
Dua hal dalam Keterpaksaan, membuat keberuntungan atau kesengsaraan sendiri.
.
.
.
.
Dua pria gagah berjalan beriringan bersama dengan satu yang menggambarkan wajah kegembiraan dan yang satu menggambarkan wajah yang muram dalam kegundahan atas perbuatannya sendiri.
Sial, bukan. Tapi memang sudah takdir harus menerima kenyataan, jika dirinya akan menanggung semua resiko besar dalam hidupnya.
Inilah dia yang dulu enggan sekali untuk berurusan dengan wanita, merepotkan dan menyebalkan.
Tapi tidak semerepotkan seperti Citra. Dia wanita mandiri, tidak gampang mengeluh dan berani menghadapi masalah dalam sendiri.
Kesederhanaan pada Citra itulah yang membuat Rizal mau menerima tanggung jawab untuk menikah dengan Citra walaupun belum ada sayang dan cinta, walaupun mereka belum sepenuhnya kenal satu sama lain.
Wajah yang berseri, tersenyum mengembang setiap ada sapaan hangat dari semua karyawannya. Hingga karyawan wanita begitu terpesona akan ketampanan dan senyum bibir yang menawan dari seorang ceo yang baru saja menikah dengan kekasih tercintanya dan menjalani kehidupan yang baru. Bertanggung jawab dalam keluarga kecil serta melindungi keluarganya dari orang yang akan berbuat masalah.
Hati yang menghangat kala mendapatkan sarapan di pagi hari dengan suami yang meminta jatah lebih untuk aktivitasnya sebelum berangkat dan memulai pekerjaan barunya. Dan di sini lah dia yang mengembangkan senyumnya pada siapa saja yang menyapanya di dalam kantor.
Berada di ruangan masing-masing, memulai aktivitas kembali dengan semangat. Melupakan sejenak rasa senang dan rasa sedih saat melihat pekerjaan yang menumpuk di atas meja.
***
" Besok akan ada ke dua orang tua pacarku ke sini." Ucap Citra, berada di meja makan di siang hari dengan ayah dan ibu tirinya.
__ADS_1
Menatap ke arah Citra saling terkejut akan perkataan Citra yang mempunyai kekasih dan akan ada ke dua orang tua kekasih ke rumah.
" Kamu mempunyai pacar.!" Selidik ayahnya. " Sejak kapan."
" Sudah lama." Jawab Citra.
" Kenapa mendadak bilang, apa kamu hamil." Ucap ibu tiri Citra, membuat Ayah dan anak menatap tajam ke arah ibu tiri.
" Benarkan mas yang aku bilang, anak jaman sekarang itu kalau enggak pernah pulang-pulang berarti dia lagi sama pacarnya. Dan itu akibatnya akan merusak nama baik keluarga." Ujarnya lagi, mencoba menyalakan api untuk membuat suasana panas antara anak dan ayahnya.
" Tapi saya bukan seperti anda tante! Saya enggak pulang ke rumah bukan berarti saya wanita nakal, apa lagi merayu suami orang. Bukan selera saya." Sindir Citra tersenyum sinis menatap ibu tirinya yang menatap tajam.
" Citra!" Pekik Ayahnya.
" Memang kenyataan bukan! Seharusnya merawat istri malah di tinggal senang-senang. Istri sudah meninggal malah masih numpang di rumah istrinya, apa lagi bawa selingkuhan tinggal satu atap." Ucap Citra pedas, menekankan bahwa di rumah ibunya, ayah serta ibu tirinya tidak ada hak untuk tinggal di rumahnya.
" Citra!!" Hardik Ayahnya dengan meninggi, menggebrak meja mendengar perkataan putrinya. Ibu tiri yang tidak terima pun berdiri dari duduknya wajah yang memerah tangan yang mengepal serta menatap tajam ke arah Citra.
" Aku sudah enggak sanggup ya mas, anak kamu ini sangat keterlaluan. Aku sudah sabar dan mengalah tetap saja dia membenciku." Ibu tiri yang mulai mencari perhatian, mengeluarkan air mata buaya agar suaminya bersimpati padanya.
Mendesis tak percaya akan akting dari seorang ibu tiri, yang tidak tau malu akan apa yang pernah dia perbuat saat tidak ada ayahnya.
Berpura-pura baik di depan ayahnya dan jahat jika tidak ada ayahnya. Ingin sekali ia memasang cctv agar perbuatan ibu tirinya itu bisa ia perlihatkan pada ayahnya. Tapi percuma saja itu pasti dia bisa mengelak dan akan mencari alasa yang lebih bagus agar suaminya tetap percaya padanya.
Sudah muak akan sandiwara yang di perlihatkan dari seorang ibu tiri, berdiri dari duduknya, mengambil tas melemparkan sesuatu yang ada di dalam tasnya dan melemparkannya tepat di depan meja makan ayahnya.
" Di dalam flashdisk ada kejutan yang berharga buat kalian berdua, semoga bermanfaat." Kata Citra tersenyum mengembang membuat ke dua orang dewasa menatapnya dengan penuh selidik. Hingga ayah Citra mengambil flashdisk yang di lempar putrinya itu menatapnya dengan penasaran isi apa di dalam fale itu.
" Biar aku yang lihat mas." Kata ibu tiri akan mengambil flashdisk di tangan ayah Citra, tapi begitu cepat ayah Citra mengalihkan tangannya.
__ADS_1
" Kita lihat bersama." Jawab Ayah Citra, berjalan terlebih dulu meninggalkan meja makan menuju kamarnya di ikutinya dari belakang dengan penasaran akan apa yang ada di dalam isi flashdisk itu.
Selamat menembuh akhir baru.!" gumam Citra mengintip dari celah gorden di ruang tamu, melihat expresi ayah dan ibu tirinya ketika menatap benda yang dia berikan dengan rasa penasaran.
***
" Sudah mau sore, aku pulang dulu Cit." Pamit Dhira, berada di depan bar tander melihat Citra sedang merapikan uang di dalam kasir.
" Cihh!! mentang-mentang udah nikah pulangnya lebih awal. Bilang saja mau nyambut suami pulang." Ucap Citra, membuat Dhira tersenyum malu.
Memang benar dirinya tidak bisa pulang lebih awal, apa lagi belum terlalu sore. Mungkin ini awal yang baru saat dirinya sudah menikah dan ada anggota baru dalam rumahnya sebagai kelapa keluarga. Menghormati suami dan melayaninya ketika sudah berada di dalam rumah, meninggalkan aktivitas cafe sementara jika sudah berada di rumah dan berduan dengan suaminya.
Inilah hidup Dhira yang sebenarnya, bukan lagi gadis tomboy yang suka pulang hingga malam hari, meninggalkan satu persatu kebiasaannya yang berkumpul dengan teman club dan hobby balapannya.
" Kamu akan merasakannya nanti kalau sudah nikah." Kata Dhira. " Dahh, aku pulang dulu!!" Ujarnya lagi, meninggalkan Citra yang terdiam menatap punggungnya hingga keluar dari cafe.
Merasakannya kalau sudah menikah! mungkin tidak seperti kamu Dhir, saling mencintai. Dan ini pasti sulit untuk aku jalani." Gumamnya dalam hati tersenyum miris mengingat perkataan Dhira.
Dan teringat kembali akan kejadian pagi tadi, mendapatkan sidang dari ke dua orng tua Rizal dan akan datang besok ke rumahnya, entah apa yang akan terjadi bila kedua orang tua Rizal bertemu dengan Ayah dan Ibu tirinya itu. akankah di sambut baik atau malah sebaliknya.
Jika dirinya di jelek-jelekkan oleh ibu tirinya, itu adalah kesempatan untuk dirinya tidak menikah dengan Rizal dan akan terbebas dari jeratan pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta. Tapi dirinya akan tetap terbelengku dalam kehidupannya yang suram jika tidak menikah dengan Rizal dan entah angin kemana akan pergi membawanya dalam kedamaian yang dirinya inginkan.
.
.
.
.🍃🍃🍃
__ADS_1
Doble upnya malam nich. Maaf ya.😁😁