
Tak terasa sudah setahun Breeze dan Ghaizan menjalani biduk rumah tangga mereka. Hari ini papa sakti dan mama Amara akan datang dan tinggal sementara dengan mereka. Karena Ghaizan akan di tugaskan ke Papua selama delapan bulan.
Makanya papa sakti dan mama Amara memutuskan menemani menantunya selama Ghaizan bertugas di Papua. Dan papa sakti juga untuk sementara pindah bekerja di kantor cabang al-Fathir corp.
Papa sakti dan mama Amara pun sampai dan ternyata mereka datang dengan kakek dan nenek Ghaizan, opa dan Oma, kedua orang tuanya Breeze, mezzaluna dan juga adik bungsunya Breeze Saralee.
" Ya Allah, kenapa jadi rame gini." Ucap breeze tak menyangka kalau pada datang.
" Kami datang biar kamu nggak begitu sedih di tinggal Ghaizan tugas." Ucap Oma Khayra sambil memeluk cucunya.
Rumah dinas Ghaizan pun ramai karena kedatangan keluarga mereka.
" Kamu sudah masak sayang." Tanya bunda Syera.
" Belum bunda, tadi mas Ghaizan nyuruh Zee nggak usah masak karena nanti mas Ghaizan pulang makan siang sambil beli makan di luar." Jawab Breeze.
" Kamu telpon ghai bilang nggak usah beli makanan kita bawa makanan banyak." Ucap mama Amara.
Breeze pun langsung menelpon suaminya.
" Assalamualaikum mas."
" Walaikum salam ada apa sayang."
" Nggak aku cuma mau ngasih tahu kalau nanti jangan beli makan siang."
__ADS_1
" Kenapa? Kamu masak ya! Kan mas bilang nggak usah masak."
" Aku nggak masak mas, tapi mama dan papa sudah datang sama eyang Kakung, eyang UTI, opa, Oma, ayah bunda, Mezza dan sara. Mereka bawa makanan banyak."
" Oh, kirain kamu yang masak ya sudah sebentar lagi mas pulang, assalamualaikum."
" Walaikum salam."
Setelah menelpon suaminya Breeze pun bergabung dengan yang lainnya. Dan tak lama Ghaizan pun datang.
" Assalamualaikum."
" Walaikum salam."
Ghaizan pun mencium tangan para tetua satu persatu.
" Mama sama papa nggak apa-apa Nemani Zee di sini." Tanya ghaizan.
" Ya Allah nak, nggak apa-apa mama malah senang, jadi kan kamu di sana bisa tenang kalau ada kami." Ucap mama Amara.
" Iya ghai nanti juga bunda bakal sering-sering ke sini buat Nemani Zee. Kamu di sana fokus sama tugas kamu aja." Ucap bunda Syera.
" Iya kak, kakak juga nggak usah mikirin mezza selama mama dan papa di sini aku tinggal di rumah opa dan Oma." Ucap mezzaluna.
" Siapa yang mikirin kamu dek, GeEr." Goda Ghaizan.
__ADS_1
" Haaish.. mas ghai nyebelin." Mezzaluna langsung menekuk wajahnya.
Setelah makan dan shalat Ghaizan pun kembali lagi kerja.
Keesokan harinya Ghaizan sudah bersiap akan berangkat
" Nanti kalau di sana mas ghai jangan lupa kasih kabar! Dan juga jangan lupa jaga kesehatan." Ucap breeze sendu sambil memeluk suaminya dan berusaha untuk tidak meneteskan air matanya.
padahal sudah dari semalam dia menahannya untuk tidak menangis karena tidak mau suaminya merasa berat meninggalkan dirinya untuk bertugas.
" Insyaallah kalau sampai sana dan pas mas senggang, mas pasti akan telpon kamu. " Ghaizan mencium lembut bibir Breeze.
" Tapi mas minta pengertian kamu kalau mas nanti nggak bisa memberi kabar ke kamu atau jarang menelpon kamu. Mas harap kamu jangan marah karena mas kan nggak tahu bagaimana kondisinya saat ini."
" Iya insyaallah Zee pasti akan mengerti asal mas Ghaizan berjanji akan kembali pulang tanpa kurang satu apapun."
" Insyaallah, kamu jaga diri ya sayang, jangan lupa minum vitaminnya."
Setelah berbicara berdua mereka pun berangkat menuju lapangan batalyon. Setelah upacara pelepasan dan para prajurit berpamitan dengan keluarga. Lalu mereka masuk ke mobil yang membawa mereka menuju ke bandara.
Breeze memeluk bundanya begitu barisan mobil meninggalkan batalyon.
" Yuk sayang kita pulang." Ajak bunda Syera.
Breeze mengangguk.
__ADS_1
" Zee..." Teriak bunda Syera.