Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
janji suci


__ADS_3

Saat telinga ini mendengar namaku kamu sebutkan di dalam ucapan sakral. Di situlah, hatiku berdebar dan air mataku mulai menetes.


.


.


.


.


" Malam-malam begini mau ngajak aku ke mana kak?" Tanya Dhira, berada di jok motor belakang. Menyandarkan dagunya di bahu Revan yang sedang mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota malam tidak terlalu ramai akan pengendara lalu lalang.


Udara malam yang tidak terlalu dingin akan pelukan hangat dari belakang, merasakan kasmaran di luar rumah untuk pertama kali dengan kekasih halalnya.


Selama berpacaran pun mereka tidak pernah keluar, jalan bersama, menikmati gandengan tangan di depan umum ataupun merasakan kenikmatan jajanan di luar. berpacaran hanya di rumah dan selalu tertutup untuk tak ingin ada yang mengetahui jika dirinya sudah mempunyai pacar.


Kini, saat mereka sudah menjadi sah sebagai suami istri. Tidak adal hal lagi yang harus di sembunyikan dari semua orang, jika dirinya kini sudah menjadi kekasih halal dari orang yang dia cintai dan tak akan malu untuk mengumbar kemesraannya di depan umum.


" Enaknya maunya kemana malam ini?" Tanya Revan, melirik sekilas ke arah Dhira.


Mengerutkan kening, bingung akan kemana arah yang ingin di tujunya saat suami meminta pendapat padanya.


" Alun-alun kota gimana?" Kata Dhira, sepintas mengingat alun-alun kota yang ramai akan malam hari dengan berbagai jajanan serta makanan yang terjajar rapi dan menggiurkan.


" Hmm, oke." Jawabnya dengan semangat, memutar arah menuju ke tempat istrinya yang di inginkan.


Alun-alun kota yang memang tak pernah sepi akan ramainya orang-orang di malam hari untuk menikmati kuliner jajanan yang selalu menggiurkan dan sedikit menguras kantong bagi para penikmat jajan.


Berjalan bersama, memakai warna baju yang senada serta bergandengan tangan. Pertama kalinya mereka berjalan di kerumunan banyak orang yang sedang mencari kuliner enak untuk di santap sendiri, bersama kekasih atau beramai-ramai menikmatinya.


" Mau jajan apa?" Tanya Revan, menatap istrinya yang sedang melihat berbagai stan kecil tempat para penjual makanan.


" Terserah kakak, mau apa?" Ucap Dhira.


" Mau jagung bakar gak." Tanyanya.


" Hmm, iya mau." Jawab Dhira, dan berjalan menuju tempat stan kecil penjual jagung bakar, tidak terlalu ramai dan mengantri banyak.


" Dua ya pak?" Kata Revan pada penjualnya.


" Pedas manis atau manis mas.?" Tanya Penjual.

__ADS_1


" Aku mau pedas manis." Bisik Dhira


" Satu pedas manis, dan yang satunya manis saja" Kata Revan, hingga penjualnya mengangguk mengerti.


Memperhatikan cara membakar, mengolesi bumbu dan membolak balikkan jagung agar matang merata. Revan yang melihat istrinya sedang memperhatikannya sedari tadi hanya tersenyum dan bisa di pastikan jika Dhira tak pernah memakan jajanan luar sama sekali.


Mencari tempat untuk duduk berdua, berada di tengah lapangan hijau, terdapat banyak orang sedang duduk atau berkumpul bersama menikmati jajanan ringan sambil tertawa dan menikmati malam semakin pekat.


Mencari tempat sedikit longgar, duduk berdua dengan mereka yang beralaskan sandal sebagai dudukannya agar celananya tidak kotor.


" Pernah ke sini ya kak?" Tanya Dhira.


" Dua kali aku ke sini." Kata Revan, membuka bungkus jagung bakar serta dua minuman dingin.


" Yang pertama sama siapa." Kata Dhira, mengambil jagung bakar rasa pedas dan mencoba memakannya sambil menunggu jawaban Revan.


" Nyonya Revan sedang introgasi nich ceritanya!" Goda Revan tersenyum ke arah Dhira sedang mengunyah makanan.


" Lagi belajar kepo saja." Jawab Dhira, tertawa kecil.


Mengacak rambut istrinya, gemas akan tingkah dan aktivitasnya selama beberapa hari ini menjadi istrinya. Berubah tujuh puluh lima persen dari dia yang menjadi tomboy dan suka keluar malam, kini sedikit faminim. mulai berdandan, merubah gayanya dan selalu di rumah saat dirinya sudah pulang kerja serta melayaninya dengan tangannya sendiri.


Bukan dirinya yang menyuruh Dhira berubah, tapi Dhira sendiri lah yang merubah kehidupannya. Saat dia sudah menikah dan memulai lembaran hidup baru bersama suaminya.


" Sendirian sayang! Cari makanan malam-malam." Ujarnya.


" Dapat cewek enggak!" Tanya Dhira, sedikit risih akan tatapan para ibu-ibu atau para gadis yang menatap kagum wajah suaminya.


Cemburu! pasti. Siapa yang tidak cemburu, jika suaminya di tatap kagum oleh para wanita. Yang di tatap pun sama sekali tak merespon, ataupun tersenyum untuk melihat ke semua wanita.


" Banyak. Seperti dari tadi, banyak sekali kan yang sebar senyuman kepadaku Beb?" Mulai kepedean, dan tengil akan tingkahnya.


" Idihh! PDnya." Seloroh Dhira, hingga Revan tertawa.


Menikmati makan jagung bakar bersama sambil berbagi cerita dan melihat pemandangan langit malam yang cerah serta melihat anak-anak kecil yang berlari-lari. membuat sepasang suami istri merasa gemas akan tingkah anak kecil.


" Aku mau punya anak empat Beb?" Ucap Revan, yang langsung mendapatkan tatapan membulat dari mata cantik Dhira.


"Hah?"


***

__ADS_1


" Saya terima nikahnya Citra larassati binti Sati seperangkat alat sholat dan emas logam dua puluh gram di bayar tunai." Ucapnya, sekali tarikan dan lancar ia mengucapkan ijab khabul di pagi hari. Di kediaman Citra dengan dua orang saksi serta ke dua orang tuanya yang ikut dalam menyaksikan ikatan suci putranya.


" Bagaimana para saksi." Tanya penghulu pada semua orang yang ada di ruangan.


" Sah, sah, sah." Jawab mereka, dengan menganggukkan kepala serta tersenyum lebar. Bahagia atas apa yang di lihat mereka semua.


Citra yang berada di samping Rizal pun menundukkan kepala, tak kuasa menahan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.


Entah kenapa air matanya jatuh, berdebar hatinya kala Rizal mengucap janji suci di hadapan ke dua orang tua mereka serta di hadapan penghulu dan para saksi.


Rizal yang sama merasakan hatinya berdebar dan mata yang entah kenapa bisa memerah, sebisa mungkin menahan air mata untuk tetap tenang.


Pagi hari, di mana dua keluarga saling bertemu, kini merasa terharu dan bahagia atas apa yang di dengar dan di lihatnya secara langsung. Putra dan Putri mereka satu-satunya melakukan janji shakral, janji suci untuk selama-lamanya mereka kenang dan berharap pasangan kakasih baru ini menjadi keluarga sakinah,mawadah, dan warohma.


Memasangkan cincin pernikahan di jari manis Citra, dengan tangan Citra yang terasa keringat dingin hingga dirinya berusaha mengusapnya, menenangkannya, menatap matanya tersenyum mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.


Membalas senyuman Rizal, memasangkan cincin di jari manis suami barunya. Merasa terharu apa yang telah ia dengar dan lihat dari tatapan Rizal sangat menenangkan hati dan pikirannya.


" Sekarang kamu adalah putri mama, bukan menyandang sebagai menantu lagi." Mengusap lembut punggung Citra dengan mata yang berkaca-kaca. " Mama akan selalu berdoa, semoga hubungan kalian langgeng sampai maut memisahkan, tetap sabar jika ada ujian dalam rumah tangga ya nak." Ujarnya lagi.


" Putra mama sudah mempersunting anak orang, jangan buat dia merasa sedih. Buatlah istrimu senang, seperti kamu membuat mama selalu senang. Jangan pernah tinggalkan dia dalam keadaan apapun, tetap dukung dan buat dia merasa aman dalam dekapanmu yang Nak." Petuah Nyonya Rani pada Rizal, memeluknya dan menangis dalam pelukan putra tunggalnya yang kini sudah menjadi kepala keluarga.


Bukan berat melepaskannya, tapi memang seorang ibu yang mengasuh dan membesarkannya dengan kasih sayang dan cinta sudah beranjak dewasa serta sudah mempunyai kehidupan yang baru. kini tanggung jawab putranya lah yang mulai berat dari menafkahi lahir batin, harus menjaga istrinya dan juga harus membuat istrinya bahagia.


" Putra papa sudah menjadi kepala keluarga, jangan pernah sakiti istrimu. dan ingat, apapun masalah dalam keluarga tanganilah dengan kepala dingin." Nasehat Tuan Rama, pada Putra yang kini sudah menjadi dewasa.


" Putri ayah sudah menjadi milik orang lain, dan sudah pergi meninggalkan ayah sendirian. Ayah berdoa, semoga putri ayah bahagia dan maafkan ayah selama ini Citra.?" Ucap Ayah Citra mengusap lembut kepala putrinya dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Sama-sama menangis tak kuasa ia harus meninggalkan ayahnya sendiri, yang baru saja merasakan kebahagian dimana ayahnya teah berubah.


" Tolong jaga putri saya, seperti kamu menjaga ibu kamu. Jangan pernah mengangkat tangan mu, ketika kamu marah pada putri saya dan tolong buat dia bahagia sudah cukup putri saya menderita karena ulah ayahnya." Ucap Ayah Citra pada Rizal, menepuk bahu suami putrinya dan menatapnya dengan mata yang berlinang.


Terasa berat melepaskan putrinya pada orang lain, yang baru saja di mana dirinya ingin memberikan kebahagian dan kasih sayang yang pernah ia lupakan pada putrinya karena terpengaruh dengan mantan istri sirihnya.


Saling mengabadikan foto bersama dengan keluarga yang sederhana dan foto dua dalam balutan kebaya serta menunjukkan dua surat nikah yang mereka pegang.


Dan kini babak baru dalam kehidupan Citra dan Rizal telah di mulai.


.


.


.

__ADS_1


.


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2