Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
Nostalgia.


__ADS_3

Ingin menghindar, tapi tidak bisa. karena Tuhan sudah mengatur jalan kita untuk bersama.


.


.


.


.


" Tante Rani.!" Pekik Citra dengan mata yang membulat saat melihat Mama Rizal ada di rumah Dhira.


Tersenyum dan menghampiri calon menantunya itu di kerumunan para pengantin dan sahabat Citra.


" Kamu kok ada di sini Citra.?" tanya Nyonya Rani.


Bersalaman terlebih dulu saat mamanya Rizal ada di hadapannya " Mau lihat sahabat Citra nikah tan- Ma." Jawabnya sedikit gagap.


Dika dan Dhira Mengerutkan kening mendengar Citra memanggil wanita tua yang ada di hadapannya dengan panggilan mama, karena mereka tau jika itu bukanlah ibu Citra.


" Pengantin wanita ini sabahat kamu Citra." Tanya Nyonya Rani lagi.


" Iya Ma." Jawab Citra, dan mendapatkan senyuman dari Nyonya Rani yang belum mengerti apa maksud dari senyuman itu.


" Selamat ya sayang, semoga sakinah mawadah warohma.?" Doa Nyonya Rani pada Dhira mengahampirinya dan memeluknya.


" Terima kasih tante?" Jawab Citra sambil mengerutkan kening menatap Citra, sedangkan Citra memelaskan wajah bingung dengan situasi seperti ini, yang tidak seharusnya bertemu dengan mamanya Rizal di acara pernikahan Dhira.


" Papa, Rizal.!" Panggil Nyonya Rani, yang melihat suami serta anaknya sedang berbincang dengan pengantin pria dan ayahnya.


Rizal yang melihat pun sempat tak percaya akan mamanya yang menghampiri Citra bersama teman-temannya.


" Itu bukannya Citra, pacar kamu Zal.?" Kata Papa Rizal, dan membuat pengantin pria serta ayahnya menatap ke arah yang di tunjuk Papa Rizal.


" Yang bersama dengan istri kamu Ram." Tanya Tuan Gio.


" Iya, itu pacarnya Rizal." Jawab Tuan Rama.


" Itu menantu aku." Ucap Tuan Gio yang melihat Istri Tuan Rama berada di sebelah Dhira, dan Revan pun juga sama terkejutnya


" Aku tau itu menantu kamu!" Seru Tuan Rama yang sedikit salah paham. " Yang sebelahnya itu calon menantuku." Ujarnya lagi dan kembali menatap Mama Rizal yang menggandeng tangan Citra.


" Oh! aku pikir menantuku." Jawab Tuan Gio " Itu teman Dhira." Imbuhnya dan Tuan Rama kembali menatap teman kuliahnya bersamaan dengan Rizal yang menatap terkejut mendengar ucapan ayah bosnya.

__ADS_1


" Iya itu Citra sahabat Dhira, dan setau saya dia belum punya pacar." Kata Revan.


" Belum punya pacar!" Sahut cepat Tuan Rama, dan di anggukkan Revan.


" Dia pacar ku Van." Bantah Rizal cepat agar papanya tidak curiga.


" Sejak kapan kamu pu-,"


" Sudah ayo ke sana." Potong Tuan Rama, berdiri dari duduknya berjalan menuju ke arah istri dan calon menantunya di ikuri Tuan Gio yang juga ingin menghampiri istri dan menantunya.


" Kamu menyewa Citra, dari mana kalian bisa kenal." Bisik Revan.


" Terpaksa, dan ceritanya panjang." Jawab Rizal, menghembuskan nafas berat saat ke dua orang tuanya mulai mengobrol dengan Citra dan Keluarga Revan.


Dunia itu sangat kejam. Di saat dirinya bilang pada orang tuanya jika Citra tidak bisa ikut ke untuk menani mereka di acara pernikahan dan Tuhan sudah mengatur pertemuan mereka di acara pernikahan yang ternyata sama-sama menjadi kerabat dekat hingga membuat dirinya sekarang ini sangat frustasi.


Setiap mamanya bertanya tentang Citra dan kapan mengajaknya ke rumah lagi, dirinya selalu mencari alasan agar mamanya tidak bisa bertemu dengan Citra dan suatu saat ia akan bilang jika hubungannya dengan Citra sudah putus.


tapi ternyata rencana hanyalah tinggal rencana dan tidak bisa ia lakukan lantaran orang tua Rizal sudah kembali berjumpa lagi dengan Citra.


Berjalan mendekati orang tuanya dan menatap Citra yang juga sama frustasinya dengan dirinya.


" Citra ini ternyata calon menantu Rani lho pa?" Kata Nyonya Vani pada suaminya.


" Wahh, hubungan kita akan semakin erat ini Van.! punya menantu yang sudah bersahabat." Seru Nyonya Rani.


" Iya Ran, dan enggak perlu lagi susah-susah berkenalan." Timpalnya lagi, dan membuat dua wanita tua itu tertawa.


" Tante Rani ini teman mama waktu kuliah dan teman arisan mama." Kata Nyonya Vani pada Dhira.


" Ternyata papa kamu teman Om Gio dulu.!" Seru Nyonya Rani.


" Dan enggak nyangka di pertemukan di sini." Timpal Tuan Rama.


" Kita reoni." Sambung Tuan Gio, hingga membuat empat orang tua tertawa bersama.


Serta lima anak muda masih tidak percaya akan apa yang mereka lihat, Reoni yang tak terduga di pertemukan di acara pernikahan sungguh ajaib dunia sempit ini.


Duduk bersama dengan keluarga Revan, Rizal serta keluarga Dhira dan makan bersama sambil mengobrol panjang lebar hingga cukup lama.


" Dhira, kamu sudah menjadi putri mama dan sudah menjadi istri putra mama. Sering-sering datang ke rumah ya." Kata Nyonya Vani.


" Iya Ma, Dhira akan sering ke rumah mama." Jawabnya.

__ADS_1


" Maaf Dhira tidak bisa ikut mama atau pindah ke rumah mama, Dhira tidak bisa ninggalin kak Alex." Ujarnya lagi, meminta maaf pada ibu mertuanya saat ibu mertuanya meminta Dhira untuk tinggal bersamanya dan di tolak halus oleh Dhira. lantaran memang dirinya tidak bisa meninggalkan Alex ataupun Alex ikut pindah ke rumah Nyonya Vani tetap dirinya tidak mau itu.


" Tidak papa sayang, mama mengerti." Ucap Nyonya Vani mengusap lembut pipi Dhira.


" Besok datang ya ke rumah mama, mama mau ajak kamu ke rumah mbak Eva. Dia sudah lahiran." Imbuhnya


" Mbak Eva sudah lahiran, anaknya apa ma." Tanya Dhira antusias.


" Anaknya laki-laki, umurnya baru dua bulan." Jawab Nyonya Vani.


" Ma? Ayo kita pulang." Ajak Tuan Gio, membuat Nyonya Vani mengakhiri obrolannya dengan Menantunya dan mengangguk ke arah suaminya.


" Jaga baik baik diri kamu dan Dhira, papa dan mama pulang dulu." Ucap Tuan Gio pada Revan.


" Iya Pa, hati-hati." Ucap Revan, memeluk sebentar ayahnya dan bergantian memeluk mamanya serta mengantar mereka keluar rumah Dhira.


" Dhira." Sapa Nyonya Devi saat berada di sampingnya, membuat Dhira menatapnya.


" Mama dan Papa pulang dulu ya. Kinan nyariin mama dan Papa sebentar lagi akan pergi ke kuar kota." Ucapnya dengan sedikit rasa bersalah.


" Iya, terima kasih sudah mau datang dan merestui pernikahan saya Nyonya, Om.?" Kata Dhira dengan tersenyum.


" Maafkan Om ya Dhira, Om janji akan datang dan berkunjung lagi ke rumah kamu." Kata Tuan Hasan.


" Iya Om." Jawab Dhira.


" Nak Revan tolong jaga Dhira dan Alex ya, Tante pulang dulu." Ucap Nyonya Devi pada Revan.


" Iya tante." Jawabnya dengan mengangguk.


" Saya pulang dulu, nitip putri saya jangan sakiti dia." Ujar Tuan Hasan, hanya mengangguk dan tersenyum untuk membalasnya.


Melihat kepergian ibu dan ayah sambungnya dengan senyum miris saat mengingat ucapan Ibunya yang lebih mementingkan Kinan anak sambungnya dari pada anak kandungnya.


tersentak kecil saat ada tangan yang menyentuh pinggangnya dan menatap ke samping melihat Revan yang sedang tersemyum serta memainkan alisnya saat menatapnya. dan itu sungguh membuat geli serta merinding melihat tatapan Revan yang jail.


.


.


.


.🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2