
Sudah mendekati hari kelahiran kedua calon kakek dan nenek sudah berada di kota Bandung untuk menemani Breeze. Dan mereka ingin menjadi orang yang pertama melihat cucunya.
Pagi ini Breeze di temani mama Amara untuk jalan pagi keliling komplek rumah dinas. Sedangkan bunda Syera sibuk membuat sarapan.
" Pagi mbak Zee lagi jalan pagi." Tanya mbak Pinkan istri senior nya mas Ghaizan.
" Iya mbak Pinkan,"
" Oh iya, sudah lihat grup pagi ini." Tanya mbak Pinkan.
" Ada apa ya mbak? Dari bangun tidur belum pegang ponsel." Tanya Breeze penasaran.
" Dapat info kalau pasukan yang di tugaskan di Papua akan di tarik besok. Jadi besok mereka akan pulang kembali ke sini." Ucap mbak Pinkan.
" Alhamdulillah kalau akan pulang lagi ke sini." Ucap Breeze.
" Iya Zee, akhirnya suami kita pulang lagi semoga mereka besok selamat sampai kembali lagi ke sini. Dan suami kamu bisa menemani kamu lahiran nanti." Ucap mbak Pinkan.
" Amin mbak."
__ADS_1
Breeze merasa bahagia setelah mendengar berita dari mbak Pinkan. Mudah-mudahan keinginan dirinya yang ingin melahirkan di temani suaminya.
" Kamu bahagia sayang?." Tanya mama Amara saat mereka meneruskan jalan kembali.
" Bahagia banget mah."
Dan tidak hanya Breeze yang bahagia karena berita kepulangan Ghaizan tapi seluruh keluarga juga senang mendengar berita kepulangan Ghaizan.
****
Semalaman Breeze sama sekali tidak bisa tidur dan dari semalam dirinya merasakan perutnya sakit dan juga mulas. Tapi Breeze tidak memberitahukan ke kedua orang tua atau kedua mertuanya.
Bahkan sampai habis magrib Breeze masih menahan rasa sakitnya. Sampai dia merasakan ada yang mengalir di kakinya.
" Mami... Mama...." Panggil Breeze panik.
" Ada apa sayang."
Mami Zafira yang melihat ada air yang mengalir di kaki putri langsung meminta suami dan juga kakaknya untuk membawa Breeze ke rumah sakit. Awalnya Breeze menolak dan bersikeras menunggu suaminya. Setelah papi Bagas yang memintanya dengan tegas akhirnya Breeze pun pasrah.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit Breeze langsung di bawa ke ruangan bersalin karena ketubannya sudah pecah. Dan setelah di periksa oleh dokter kandungan sudah pembukaan delapan.
Sedangkan di batalyon pasukan yang di tugaskan di Papua pun tiba di batalyon. Satu persatu pasukan turun dari truk di sambut oleh keluarga mereka.
Ghaizan yang turun dari truk langsung mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya.
" Mas Ghaizan." Panggil mang Dayat supir keluarga al-fathir.
" Loh kok mang Dayat ada di sini, istri aku mana mang? " Tanya Ghaizan.
" Mbak Zee ada di rumah sakit mas, mbak Zee sudah mau melahirkan lebih baik sekarang kita langsung saja ke rumah sakit." Ucap mang Dayat.
Ghaizan yang mendengar istrinya mau melahirkan pun menjadi panik, setelah meminta izin dan berpamitan dengan komandannya. Ghaizan dan mang Dayat pun langsung berangkat menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan ghaizan tak henti-hentinya berdoa untuk kelancaran istrinya melahirkan.
Sampai di rumah sakit Ghaizan langsung menuju ke rumah sakit.
" Mama, mami , papa , papi Zee mana." Tanya Ghaizan yang tampak sudah berantakan selain karena baru tiba dari perjalanan jauh di tambah istrinya akan melahirkan putra mereka.
" Kamu masuk ke dalam sana, Zee sudah mau melahirkan pembukaannya sudah lengkap." Mami Zafira meminta Ghaizan untuk masuk ke dalam ruangan bersalin.
__ADS_1