
Awalnya aku marah saat kau menggoda ku tapi lama kelamaan aku merasa candu dengan godaan mu. Dan entah kenapa aku mulai suka itu.
.
.
.
Berada di kantor siang hari dengan wajah yang mulai tersenyum kembali di saat ia baru saja menjenguk Dhira di rumahnya.
Melihat Revan yang mulai tersenyum saat karyawan lain sedang menyapanya dengan memberi hormat membuat seisi gedung kantor sedang bergosib tentang dirinya.
Karena pasalnya mereka sudah lama tidak melihat Revan tersenyum saat mereka sedang menyapanya dan hormat padanya.
Duduk di kursi kebesaran dengan memeluai aktivitasnya yang tertunda di pagi tadi dan mengharuskan Asistennya yang mengurus semuanya.
Terdengar suara ketukan pintu, memperlihatkan wajah asistennya yang sedikit asam.
" Siang pak, ini dokumen yang harus anda tanda tangani." ucap Rizal dan menyerahkan dokumen yang berada di tangannya.
" Muka mu kenapa asam gitu Zal.?" tanya Revan, membuat Rizal menatapnya.
" Tidak apa-apa pak." jawab Rizal dengan lesu dan senyum yang terpaksa.
" Apa karena pekerjaannya berat."
" Tidak pak." saut cepat Rizal dengan menggelengkan kepala.
" Terus.?" tanya Revan dengan masih menatapnya. " Duduk lah kita perlu mengombrol santai." ujarnya lagi dan Rizal pun duduk berhadapan dengan bosnya.
Rizal sudah lama bersama dia, hingga Revan sudah menganggapnya sebagai teman. Walaupun Rizal merasa sedikit canggung, tapi dia juga menikmatinya saat Revan mengajaknya untuk nongkrong bersama.
Saling berbagi cerita dan mengeluh satu sama lain. Patner yang sehati bukan, sama-sama mempunyai nasib yang mengenaskan, hanya saja sedikit berbeda.
Bos yang di tikung oleh kakak tirinya dan Asisten yang cintanya bertepuk sebelah tangan sebelum mengungkapkan perasaannya.
" Jangan bilang Kamu di tolak cewek." tebak Revan dengan memicingkan mata.
" Belum mengungkapkan cinta, sudah patah hati." jawabnya dengan menghembuskan nafas berat hingga membuat Revan mengerutkan kening sebelum akhirnya dia tersenyum serta menahan tawa.
" Siapa, orangnya." tanya Revan, membuat Rizal menatapnya, ingin bilang tapi malas untuk mengatakannys karena takut untuk di tertawakan karena dia menyukai teman mantan pacar Revan.
" Ada lah Bos? dan aku enggak mau berharap lagi." ucap Rizal.
__ADS_1
" Belum mengungkapkan sudah menyerah." cibik Revan.
" Lebih baik menyerah dari pada di sebut pelikir.?" jawab Rizal.
" pelikir.!" ucap Revan dan akhirnya pecah tertawanya yang tidak bisa lagi di tahan.
" Aku baru dengar pelakor jadi pelikir." katanya dengan masih tertawa.
" hahahha, aku saja juga baru dengar" jawab Rizal yang juga ikut tertawa. " Eh, bos sudah bisa tertawa." ujarnya
" Kamu pikir aku robot apa, yang enggak bisa tertawa." ucap Revan. "Sudah kembali kerja sana." perintahnya dengan memulai kembali memeriksa dokumen.
" Weis, gue suka gaya loe yang sekarang bos.!" kata Rizal dengan tersenyum.
Berdiri dari kursinya dan berjalan cepat meninggalkan Revan yang akan memerintahkan hal yang tidak dia inginkan saat wajah tengil bosnya sudah kembali seperti dulu.
Inilah yang di harapkan Rizal saat bosnya sudah bisa move on dari mantan kekasihnya. Berharap Revan kan selalu tertawa dan tersenyum seperti ini serta kembali seperti dulu lagi walaupun nanti dia yang akan kena imbasnya dengan hukuman.
Menatap kepergian Asisten dengan menggelengkan kepala serta tersenyum saat apa yang di katakan Rizal padanya.
Memang hari ini dia bisa mulai tersenyum kembali dan tertawa lepas. Tidak seperti dulu saat di tinggal mantan menikah dia menjadi pendiam dan tidak bisa tersenyum atau pun tertawa tepas.
Semenjak dia kenal dengan Dhira, ada sedikit yang berbeda dari dirinya. Dia yang sudah mulai kembali tertawa dan mulai kenjadi dirinya seperti dulu lagi.
Menggelengkan kepala saat dia memikirkan Dhira dan dia mulai kembali untuk melanjutkan pekerjaannya lagi.
****
" Kamu sudah makan?" tanya Kenzi pada Dhira yang berada di sampingnya
" Sudah?" jawabnya. " Kamu enggak makan." tanyanya saat melihat Kenzi belum mengambil makanan dan yang lain sedang menikmati makan.
" Sudah tadi di rumah." Jawabnya. " Apa masih sakit." ujarnya.
" Udah enggak. Terima kasih sudah membawa ku ke rumah sakit." ucapnya dengan tulus dan menatap Kenzi yang berada di sebelahnya.
Melihat Dhira sedekat ini dengan wajah yang tersenyum, membuatnya ikut tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
Ingin rasanya ia bilang pada Dhira jika dia mempunyai rasa yang lebih padanya tapi ia takut jika Dhira akan menolak dan menghindarinya.
Dhira wanita yang sulit untuk di dekati dan sulit untuk mendapatkan kepercayaannya, tidak mudah untuk ia dapatkan.
Tidak seperti mantan mantan Kenzi yang masih mengejarnya dan masih mau berpacaran dengannya walaupun di dua kan mereka tidak masalah karena Kenzi adalah idola di kampus.
__ADS_1
" Dhila.!" sapa Alex, hingga membuat Kenzi terbangun dari lamunannya saat mendengar suara alex yang memanggil Dhira.
" Iya ada apa kak." tanya Dhira.
" Citla mau ajak aku beli jajan." ucapnya dengan meminta izin pada adiknya dengan badan yang sedikit di goyang goyangkan dan wajah penuh harap agar mendapatkan ijin dari Dhira.
" Enggak papa lah Dhir, sekali kali aku ajak kak alex keluar rumah." kata Citra " Hanya di depan sini kok." ujarnya lagi.
Menatap Alex yang sudah memohon dengan wajah yang melas.
" Aku juga mau ikut." saut Dika cepat " itung-itung hari ini aku mau traktir kakak mu buat perkenalan." ucap Dika dengan menaikkan alis dan tersenyum.
" Baik lah, tapi jangan lama lama ya. Harus menurut sama mereka berdua." kata Dhira pada Alex dengan tersenyum, membuat Alex mengangguk cepat serta tersenyum penuh merasa senang Karena bisa keluar rumah bersama Citra dan Dika.
" Dan jangan beli coklat." larang Dhira hingga Alex mengangguk.
berjalan terlebih dulu untuk mencari sandalnya dan menunggu teman Dhira di depan pagar.
" Aku tinggal dulu." ucap Citra.
" Iya dan jangan sampai kakak ku terluka." peringat Dhira pada Citra dan Dika.
" Iya bawel.!" seru Citra dan pergi dari hadapan Dhira di ikuti Dika dari belakang.
Alex tidak pernah keluar rumah karena Dhira tidak pernah mengizinkannya. Pernah Alex keluar rumah tanpa Dhira hingga membuat dia khawatir dan mencarinya sampai sore bersama bik Minah yang juga mencarinya.
Alex menangis di taman komplek dengan pakaian serta tubuh yang kotor. Membuat Dhira marah dan mencaci anak orang yang sudah berbuat jahat pada kakaknya.
Hingga di situlah Dhira selalu melarang kakaknya untuk tidak keluar rumah, dan Alex pun menurut serta tidak pernah keluar rumah bila Dhira sedang bekerja, dan selalu berdua dengan bik Minah.
Jika di bilang bosan pasti iya, kadang dia berdiri di depan pagar dengan dua tangan yang berpegangan pada pagar hanya untuk melihat suasana di depan rumah yang terkadang ada penjual makanan keliling.
.
.
.
.
🐨🐨🐨🐨
Terima kasih buat kalian yang sudah mendukung babang kadal dan gadis tomboy. 😊😊
__ADS_1