Rayyan

Rayyan
73. Rumah kakek


__ADS_3

Hari ini Rayyan marah besar setelah mendengar bahwa rumah kakek dan nenek istrinya tiba-tiba di jual.


Setelah kakek dan neneknya Syera meninggal dunia, Syera memutuskan untuk menyewakan rumah kakek dan nenek. Menurut Syera dari pada kosong lebih baik di sewakan saja.


Tapi setelah lima tahun rumah itu di sewakan Syera dan Rayyan mendapatkan berita yang sangat tidak mengenakkan. Rayyan menyuruh orangnya untuk mencari orang yang Sebelumnya menyewa rumah kakeknya Syera. Karena orang itu yang memalsukan surat tanah milik kakeknya Syera.


Rayyan dan Syera di temani pengacara mendatangi rumah kakeknya Syera yang sudah di beli oleh seseorang.


" Assalamualaikum..."


" Walaikum salam...." Suara seorang yang menjawab salamnya dari dalam.


Dan keluarlah sosok wanita paruh baya menghampiri mereka.


" Maaf mau cari siapa?." Tanya wanita paruh baya tersebut.


" Sebelumnya maaf, perkenalkan nama saya Syera dan ini suami saya Rayyan dan ini Riski dan Tya." Ucap Syera memperkenalkan diri." Saya ke sini mau bertemu dengan pemilik rumah ini."


" Oh iya mari masuk." Ajak wanita itu mengajak mereka masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Mereka pun masuk, Syera langsung mengedarkan pandangannya melihat sekeliling rumah. Isinya masih sama tak ada yang berubah hanya foto-foto yang menghiasi rumah tersebut tidak ada. Rayyan langsung menggenggam tangan Syera untuk menguatkan dirinya.


Wanita paru baya itu pun menyuruh mereka untuk duduk. Setelah itu wanita itu pun pamit pergi masuk ke dalam. Tak lama wanita itu pun keluar dengan membawa nampan berisikan minuman dan di dampingi oleh laki-laki paruh baya dan juga seorang pemuda laki-laki.


" Silahkan di minum, maaf seadanya?." ucap wanita itu.


" Oh iya maaf belum memperkenalkan diri, Saya Rukmini dan ini suami saya Agus dan ini putra saya Andhika." ucap wanita itu memperkenalkan keluarganya.


" Oh maaf pak Agus dan mas Andhika saya Rayyan dan ini istri saya Syera dan ini Tya dan Riski. Maaf kalau kedatangan kami mengganggu pak Agus dan keluarga. Tapi sebelumnya Saya boleh tahu bapak membeli rumah ini dari siapa?." Tanya Rayyan sopan.


Pak Agus, Bu Rukmini dan anaknya Andhika saling pandang.


" Sebenarnya ada apa ya pak?." ucap pak Agus yang entah kenapa perasaannya menjadi tak enak.


" Kami kaget saat ada yang bilang seperti itu, bagaimana rumah itu di jual dan di beli pak Agus dan keluarga. Kalau istri saya masih memegang sertifikat rumah ini dan tak pernah menjualnya." sambung Rayyan yang membuat pak Agus dan keluarganya kaget.


" Maaf pak tapi saya beli rumah ini ada kok suratnya." ucap Andhika." Tunggu pak saya ambil suratnya dulu." Andhika beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah. Tak lama Andhika pun kembali membawa surat-surat yang di maksud.


" Ini pak coba bapak lihat." ucap Andhika.

__ADS_1


Rayyan pun melihat sertifikat yang di miliki oleh Andhika.


" Saya membeli rumah itu dari pak Edo dan saya memang belum sempat balik nama karena uangnya nggak cukup."


" Maaf mas Andhika saya berprofesi sebagai notaris tapi saya lihat ini itu sertifikat asli tapi palsu." Ujar Tya yang memang seorang notaris.


" Masa, Kalian nggak mau membohongi kami kan." ucap Andhika lemas.


" Begini saja untuk memastikan bagaimana kalau kita ke departemen pertanahan untuk mengeceknya." Ucap Tya.


Akhirnya mereka pun pergi ke departemen pertanahan untuk mengecek rumah milik kakek dan neneknya Syera.


" Bang Kok aku kasihan ya dengan mereka." Ucap Syera saat di dalam mobil.


" Kamu tenang aja nanti kita diskusikan lagi." jawab Rayyan.


" Apa biarin aja ya bang."


" Yang rumah itu peninggalan dari kakek dan nenek memang kamu nggak mau mempertahankannya."

__ADS_1


" Sye memang berat melepas rumah itu, rumah itu penuh dengan kenangan." ucap Syera sedih.


" Pokoknya kamu tenang aja, Abang juga akan memikirkan nasib mereka bagaimanapun mereka juga korban penipuan." ucap Rayyan menenangkan istrinya.


__ADS_2