
Semua yang kamu tutupi, sudah jelas. Bahwa kamu sudah tak sanggup lagi memendamnya sendiri.
.
.
.
.
" Ini sekarang tempat tinggal kamu?" Tanya Rizal. Duduk di bawah yang terdapat karpet, sambil melihat ke arah ruangan yang tidak terlalu besar. dan cat yang sudah pudar, Menyingkat dapur, kamar mandi dan satu kamar tidur yang tertutup tirai
" Iya? Aku ngontrak disini. Jika malas pulang ke rumah." Jawabnya, menaruh tas dan menemani Rizal yang duduk di kontrakannya, serta memberikannya air minum botol yang masih tersegel.
" Kenapa gak tinggal sama Dhira saja.!"
" Enggak mungkin aku harus tinggal di rumah Dhira, sudah cukup dia mau mempekerjakan aku dan membantuku berulang kali. Rasanya aku belum bisa membalas kebaikannya selama ini." Jawab Citra, menerawang semua masa lalunya yang begitu sulit. beruntungnya dia bertemu dengan Dhira dan mau membantunya saat dia kesusahan hingga saat ini.
Teman sejati memang seharusnya ada, di saat mereka senang dan susah bukan? Tidak meninggalkan mereka saat mereka susah dan selalu membantunya hingga mereka sudah sedikit bernafas lega.
" Kamu tidak takut tinggal sendiri di sini?" Kata Rizal, sambil melihat ke depan kontrakan Citra yang terdapat banyak ibu-ibu bergosib. serta melihat kontrakan terdiri enam bangunan yang rapi dan bersih, dan hanya dua penghuni ibu rumah tangga yang tidak bekerja, memomong anak di depan rumah, serta satu kontrakan di sebelah Citra yang terdapat tetangga pria bujang sedang bermain dengan teman-temannya.
" Tidak, kenapa harus takut?" Jawab Citra dengan alis yang mengerut tak ngerti apa yang di katakan Rizal. Setaunya kampungnya, kontrakannya aman-aman saja dan dirinya tak pernah mengusik para tetangga. Malah dirinya akrab dan selalu menyapa para tetangga yang juga sama notabenya penumpang di kontrakan orang.
" Ada berapa punghini kontrakan yang masih lajang.?" Tanya Rizal.
" Tiga." Jawabnya.
" Perempuan semua.?"
" dua laki-laki, satu perempuan dan itu aku. Emangnya kenapa Sih.!" Penasaran Citra.
" Besok kamu pindah saja ke apartemenku." Perintah Rizal, membuat mata Citra membulat.
" Pindah dari sini, kamu enggak lihat para pria lajang yang ngontrak di sebelah kamu selalu bawa teman-temannya ke sini?" Kata Rizal.
__ADS_1
" Ya, terus kenapa memangnya." Jawab Citra. " Lagian aku juga enggak cari perhatian dengan mereka dan aku juga selalu menutup kontrakanku." Imbuhnya.
Memang benar dirinya tidak pernah cari-cari perhatian pada para tetangga pria bujang yang ada di sampingnya, dan memang sedikit risih jika para teman tetangganya datang di saat Citra selalu ada di kontrakan. Hingga itu dirinya lebih memilih menutup pintu dan tak akan keluar sampai dia akan berangkat bekerja.
" Mereka semua sedang mengintai kamu." Kata Rizal, memperhatikan gerak gerik pria yang sengaja duduk di depan kontrakan menghisap rokok sambil melirik ke arah kontrakan Citra.
" Jangan melihatnya?" Tegur Rizal, saat melihat Citra akan melihat ke arah pria itu.
" Bereskan baju-baju kamu, dan sekarang ayo ikut aku." Perintah Rizal dengan dingin.
Tidak bisa berdebat, mengerucutkan bibirnya dan berjalan ke arah kamar. Membawa beberapa pakaian, serta tak lupa juga membawa barang berharganya. Dan kembali menghadap Rizal yang sedang menunggunya di luar.
" Ayo.?" Ucap Citra, yang sedikit lesu ketika sudah mengunci kontrakannya.
" Mbak Citra mau kemana?" Tanya tetangga ibu muda mengasuh anaknya.
" Mau kerja mbak?" Jawab Citra dengan ramah.
" Pacarnya ya mbak." Tanya tetangga lainya dengan tersenyum simpul.
" Saya calon suaminya." Ucap Rizal, yang membuat Citra langsung menatapnya dengan mata yang melotot sempurna.
" Waah calon suaminya mbak Citra to.! Ganteng mbak.!" Seru tetangga, yang terpesona ketampanan Rizal. Kembali menatap tetangganya dengan tersenyum paksa.
" Jangan lupa undangannya ya mbak Citra?"
" Iya mbak, jangan lupa undang-undang kita ya.?" Timpal yang lain. Hanya mengangguk kecil dan kembali tersenyum untuk menjawab yang tidak mungkin akan terjadi, karena sesungguhnya dia bukan pacar atau calon suaminya.
Sedangkan pria yang sedang merokok di depan kontrakan temannya juga tak kalah terkejut mendengar ucapan Rizal, yang menyebutnya calon suami Citra. Hingga dirinya sedikit kecewa mengetahuinya dan masuk ke dalam kontrakan temannya dengan wajah yang bersedih. Incaran mereka sudah laku dan kalah dalam pertandingan untuk mendapatkan hati Citra.
" Kenapa harus berbohong pada tetanggaku juga sih!" Gerutu Citra, saat berada di dalam mobil menatap tajam Rizal yang mulai menyalakan mobilnya.
" Berbohong apa!" Ucap Rizal, belum mengerti akan awal pembicaraan mereka.
" Berbohong kalau kamu calon suamiku. Cukup di depan ke dua orang tua kamu saja kita bersandiwara, jangan dengan di sekelilingku." Kata Citra.
__ADS_1
Dirinya pun juga tidak tau kenapa bisa ia bilang begitu pada tetangga Citra. Jika ia calon suaminya.
" Sorry." Ucap Rizal yang mengakui kesalahannya dan membuat Citra hanya bisa membuang nafas kasar sambil mengerucutkan bibirnya dan rasanya sudah tak sanggup lagi untuk berdebat.
****
Langit yang sudah mulai senja dan dua insan yang sedang asyik bermesraan, menikmati hari barunya sebagai sepasang suami istri, kini duduk tenang di sofa panjang sambil menonton film fantasy dengan Revan yang menidurkan kepalanya di paha Dhira. Suka sekali dengam Dhira yang menyentuh rambutnya dan membelainya dengan lembut.
" Biar aku buka pintunya dulu kak?" Ucap Dhira, mendengar ketukan pintu di sore hari.
" Paling juga Dika yang antarin bik Minah dan Alex pulang." Kata Revan.
" Mungkin!" Jawab Dhira, berandak dari duduknya dan membuka pintu rumah hingga mengerutkan kening melihat kedatangan Kinan di rumahnya.
" Ada apa, kamu kemari?" Tanya Dhira dengan dingin.
" Ya, aku mau ketemu sama saudara ipar lah. Minggir!" Jawab Kinan, menerobos masuk begitu saja di rumah Dhira tanpa menunggu persetujuan dari pemiliknya.
Menutup pintu kembali dan membiarkan saudara tirinya itu masuk ke dalam rumahnya, rasanya malas, marah dan ingin sekali mengusirnya. Tapi dirinya sedikit menghormati ayah saudara tirinya itu, karena dia datang di acara pernikahannya dan selalu menganggapnya sebagai putrinya juga, walaupun sebenarnya dirinya tak perlu memperjelas statusnya sebagai anak tiri.
Melihat seluruh ruangan dan berjalan dengan santai menuju ruang tv hingga menemukan pria yang di incarnya.
" Hay kak?" Sapa Kinan, membuat Revan yang sedanh asyik menonton tv menatap ke sumber suara.
" Hay?" Jawabnya dengan tenang dan tidak menampikkan keterkejutannya saat melihat saudara tiri Dhira yang ada di hadapannya sekarang.
" Lagi nonton film ya Kak! boleh ikut juga kan!" Kata Kinan dan mulai duduk di samping Revan tanpa rasa malu dan tidak mempedulikan statusnya sebagai saudara iparnya.
.
.
.
.🍃🍃🍃
__ADS_1
Mungkin beberapa hari ini aku akan sibuk! mempersiapkan hari pernikahan adik ipar.
Maaf ya🙏 tapi akan aku usahakan untuk update