Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
dua orang masa lalu


__ADS_3

Karena aku masih mencintai mu sampai kapan pun akan tetap seperti itu, walaupun kau sudah ada yang punya.


.


.


.


.


" Apa kamu masih marah dengan ku Dhir.!" ucapnya yang membuat Dhira berhenti dan berbalik menatapnya.


Duduk kembali dengan Dhira yang menatap Dava dengan tersenyum sinis akan apa yang di ucapkan Dava.


" Marah! soal apa." tanya Dhira.


" Soal masa lalu kita." jawab Dava dengan menatap Dhira.


" Kita.!" dengan mengerutkan keningnya " Sejak kapan ada kata antara kita. Aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa, selain kata sahabat yang hancur karena ulah mu sendiri." ujarnya lagi dengan penekanan dan nada yang dingin saat kembali lelaki yang ada di hadapannya mengungkit masa lalu mereka.


" Apa salahnya aku mencintai sahabat ku sendiri." jawab Dava.


" Tidak ada yang salah, hanya saja aku tidak mau dan kau tetap saja memaksa, hingga kau hampir saja memperkosa ku jika aku tidak memukul mu dengan botol bir mu." ujar Dhira, dengan mengingat kembali pada Dava.


Mereka bersahabat sejak Dhira masih umur sepuluh tahun dan Dava yang masih berumur dua belas tahun. Bersahabat karena dulu rumah mereka bertetangga, Dava menolong Dhira dan Alex saat mereka sedang di bully oleh teman-tamannya di taman dan sejak itulah mereka berteman meskipun Dava pindah rumah mereka tetap bersahabat dan masih sering bertemu.


Menginjak sma gadis kecil yang Dava tolong semakin cantik hingga dia mulai merasa suka dan jatuh cinta pada Dhira. Pernah mengungkapkannya tapi tolak karena Dhira masih ingin menikmati kesendiriannya.


Mungkin karena cintanya di tolak, Dava ke tempat karaoke bersama teman-temannya, Dhira yang khawatir saat mengetahui Dava mabuk itu pun segera menghampirinya dan ingin membawanya pulang. Dava yang terlalu minum banyak hingga bergumam sendiri dan melihat Dhira pun tanpa sadar mencoba melecehkannya karena hawa nafsunya sudah begitu tinggi. Beruntung Dhira bisa melawan saat melihat botol bir yang ada di meje ia pukulkan ke kepala Dava dan dia dia bisa melarikan diri dengan lengan bajunya yang robek.


" Aku mabuk dan aku tidak bermaksud untuk melecehkan mu." sargah Dava, menghembuskan nafas berat kala Dhira juga mengerti jika itu bukan kesalahan Dava sepenuhnya.


" Tidak begitu juga, ketika marah kamu selalu mabuk. Berubah lah sedikit saja, setidaknya untuk diri mu sendiri agar kau tidak menyakiti orang lain lagi." tegas Dhira.

__ADS_1


" Sudah kecanduan dan mungkin akan sulit untuk tidak membiasakan minum." jawab Dava.


" Terserah yang terpenting aku sudah mengingatkan mu." ucap Dhira dan pergi meninggalkan Dava yang sedang menatap kepergiannya.


Menatap kepergian Dhira dengan rasa bersalah dan sedikit kecewa karena Dhira masih belum memaafkannya, dan tersenyum saat Dhira ada sedikit perhatian dengannya serta mau di ajak berbicara walaupun hanya sebentar saja.


Lima tahun mereka tidak saling berkomunikasi dan tidak saling menyapa saat bertemu. Dava hanya bisa memandangnya dari jauh saat melihat Dhira dan kini rasanya Dava senang bisa sedekat ini dengan dia.


Kau tidak berubah, masih sama seperti Dhira yang dulu saat kita bersama. Perhatian tapi sedikit ketus! gumam Dava dalam hati.


Menghabiskan sisa kaleng bir yang ada di tanganya dan beranjak dari duduknya untuk pergi kembali ke base camp.


****


Mengerutkan kening saat mendapati mobil yang ada di depan rumahnya hingga dia memberhentikan motornya tepat di depan mobil itu.


Mematikan motor dan membuka helmnya sebelum dia terkejut mendapati Wanita tua yang turun dari mobilnya.


Turun dari motor dan berjalan untuk menghampirinya.


" Ada apa Anda kemari." tanya Dhira dengan dingin tanpa menyapanya terlebih dulu.


" Apa kau tidak merindukan ku." tanya balik wanita tua itu dengan tersenyum, hanya tersenyum sinis yang Dhira tunjukkan dan tidak ada rasa rindu sama sekali pada wanita tua ini.


" Rindu pada siapa? pada Anda Nyonya." sinis Dhira. " Sayangnya tidak ada satu pun yang rindu pada anda, malah kami senang anda pergi dari kehidupan kami." ujarnya lagi dengan menatap remeh wanita tua yang berpenampilan sangat modis glamor dan masih sexsi.


" Sekian lama Mama tidak pernah bertemu dengan mu, kenapa kelakuan mu menjadi seperti ini." geram wanita tua itu, yang ternyata adalah Mama Dhira.


Mama Dhira sedang ingin bertemu dengan anak-anaknya karena lama tidak berjumpa dengan terakhir kali menginjak rumah sederhana Dhira saat suaminya telah meninggal dan tidak pernah kembali lagi ke rumah Dhira.


" Memangnya kelakuan saya kenapa Nyonya Gina.!" jawab Dhira.


" Tidak ada sopan santun."

__ADS_1


" Memang saya tidak punya sopan satun, karena ibu saya tidak pernah mengajarkan saya untuk menghormati orang yang lebih tua." sekak cepat Dhira dengan tatapan sinis. " jika anda sudah tidak ada kepentingan, bisa anda pergi dari sini karena rumah ini sangatlah kotor untuk anda injak." ujarnya lagi dengan mengusir mamanya yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sedikit marah dan kecewa.


Nyonya Gina yang di usir oleh anaknya pun hanya menghembuskan nafas beratnya dan berbalik menuju mobilnya.


Nyonya Gina yang sudah berada di dalam mobil dengan segera menurunkan jendela kaca saat Dhira mengetuk jendela mobilnya.


" Saya hanya mengembalikan ini." kata Dhira dengan menaruh kartu debit yang Dhira punya dulu di dashboard mobil. " Anda tidak perlu repot-repot untuk mengirimkan uang setiap bulan pada kami, uang Nyonya sangat tidak berguna." ujarnya lagi dan memundurkan langkahnya, menjaga jarak untuk menatap Mamanya.


Nyonya Gina yang mendapatkan penolakan dan kemarahan dari anaknya hanya bisa menatap putrinya dengan rasa kecewa dan juga marah akan perlakuan Dhira.


Memang setiap bulan Nyonya Gina mengirimkam uang pada Dhira hingga empat tahun secara diam-diam, Dhira yang mengetahui itu pun tidak pernah satu persen mengambil uangnya yang ada di kartu Atm, malah Dhiral membuka rekening baru untuk ia menabung sendiri dan tidak ingin mamanya tau.


Menjalan kan mobilnya dan pergi dari rumah Dhira tanpa berpamitan, Dhira yang menetap kepergian Mamanya hanya bisa tersenyum miris dan mata yang mulai menggenang karena kekuatannya sudah hilang saat mamanya sudah pergi.


Menundukkan kepala untuk menghapus air mata dan menghembuskan nafas beratnya untuk tidak mencoba menangisi wanita tua itu yang menelantarkan anak-anaknya.


" Kamu Menangis." ucap pria yang ada di hadapannya sekarang, mendongakkan kepala untuk melihat suara pria yang tidak asing baginya.


" Kak Revan." lirih Dhira, dan mulai berjalan ke arah Revan dan memeluk dia dengan erat, membenamkan wajahnya di dada Revan dan menangis di sana.


Membalas pelukan Dhira, mengusap punggungnya dan mencium puncak kepala Dhira.


" hust, jangan menangis aku ada di sini." ucap Revan.


.


.


.


.🐨🐨🐨


Maaf atas keterlambatannya.

__ADS_1


__ADS_2