
Tidak ada yang berubah, semuanya tetap sama. seperti pertama kali kita saling mengungkapkan cinta.
.
.
.
.
Sedikit berjauhan dengan mereka yang sama-sama duduk di ujung sofa panjang sambil menatap langit malam yang mendung, di temani semilir angin yang menusuk kulit hingga ke tulang.
dua puluh menit mereka saling diam dan belum sama sekali berbicara, saling merenungi antara kesal, marah dan takut.
Takut jika Revan di tinggalkan, takut ia menyakiti hati Dhira, takut jika tak sanggup seperti tadi melihat Dhira menangis begitu pilu.
Ingin rasanya ia membunuh dirinya sendiri, karena sudah menyakiti hati kekasihnya. Tapi itu murni, sepenuhnya bukan kesalahannya, kesalahan itu di buat oleh Ayah Dhira yang membuat perusahaannya merugi besar.
Dan entah kenapa, Tuhan mempertemukan anak yang sudah membuat perusahaannya merugi serta membuatnya jatuh cinta, hingga beginilah akhirnya jika Dhira sudah mengetahuinya terlebih dulu sebelum dia menjelaskannya. Marah, kecewa atau bisa dia membencinya dan tak ingin lagi berhubungan dengannya.
Bisakah di ulang kembali, untuk tidak membuat perusahaan ayah Dhira hancur agar dirinya tidak merasa bersalah dan tidak di benci oleh kekasihnya sendiri.
Menghembuskan nafas panjang dan menatap Dhira yang sedang memandang langit malam dengan wajah yang memerah, menahan amarah.
" Maaf." Ucap Revan untuk memulai menjelaskan semuanya.
" Aku tidak bermaksud untuk membuat perusahaan ayah kamu bangkrut, aku hanya meminta hak ku saja. Hanya sedikit tidak banyak." Ujarnya lagi, dan Dhira masih tidak bergeming tetap mendengarkannya walaupun dadanya terasa sesak.
" Tapi aku tidak tau jika jadinya seperti ini, dan membuat kamu menderita. Maafkan aku." dengan Menatap Dhira yang sudah mengeluarkan air mata.
Sakit, sangat sakit sekali saat ia harus mendengar perkataan Revan dan sangat sakit Revan meminta maaf berulang kali padanya, seakan dia sudah berbuat kesalahan yang begitu besar.
Memang iya dia melakukan kesalahan besar, hingga membuatnya harus kehilangan ayahnya. Jika seandainya Dhira di beri pilihan, iya tidak ingin tau semuanya, tidak ingin tau nama Revan, nama perusahaannya, dan apa yang telah dia perbuat pada ayahnya. Sungguh iya tak ingin tau itu, agar dirinya tidak merasakan sakit yang luar biasa dari orang yang dia cintai.
__ADS_1
Mendekat ke arah kekasihnya yang menundukkan kepala, saat dia benar-benar tak kuasa memendam air mata untuk tidak jatuh di pipinya.
" Kamu bisa menghukumku semau kamu, tapi tolong! jangan membenciku." Kata Revan menggenggam lembut tangan Dhira.
Menatap Revan, dengan mata dia yang mulai memerah seakan takut ia membencinya.
" Kau tau kan kak bagaimana sedihnya aku saat keluargaku hancur, saat ayahku meninggal, saat aku bangkit dari keterpurukan dan saat aku mencoba bertahan dengan suamanya. saat aku mengenalmu mencintaimu dan bagaimana sakitnya hati ini saat tau orang yang aku cintai ternyata dia yang sudah membuat hidupku hancur.!" Ucapnya dengan menekan dadanya " Sakit kak, sakit.!" Ujarnya lagi sambil memukul dadanya, hingga membuat Revan harus menahannya.
Menahan ke dua tangan Dhira dengan lembut dan menciuminya berkali kali, Dhira pun menangis begitu bergetar merasakan sesak yang amat dalam saat diperlakukan lembut dengan Revan.
" Hukum aku, jangan sakiti dirimu." Kata Revan. " Pukul aku, tampar aku tapi aku mohon jangan menangis jangan sakiti dirimu sendiri." Ujarnya lagi.
Melepaskan tangannya dari genggaman Revan, menghapus air matanya dan menghembuskan nafas berat serta menatap Revan.
" Sudah malam, sebaiknya kakak pulang." Kata Dhira yang mulai beranjak dari duduknya dan tak ingin memperpanjang perdebatannya saat dirinya benar-benar lelah akan hati yang sakit dan pikirannya.
Pulang? baru pertama kali Dhira menyuruhnya untuk pulang seakan dia mengusirnya dan tidak ingin bertemu lagi dengannya. Sakit rasanya, jika Dhira mengusirnya dan lebih sakit lagi jika Dhira sudah tidak mau bertemu dengannya dan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya.
Mengejar Dhira dan memeluknya dari belakang membuat Dhira terdiam dengan mata yang terpejam. membenamkan wajahnya di bahu Dhira, meneteskan air matanya di sana hingga Dhira merasakan bahunya yang basah.
Butuh beberapa detik untuk Dhira mengatakan isi hatinya. " Iya." Kata Dhira, membuat Revan semakin memeluknya erat, seakan dirinya tidak ingin itu terjadi.
" Aku tidak ingin membencimu dan aku tidak ingin membalas dendam kepadamu, meskipun aku tau sepenuhnya bukan kesalahan kamu."
" Jika aku tidak ingin mengakhiri hubungan ini."
" Aku yang akan pergi darimu." Jawab Dhira dengan jantung yang begitu berdebar.
Hening.
sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing dengan posisi masih memeluk, mendekapnya begitu erat seakan ia tidak rela berpisah.
satu sisi mereka tidak ingin berpisah dan satu sisi ego kemarahan begitu dalam di diri Dhira hingga dia memutuskan secara spontan.
__ADS_1
Marah, sudah pasti Revan marah! Marah dengan keputusan Dhira dan marah akan dirinya sendiri.
" Apa kau yakin." Kata Revan sekali lagi. " Apa tidak ada jalan untuk kita perbaiki." Tanyanya lagi.
" Aku tidak yakin untuk bisa memperbaiki semuanya, aku harap ini jalan yang terbaik bagi kita." jawab Dhira
Jalan terbaik! ini bukanlah jalan terbaik, tapi justru membuat mereka saling menderita dan sedih akan petusan yang membuatnya pilu.
Ingin rasanya Revan bilang, ' Tidak ' saat dirinya tak ingin hubungannya berakhir. Sungguh bukan ini kemauannya. ia berharap ini hanyalah mimpi dan ketika membuka mata semuanya akan baik-baik saja.
Tapi sayang saat dirinya membuka mata itu bukanlah mimpi dan ini kenyataan yang harus ia terima.
" Sakit Tuhan, sakit." gumam Dhira dalam hati memejamkan mata dan menyentuh tangan Revan untuk melepaskannya.
" Biarkan begini sebentar saja dulu sebelum aku pergi, aku mohon.!" pinta Revan dengan meraih tangan Dhira untuk ia genggam dan masih memeluknya dari belakang.
Saling memeluk untuk yang terakhir kali dengan mereka yang saling membelakangi dan membagikan rasa cinta yang begitu dalam serta hancur dalam sekejap.
membalikkan badan Dhira, saling menghadap dan saling menatap mata begitu lama, hingga tanpa sadar bibir mereka sudah menyatu, memberikan ciuman manis begitu dalam dan lama untuk yang terakhir kalinya. saling menyatukan kening saat mereka mengakhiri ciumannya dan saling mengambil oksigen menghirupnya dalam dalam.
" Terima kasih sudah mau mencintaiku, terima kasih untuk semuanya. Maaf jika selama ini aku mempunyai salah." Ucap Revan yang masih saling menyatukan keningnya.
" Aku akan selalu mencintaimu, sampai kapanpun akan selalu begitu. Dan tolong jangan membenciku." Ujarnya lagi dengan mengusap pipi Dhira, hingga Dhira kembali menangis dan menatap Revan yang juga mengeluarkan air mata.
Mencium kening Dhira begitu lama, dan memeluknya serta mencium puncak kepala beberapa kali sebelum akhirnya dia melepaskannya.
" Aku pulang.! jangan nakal, dan jaga baik-baik diri kamu." Kata Revan dengan tersenyum dan melangkah pergi tanpa melihat kebelakang saat dirinya tak sanggup untuk melihat Dhira.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃