
Aku semakin takut kehilanganmu, saat dirimu sudah tau semuanya.
.
.
.
.
Rumah yang mungil dan sudah di hias dengan sederhana serta menggelar karpet untuk menerrima tamu, duduk berlesehan saat rumahnya tak cukup untuk menampung kerabat Revan yang ikut hadir dalam lamaran.
Hanya meminta sederhana, cukup di rumah dan membawa kerabat yang tidak terlalu banyak sebagai saksi acara lamaran.
Bukan hanya kerabat Revan saja yang datang, tapi juga ibu dan ayah tiri Dhira turut hadir di acara lamarannya, hingga membuat sedikit terkejut Nyonya Vani serta Revan saat melihat mereka menyambutnya dengan ramah.
Pasalnya Dhira tidak pernah bilang pada Revan jika dirinya mengundang ibu dan ayah tirinya, Tapi itu tidak masalah bagi Revan yang terpenting Dhira senang dan tidak merasa sendiri.
Membawa sedikit hantaran dan bingkisan kue untuk Dhira dan menyerahkannya pada penerima tamu.
" Ma, adik ipar aku yang mana?" Tanya Eva antusias yang juga ikut dalam acara lamaran Revan.
Ya, Arzan menepati janji untuk ikut di acara lamaran Adiknya, serta membawa istrinya yang juga begitu semangat untuk melihat calon adik iparnya secara dekat, lantaran dulu dirinya hanya melihatnya jadi kejauhan.
Cemburu, tidak. Bagi Arzan itu hanya masa lalu dan tidak boleh cemburu dengan Revan lagi saat Revan dan dirinya memutuskan untuk mengubur dalam-dalam antara cinta segitiga.
Walaupun mantan, Eva tetap menjaga jarak meskipun Revan sudah menjadi adik iparnya. Ia ingin menjaga hati suaminya agar suaminya tidak salah paham dan akan membuat rumah tangganya hancur.
" Dia belum keluar.!" Jawab Nyonya Vani, yang duduk di sebelah Eva.
Nyonya Vani yang baru pertama kali memasuki rumah Dhira, dia pun mencoba melihat seisi ruangan yang tidak terlalu luas, rapi dan bersih. sungguh nyaman rumah Dhira dengan nuansanya yang dia atur begitu baik.
" Silahkan di minum dulu Mbak?" sapa ramah Nyonya Devi dengan tersenyum.
" Iya, terima kasih Mbak." Jawab Nyonya Vani dengan tersenyum. " Dhira ada di mana Mbak." Tanyanya.
" Lagi di atas, sebentar lagi akan turun." Jawab Nyonya Devi dan di anggukkan Nyonya Vani.
Di kamar atas, Dhira yang sedang duduk di depan meja rias dengan di temani Citra yang duduk di ujung ranjang sambil melihat foto-foto yang dia ambil untuk di abadikan, foto Dhira dengan dirinya, Dhika dan Alex.
" Kamu cantik sekali.!" Puji Citra yang sudah selesai melihat foto dan menatap Dhira
__ADS_1
" Kamu juga cantik." Puji kembali Dhira untuk sahabatnya.
" Ah .. Sahabat ku habis ini sudah tidak lajang lagi.!" Seru Citra dengan tertawa di ikuti Dhira yang hanya tersenyum.
" Aku akan merindukan sahabatku ini." Ucapnya yang tiba-tiba jadi mellow. " Selamat ya sayang." tambahnya dengan memeluk Dhira dari belakang.
" Makasih Cit." Kata Dhira. " Semoga kamu juga cepat nyusul." Ujarnya dan mengusap tangan sahabatnya yang berada di bahunya.
" Nyusul sama siapa, orang belum punya pacar." Cibir Citra dengan cemberut.
" Ya sudah ayo turun, ibu mertua kamu sudah nungguin tu di bawah." Ajak Citra dan di anggukkan oleh Dhira. Berdiri dari duduknya dan menghembuskan nafas panjang untuk mengurangi rasa gugup.
Berjalan bersama dengan Citra menuruni anak tangga dengan hati-hati, sampai di ujung anak tangga mata Revan tertuju dengan Dhira yang terlihat dewasa dan cantik hingga dirinya tersenyum.
" Nak Dhira?" Sapa Nyonya Vani dengan tersenyum.
Menghampiri ibu mertuanya, mencium tangannya serta menatap wanita yang ada di samping ibu mertuanya yang memandangnya dengan senyum ia pun juga ikut tersenyum dan menyaliminya. Dhira pun duduk bersebelahan dengan ibu kandungnya dan Citra.
Tuan Gio yang berada di samping anaknya pun mulai membicarakan hal serius dengan ayah angkat Dhira, meminta Dhira sebagai menantunya dan membicarakan hari pernikahannya juga.
Tuan Hasan menerima lamaran dari Revan hingga membuat semua orang merasa senang, dan acara pemberian cincin pun di lakukan.
Semua orang yang melihatnya ikut senang dan bertepuk tangan. Revan dan Dhira saling memandang dan tersenyum.
Memberikan jamuan makan dengan berlesehan dengan Dhira yang kembali ke perkumpulan dengan para wanita.
" Dhira, kenalin ini Mba Eva kakak ipar Revan." Ucap Nyonya Vani memperkenalkan Dhira dengan Eva.
" Hay.?" Sapa Eva dengan tersenyum.
" Hay Mba." Jawab Dhira dengan membalas senyumnya.
" Di lihat sedekat ini ternyata kamu manis." Puji Eva.
" Mba Eva juga cantik." Kata Dhira. " Sudah berapa bulan mbak." Tanya Dhira.
" Delapan bulan." Jawab Eva. " Kapan-kapan main ya ke rumah sama Mama biar aku enggak sendiri di rumah." Pinta Eva, dan di anggukkan oleh Dhira. hingga mereka saling mengobrol tidak ada rasa canggung sama sekali hingga begitu akrab seperti sudah lama mengenal.
" Saya tidak menyangka akan berbesan dengan Pak Gio." Ucap Tuan Hasan yang sedang berbincang dengan Tuan Gio.
" Saya baru tau jika anda ayah Dhira." Kata Tuan Gio.
__ADS_1
" Saya ayah sambung Dhira." Jawab Tuan Hasan. " Dan saya sudah menganggapnya sebagai anak saya sendiri, walaupun dia tidak mau tinggal di rumah saya." sambungnya lagi, dengan menatap putri tirinya.
" Dia gadis yang kuat dan pemberani." Ucap Tuan Gio, dan di anggukkan oleh Tuan Hasan.
" Andai anak itu tau, kenapa mamanya melakukan itu semua dan sedikit membenci ayahnya." Gumam Tuan Hasan dan masih terdengar Tuan Gio hingga dirinya mengerutkan keningnya.
" Maksut Pak Hasan." Tanya Tuan Gio hati-hati.
" Ah, maaf saya sedikit ngelantur." Jawab Tuan Hasan dengan senyum canggung. " Mari pak kita makan." Ajak Tuan Hasan untuk menghindari pertanyaan Tuan Gio yang sangat penasaran.
Bukan maksut ingin mencampuri urusan keluarga besan, tapi dirinya memang sangat penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi dan mungkin saja putranya bisa membantu serta mencari solusi untuk calon istri dan ibu mertua itu bisa berbaikan.
Acara makan dan perkenalan sesama kelauraga pun sudah usai dan mereka saling mengabadikan foto bersama sebelum calon besan pulang ke rumah.
" Terima kasih atas jamuannya dan terima kasih sudah menerima lamaran putra kami untuk putri anda Pak Hasan." Ucap Tuan Gio.
" Sama-sama Pak Gio, saya juga berterima kasih sudah mau menerima putri kami sebagai calon menantu anda." Kata Tuan Hasan, dan di anggukkan oleh Tuan Gio.
Berpamitan pulang dengan berjabat tangan dan saling memeluk sebagai rasa bahagia.
" Terima kasih Mbak sudah mau menerima putri saya." Ujar Nyonya Devi.
" Saya yang beruntung bisa mendapatkan menantu seperti Dhira." Kata Nyonya Vani dengan tersenyum dan membuat Nyonya Devinjuga ikut tersenyum.
" Mama pulang dulu ya sayang, jangan lupa besok ke rumah mama." Ucapnya, saat berhadapan dengan menantunya.
" Iya ma." Jawab Dhira dengan tersenyum.
Mengantarkan keluarga calon besan dan calon suaminya ke depan rumah saat mereka akan pulang.
" Aku pulang dulu." Pamit Revan.
" Iya, hati-hati." Jawab Dhira dengan sedikit senyum dan membuat Revan merasa heran akan perubahan Dhira beberapa hari yang tidak seperti biasanya. Dan di acara lamarannya pun Dhira seperti menghindar dari Revan dan sama sekali belum mengobrol.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1