpon istri aku dan semua orang rumah tapi nggak ada yang angkat.
" Nanti coba aku tanya istri ku istri kamu ada di rumah atau nggak." Pak Soleh pun langsung menelpon istrinya.
" Gimana bang?."
" Ada semua di rumah kamu cuma istri kamu pergi bersama mama kau dan mertua kamu. Dan tadi juga kata istri aku setelah mobil kita meninggalkan batalyon istri kamu pingsan."
" Apa bang pingsan." Tanya ghaizan terkejut.
" Sudah jangan berpikiran yang nggak baik, kamu cukup doakan kalau nggak ada apa-apa. Sekarang kita siap-siap shalat magrib nanti baru telpon lagi, siapa tahu nanti telpon kamu di angkat." Ajak pak Soleh.
__ADS_1
****
Breeze yang ternyata memang sudah sekongkol dengan yang lainnya untuk tidak mengangkat telpon suaminya. Karena Breeze ingin memberi kejutan ke suaminya dengan memperlihatkan foto USG nya.
Habis shalat magrib Breeze menunggu telpon dari Ghaizan tapi ghaizan tak juga kunjung menelponnya.
" Sayang kok ayah kamu nggak nelpon bunda lagi ya." Ucap Breeze sambil mengusap perutnya yang masih rata.
" Sayang kamu kenapa? Yuk kita makan malam dulu." Ucap mama Amara yang menghampiri Breeze di kamarnya untuk mengajak makan malam.
" Kok mas ghai belum nelpon Breeze lagi ya mah. apa mas ghai marah ya." Ucap Breeze sedih.
Dengan perasaan yang sedih Breeze pun mengikuti mama mertuanya.
" Makan dulu sayang, kamu mau makan pakai apa?." Tanya bunda Syera.
" Ayam goreng sama sayur bayam aja Bun." Jawab Syera.
__ADS_1
Bunda Syera mengambilkan makanan untuk putrinya. " Makan yang banyak sayang, kalau kamu kepingin makan apa bilang ke kita." Ucap bunda Syera sambil memberikan piring yang sudah berisikan nasi, ayam goreng dan sayur bayam.
Breeze pun menerima piring yang di berikan oleh Bundanya dan mulai memakannya.
Selesai makan Breeze pun kembali ke kamarnya dan menunggu suaminya menelpon.
Dan benar saja baru Breeze naik ke atas ranjang dan menyenderkan tubuhnya di headboard tempat tidur. Ponsel Breeze berdering dan nama suaminya yang tertera di layar ponselnya.
" Assalamualaikum mas."
" Walaikum salam sayang kamu dari mana aja sih! Mas telponin dari tadi nggak diangkat-angkat. Yang lainnya juga nggak ada yang ngangkat telpon mas. Tadi juga kata istri bang Soleh kamu pingsan setelah mas pergi, kenapa bisa pingsan? Kamu sakit? Kalau sakit kenapa nggak bilang ke mas sebelum mas berangkat?"
Breeze hanya bisa memijat pelipisnya mendengar serentetan pertanyaan yang di layangkan oleh suaminya.
" Sayang... Kamu masih di sana kan, kamu masih dengerin mas kan."
" Gimana aku mau ngomong, orang mas aja ngomong terus."
__ADS_1
" Maaf... Maaf habisnya mas tuh khawatir banget sama kamu."
" Mas... Kangen! Mas video call aja ya."