
Sampai di ruang baca mereka duduk di sofa yang ada di sana. Breeze melihat bunda dan mama mertuanya yang duduk di hadapannya sambil menebak-nebak apa yang akan mereka omongin.
" Zee, kalian kapan pindah ke Bandung?." Tanya Bunda Syera.
" Insyaallah Kamis siang atau Kamis sore."
" Kenapa cepat amat sih." Ucap mama Amara.
" Ya mau gimana lagi! Mas ghai cutinya cuma sebentar dan hari Senin aku juga aku juga harus ke kampus buat daftar ulang. Belum lagi kita harus membersihkan rumah dinasnya mas ghai." Jawab Breeze.
" Kenapa kalian harus di rumah dinas sih."
" Ya nggak apa-apa mah kan kita cuma tinggal berdua saja dan Zee juga mau belajar mandiri mengurus semua kebutuhan suami Zee sendiri."
" Ya sudah terserah kamu, tapi kamu jadikan bawa mobil kamu." Tanya bunda Syera.
" Iya bunda,"
" Oh iya ada yang mama mau omongin mudah-mudahan kamu nggak tersinggung." Ucap mama Amara hati-hati.
" Apa mah?."
" Kamu sama ghai nggak menunda untuk punya momongan kan." Tanya mama Amara takut menantunya tersinggung.
__ADS_1
" Kenapa mama ngomong begitu."
" Nggak, mama cuma takut kalian menundanya karena kamu masih kuliah."
Breeze sangat mengerti ke khawatiran mama mertuanya.
" Alhamdulillah nggak mah, kami nggak menunda untuk memiliki momongan. Lagi pula Zee juga ingin cepat punya momongan jadi nanti kalau anak Zee sudah besar bisa diajak nongkrong bareng-bareng."
" Syukur Alhamdulillah kalau kamu tidak menundanya."
Setelah berbicara dengan bunda dan mama mertuanya, Breeze pun kembali ke kamarnya. Sampai di dalam kamar Breeze melihat suaminya sedang tertidur di atas ranjang. Breeze pun ikut naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di samping suaminya. Dan Breeze memeluk suaminya dari belakang.
Ghaizan yang menunggu istrinya yang sedang bersama mama dan juga bunda, ternyata Ghaizan ketiduran. Sampai akhirnya tidur Ghaizan terganggu karena ada yang memeluknya dari belakang.
" HM..."
Ghaizan berbalik menjadi menghadap ke istrinya.
" Tadi ngomong apa sama mama dan bunda." Tanya ghaizan sambil memeluk istrinya.
" Banyak." Jawab Breeze yang sambil memejamkan matanya.
" Yang jangan tidur dulu dong." Ucap Ghaizan yang melihat istrinya tidur.
__ADS_1
" Ngantuk mas." Jawab Breeze tanpa membukakan matanya.
" Yang jangan tidur dong." Ucap Ghaizan yang meminta istrinya untuk tidak tidur.
" Kenapa sih mas? Aku ngantuk tahu." Ucap Breeze sebal.
" Yang aku udah nunggu kamu dari tadi yang, aku nggak bisa tidur yang kalau adik kecil aku belum kamu tiduri." Ucap Ghaizan.
Breeze yang mendengar kalau suaminya tidak bisa tidur, Breeze pun membuka matanya. Breeze menatap suaminya sambil mengeryitkan keningnya.
" Nggak bisa tidur! Terus tadi apa?."
" Yang tadi itu ketiduran yang." Elak Ghaizan.
Breeze hanya memutar bola mata malas.
" Ayo yang lumayan dua ronde sebelum ayah pulang kantor." Ucap Ghaizan yang langsung mencium istrinya.
Breeze sendiri hanya bisa pasrah karena kalau sudah begitu suaminya sudah tidak bisa di hentikan. Walaupun breeze badannya masih lelah tapi mau gimana lagi.
Pukul empat sore Breeze baru bangun Dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Setelah mandi Breeze langsung shalat ashar terlebih dahulu baru Breeze membangunkan suaminya.
Begitu suaminya masuk ke dalam kamar mandi, Breeze pun menyiapkan pakaian ganti dan juga pakai untuk shalatnya. Setelah itu Breeze keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.
__ADS_1