Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
Panik


__ADS_3

Karena kebahagian tidak akan pernah terukir oleh kehadiran tangan mungil yang menggenggam jari kita.


.


.


.


.


" Loe, ngapain ke sini?" Ucap Kinan, melihat Dhira yang baru saja menginjakkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.


Ya, Dhira yang baru datang di sambut oleh Kinan yang juga akan keluar rumah dan kemungkinan mereka akan mulai berdebat jika tidak ada yang mau mengalah ataupun melerai mereka.


" Mau ketemu nyokap lah, kangen. Masak mau ketemu sama loe. Ogah!" Seru Kinan, membuat Kinan mengerutkan kening.


" Tiap hari ketemu bilang kangen!" gumam Kinan. " Bilang saja kalau mau numpang makan." Ujarnya lagi.


" Nah!! Tu tau aja." Jawab Dhira dengan senyum. " Mana mama?" Tanyanya, dengan melihat seluruh ruangan.


" Mama enggak ada!" Ucap Kinan, membuat Dhira mengerutkan kening.


" Enggak ada! Terus kemana mama." Tanya Dhira.


" Keluar sama papa hadirin pesta!" Jawab Kinan. " Loe sendiri ke sini?" Tanya Kinan baru menyadari jika Dhira berdiri sendiri di hadapannya.


" Sama kak Revan, tapi dia lagi nganterin kak Alex ke mini market." Jawab Dhira berjalan menuju sofa, merasa lelah berdiri terus. Di ikuti Kinan yang merasa sedikit kasihan melihat kaki Dhira yang bengkak seperti gajah dan perut yang semakin membuncit.


" Seharusnya kamu gak boleh kemana-mana lagi. itu sudah sembilan bulan, kalau brojol di jalan gimana!" Khawatir Kinan, meskipun mereka saling bertengkar tapi Kinan juga tidak bisa tega melihat saudara tirinya yang kelelahan.


Mendapatkan perhatian kecil dari saudara tirinya membuat Dhira mengerutkan kening, hingga tanpa sadar dirinya tersenyum walaupun ucapan Kinan sedikit ngawur.


" Kamu pikir aku kucing apa? Bisa nglahirin di sembarang tempat." gerutu Dhira, sambil menggelengkan kepala.


" Ya, mungkin saja bisa!" Seru Kinan.


" Aku haus?" Ucap Dhira.


" Bik!"


" Jangan panggil Bibik!" Cegah Dhira, membuat Kinan memicingkan mata. " Tolong ambilkan aku minum ya ... ini ponakan kamu yang meminta." Pinta Dhira, dengan tersenyum lebar mata yang berkedip-kedip.


Kinan yang mendengarnya pun melototkan mata, mendesis tak percaya akan apa yang ia dengar. Mengambilkan minum untuk saudara tirinya, dengan alasan ponakan yang masih di dalam kandungan yang memintanya.


Sungguh, jika Dhira sudah seperti ini di hadapannya ia pun tak berdaya untuk menolak, karena setiap Dhira meminta tolong padanya dengan mengatas namakan ponakannya ia pun harus rela melakukannya. Jika tidak mau, Dhira bisa mengadu pada mamanya dan akan mendapatkan ceramah panjang yang selalu di ulang-ulang.


Menghembuskan nafas berat dengan bibir sedikit mengerucut, berdiri dari duduknya menuju dapur dengan malas. Dhira yang melihat itu, merasa senang dan tersenyum serta mengusap perutnya yang sedikit sakit.

__ADS_1


" Kapan lagi dek bisa ngerjain tante kamu yang cerewet dan manja itu." Lirihnya dengan tertawa pelan, serta meringis kesakitan.


" Gara-gara mama, tu anak tomboy mulai ngelunjak.!" Gerutu Kinan, sambil mengambilkan air minum dari dalam kulkas.


" Kalau enggak demi ponakan dan cucu, ogah gue di suruh-suruh gini.!" Ujarnya lagi, menuangkan air minum dalam gelas kaca dan membawanya ke ruang tamu.


" Ini!" Ucap Kinan, mengulurkan gelas kehadapan Dhira.


" Makasih?" Kata Dhira, tersenyum merekah menahan sakit.


" Kamu mau kemana?" Tanya Dhira melihat Kinan mengambil tas.


" Ada janji sama teman, sudah di tunggu di cafe."


" Kamu tega ninggalin aku sendiri!" Melas Dhira, membuat Kinan menatapnya dan melihat wajah Dhira yang berkeringat dan sedikit pucat.


" Kamu kenapa?" Tanya Kinan.


" Perutku mulas?" Jawab Dhira, meringis kesakitan merasakan perutnya yang semakin sakit.


" Eh!" Pekik Kinan. " Kamu mau lahiran!!" Tanyanya, mulai panik dan menghampiri Dhira.


" dokter bilang pertengahan bulan, tapi ini masih awal kan." Lirih Dhira, membuat Kinan semakin terkejut.


" Astaga Dhira!!" Seru Kinan " Kan sudah mama bilang, seharusnya jangan kemana-mana kalau mau lahiran. Kalau kayak gini, ini gimana!" Panik Kinan, tidak tau harus berbuat apa.


" Dhira?" Ucap Revan yang baru datang mendengar teriakan Kinan dan melihat istrinya yang berkeringat dan pucat.


" Kamu dari mana saja kak!" Seru Kinan.


" Dhira kenapa!" Tanya Revan.


" Bawa ke rumah sakit! Dhira mau melahirkan!!" Ucap Kinan, membuat Revan terkejut.


" Apa!!"


****


" Kamu lapar beneran yank?" Tanya Rizal, duduk di hadapan Citra menatapnya tak percaya akan dua piring nasi goreng yang habis tak tersisa sebutir pun.


" Enggak juga." Jawab Citra, meminum air dengan tandas. Merasa kenyang dan tersenyum.


" Enggak juga, tapi dua piring habis." Gumam Rizal, hingga terdengar oleh Citra.


" Enggak iklhas nich!" Seru Citra, mengerucutkan bibir.


" Eh, iklhas yank." Jawab Rizal cepat dan tersenyum lebar, meskipun sebenarnya tak percaya akan apa yang dirinya lihat.

__ADS_1


Dua piring nasi goreng buatannya ludes di makan istrinya, seperti orang yang belum makan selama beberapa hari atau seperti istrinya ini sedang kerasukan makluk halus yang kelaparan. Pikir Rizal!


" Makasih ya sayang, sudah di buatin nasi goreng? Enak." Ucap Citra, tersenyum lebar membuat Rizal juga ikut tersenyum.


" Yank!" Panggil Rizal sambil memainkan alis.


" Ihh ... Libur dulu!" Tolak Citra, tau kode yang di sampaikan Rizal padanya. Dan pergi meninggalkan Rizal menuju ruang tamu, menyalakan tv dan berbaring di atas sofa.


Rizal yang melihatnya, hanya mendesis tak percaya akan penolakan Citra. Ia pun tidak kehabisan akal untuk mendapatkan haknya malam ini. Karena ia sudah memasak untuk istrinya dan istrinya pun harus membayarnya.


Berjalan menuju sofa yang di tiduri Citra dan mengangkat tubuh Citra dengan sekejab hingga membuat sang pemilik tubuh terkejut dan mengalungkan ke dua tangannya di leher Rizal.


" Aku enggak mau di tolak." Kata Rizal, kembali tersenyum menatap mata istrinya yang membulat.


" Kakak!! ah." Seru Citra, yang menahan senyum saat dirinya tidak berhasil membuat suaminya marah.


Ya, Citra hanya mencoba menolak ajakan Rizal ingin melihat bagaimana suaminya ini marah atau ngambek kepadanya. Selama ini dirinya tidak pernah tau bagaimana Rizal menunjukkan kemarahannya dengannya ataupun mendiamkannya, dia tidak pernah melakukan itu padanya


Sungguh Rizal sangat sabar dan sangat penyayang hingga dirinya sangatlah bersyukur.


Berada di gendongan Rizal dirinya menyandarkan kepalanya di dada suaminya, sangat menyenangkan dan sangat menenangkan hingga dirinya tak sadar jika sudah berada di ranjang bersama Rizal.


Mendaratkan satu ciuman di kening Citra cukup lama, dengan saling menutup mata. dan mendaratkan ciuman di bibir istrinya dengan singkat.


" I love you sayang." Bisik Rizal.


" Love you too kak." Jawab Citra, tidak ada bosannya untuk menjawab cinta dari suaminya.


Di saat mereka akan menyatukan bibir, di situlah bunyi dering dua ponsel berbunyi bersamaan hingga membuat dua pemilik ponsel menatap ke arah laci, menghembuskan nafas berat saling melempar pandang sebelum mengangkatnya bersamaan.


" Hal-."


" Cepat ke rumah sakit!! Dhira melahirkan!!"


" Apa!!" Pekik Citra.


" Melahirkan!" lanjut Rizal, saling duduk bersamaan dan saling memandang saat mendengar kabar suara dari sebrang telpon.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2