Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
nikah dadakan


__ADS_3

Karena sejatinya pria adalah tepatin janji, bukan obral janji.


.


.


.


.


Dhira pikir ucapan Revan hanya lelucon atau gombalan semata, tapi nyatanya tidak. Justru ucapannya adalah nyata adanya, dan membuatnya sangat terkejut.


Pagi sekali suruhan Revan datang ke rumah Dhira dengan membawa baju kebaya serta alat make up untuk merias wajah Dhira yang sama sekali belum membersihkan diri.


Bukan hanya Dhira saja yang merasa terkejut, Bik Minah pun sama terkejutnya dan bingung dirinya belum sempat masak besar jika mempunyai hajatan.


Sempat berdebat kecil pada orang yang mau merias wajah Dhira lantaran Dhira masih butuh penjelas terlebih dulu pada Revan sebelum di rias, hingga sang perias pun pasrah dan memberi waktu pada Dhira untuk menelpon Kekasihnya.


Menelpon Revan, hingga Revan pun mengatakan di sebrang sana jika dirinya tidak main-main dalam ucapannya kemarin dan Revan meminta Dhira untuk tidak membatalkannya karena dirinya akan datang bersama keluarga besarnya.


Sempat memarahi Revan karena seenak jidatnya saja dia menentukan akad nikah tanpa mendiskusikannya dulu padanya. Bukan tidak siap menikah dengan Revan, dirinya sangat siap. Tapi dirinya kini belum mempersiapkan makanan dan bingkisan untuk Keluarga Revan.


Dan dengan terpaksa dirinya meminta tolong pada dua sahabatnya yang mungkin sedang tidur nyenyak. Menelponnya dua kali hingga mereka mengangkatnya.


Dua sahabatnya pun juga sama terkejutnya, hingga mau tidak mau mereka juga harus mencari bingkisan buah tangan untuk keluarga Revan serta mencari restoran yang buka di pagi hari. Sungguh sangat merepotkan.


" Nikahmu kenapa mendadak sih Dhir.!!" Sungut Citra saat berada di kamar Dhira. " Kamu hamil.!!" Ujarnya lagi, dengan menyelidik dan membuat Dhira serta perias wajah sedikit terkejut dan menatap Citra.


" kamu kalau ngomong sembarangan saja.!" Pekik Dhira.


" Lha terus kenapa mendadak banget nikahnya.!" gerutu Citra.


" Tanya saja tu nanti sama Kak Revan, aku juga kaget. Masih tidur di bangunin sama bibik tau-tau ada MUA datang." Jawab Dhira dengan pasrah.


" Semalam yang telpon Nyonya Vani, menyuruh saya untuk ke sini. Bawa baju kebayak dan menyuruh saya untuk merias wajah menantunya." Kata perias.


" Haiss, mama sama anak sama saja sifatnya. Suka buat orang terkejut." Lirih Dhira.


" Gila ya pacar mu itu, nekat sekali.!" Seru Citra. " Di sogok berapa tu nanti penghulu." imbuhnya lagi.


" Mana aku tau." Jawab Dhira.

__ADS_1


" Sudah mba, ayo sekarang ganti baju." Perintah perias dan di anggukkan Dhir serta berdiri dari duduk di depan kaca.


Mengganti baju kebayak yang sudah di siapkan dan di bantu oleh asisten perias untuk membetulkan kebayaknya.


" Cit.!!" Seru Dhira yang melihat Citra merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan sedikit memejamkan mata saat dirinya masih mengantuk dan lelah mencari bingkisan kue untuk keluarga Revan.


" Apa?" Jawab Citra dan mulai duduk kembali, serta menatap takjub Dhira dari ke atas hingga bawah, penampilan yang sangat berbeda.


" Ini kamu Dhir.?" Tanya Citra.


" Bukan, setan." jawab Dhira, membuat Citra mengerucutkan bibirnya.


Berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Dhira, serta tersenyum melihat sahabatnya yang begitu cantik begitu sudah di rias.


" Kamu cantik sekali Dhir." Puji Citra membuat Dhira sedikit malu.


" Ahh!! temanku ini akan nikah hari ini." Ujarnya lagi dengan mata yang mulai berkaca.


" Selamat ya.! semoga sakinah mawadah warohma. Menjadi keluarga yang bahagia." Ucap Citra tulus dengan menggenggam tangan sahabatnya, membuat Dhira meneteskan air mata.


" Terima kasih." Kata Dhira.


" Jangan lupain aku ya kalau sudah nikah." kata Citra dan menghapus air mata Dhira.


" Dhira, Citra.!" Ucap Dika saat membuka pintu kamar Dhira, membuat dua sahabat itu melepaskan pelukannya dan menatap sumber suara.


Masuk ke dalam kamar Dhira sambil menatap lekat dua sahabatnya yang menghapus air mata, dan menatap Dhira dari atas hingga bawah.


" Ini siapa, Dhira.?" Tanya Dika.


" Bukan, Bik Minah." Ketus Citra, membuat Dhira dan Dika tertawa kecil.


" Kamu mau nikah.!" Tanya Dika. " Sudah siap berumah tangga nich." Ujarnya lagi.


" Insyaallah ." Jawab Dhira, membuat Dika tersenyum.


" Jadi istri yang baik, nurut sama suami, apapun yang terjadi dalam rumah tangga hadapi dengan kepala dingin, jangan gampang kabur dari rumah." Tutur Dika, membuat dua sahabatnya saling mengerutkan kening dan saling menatap.


" Tumben jadi ustad dadakan." Cibir Citra, dan di anggukkan Dhira dengan menahan tawa.


" Demi kebaikan dalam berumah tangga." Jawab Dika dengan wajah tersenyum membuat Dhira dan Citra ikut tersenyum

__ADS_1


" Semoga menjadi keluarga yang sempurna, langgeng sampai kakek nenek." Kata Dika dengan tulus.


" Makasih Dik." Ucap Dhira.


" Mau peluk." Kata Dika dengan merentangkan ke dua tangannya berniat ingin menggodanya saja malah Dhira justru memeluknya dan Citra pun sama juga ikut memeluknya.


" Kita akan tetap seperti ini ya, menjadi sahabat sampai tua nanti." Kata Citra yang mulai menangis.


" Selamanya kita akan menjadi saudara, walaupun bukan sedarah." Jawab Dika, dan mendapatkan pukulan kecil dari sahabatnya.


" Kalau begini, aku seperti mempunyai istri dua." Goda Dika dengan tertawa sambil memeluk dua sahabatnya dan lagi-lagi mendapatkan pukulan dari dua sahabatnya sambil tertawa bersama.


" Dhira.?" sapa wanita tua, membuat tiga orang yang masih berpelukan langsung melepaskan dan menatap sumber suara.


Dika dan Citra sedikit terkejut dan menatap Dhira yang sedang menatap Nyonya Devi hingga dia tersenyum untuk membalas sapaan dan juga kedatangannya.


Bukan Revan yang mengundangnya, tapi Dhiralah yang mengundangnya lewat telpon. Memang tidak sopan mengundang orang tua lewat telpon, tapi karena mendadak dirinya pun harus bilang pada orang tuanya. Walaupun sebenarnya Dhira enggan sekali bertemu ibunya.


Dirinya masih mempunyai ibu dan alangkah baiknya ego dirinya ia turunkan untuk sementara agar ibunya juga bisa merasakan kebahagian melihat putrinya menikah.


" Anda datang Nyonya." Ucap Dhira dengan tersenyum.


" Iya, mama datang untuk melihat putri mama yang akan menikah." Jawab Nyonya Devi dan membalas senyuman Dhira.


" Terima kasih sudah mengundang Mama, mama senang dan bahagia melihat putri mama akan menikah."


" Maafkan mama, mama tidak membawa apa-apa untuk kamu." Ujar Nyonya Devi.


" Tidak papa, yang terpenting doa dan restunya saja Nyonya." Jawab Dhira, membuat Nyonya Devi mengangguk walaupun sedikit kecewa Dhira masih enggan memanggilnya mama. Tapi setidaknya dirinya senang Dhira sedikit mulai sedikit membuka pintu maaf untuk dirinya.


Tidak ada lagi percakapan hingga mereka sama-sama diam, sedikit canggung karena memang entah apa lagi yang harus di bicarakan.


Dika dan Citra pun menyalimi mama Dhira dengan sopan dan tersenyum, meskipun sebenarnya mereka juga merasa bingung harus melakukan apa lagi sebab antara anak dan ibu masih belum bisa berdamai.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Maaf atas keterlambatannya.


Oh, iya mau kasih tau jika ingin membaca cerita babang Dika mampir yuk di aplikasi gambar pena warna hijau yang bertulis K*M dengan judul CINTA SI BRONDONG. jangan lupa mampir ya.😁😁


__ADS_2