
Hal yang paling aku benci ketika jomblo dan di tanya, kapan nikah.!
.
.
.
.
Rizal yang sedang tidak semangat sekali dalam bekerja membuat si bos menatapnya dengan mengerutkan keningnya, dengan Rizal yang mulai duduk di depannya dan menyandarkan tubuhnya di kursi serta sedikit menggoyangkannya.
" Kau kenapa.?" tanya Revan dengan melihat berkas yang akan di tanda tangani.
" Emak ku datang ke apartemen." jawab Rizal dengan tidak semangat.
" Terus kenapa muka mu lecek gitu kalau emak mu datang ke apartemen." tanyanya lagi. " Enggak suka.!" ujarnya lagi.
" Seneng malah klao emak ku datang ke apartemen." jawabnya, membuat Revan menatapnya sebelum dia mengucapkan lagi. " Yang aku enggak suka dia tanya, kapan di kasih mantunya! tu teman arisan Mama sudah punya cucu semua." tambahnya lagi dengan menirukan ucapan Mamanya, mendengar keluhan Mario membuat Revan yang ada di hadapannya pun tertawa.
" Hahahah jomlo akut." cibik Revan membuat Rizal menatapnya. " Aku sudah laku dan tidak jomlo lagi." ujarnya dengan sisa tertawanya yang melihat Rizal menatapnya seakan mengolokkan dirinya yang juga sama dengan dia, jomblo di tinggal nikah.
Rizal yang sudah berumur dua puluh tujuh tahun itu masih setia dengan kesendiriannya, tidak ada dalam daftar Rizal untuk berpacaran, hanya sekali suka dengan wanita malah dia mundur sebelum berperang. Mengetahui wanita itu dekat dengan pria yang selalu tersenyum dan ramah saat berada di dekat dia.
Memang banyak yang suka dengan Rizal tapi dia masih belum mau untuk memiliki kekasih, karena baginya wanita itu adalah makluk yang selalu rumit dan banyak marah, sama seperti mamanya yang tak ada habisnya bila sedang mengoceh karena kesalahan kecil saja dan akan selalu di ingat sampai berbulan-bulan ataupun lebih.
hingga itu dia lebih suka memilih sendiri, menikmati pekerjaan dan menghabiskan waktu liburnya untuk bersantai tanpa harus memikirkan wanita.
Menghembuskan nafas beratnya dan tidak akan mendapatkan solusi apa pun dari teman atau atasannya ini, yang ada dia akan malah di hina lagi dengan status jomblo ngenesnya.
" Cepat nikahin kalau sudah laku, sebelum ada yang nikung." sindir Rizal dengan berdiri dari duduknya dan meninggalkan cepat saat Revan langsung menatapnya.
__ADS_1
" Sial dia menyindir ku.!" gerutu Revan menatap pintu ruangan yang sudah tertutup.
" Hais.!! Susah sekali ngajak bocil menikah." ujarnya lagi dengan menghembuskan nafas beratnya saat mengingat Dhira. Beberapa kali mengajak kekasihnya untuk nikah tapi selalu saja Dhira mengatakan belum siap dan belum saatnya.
Entah apa ia terlalu cepat mengajaknya menikah atau memang Dhira hanya mempermainkan dirinya saja, tapi tidak mungkin jika Dhira mempermainkan cintanya karena Revan tau jika Dhira tidak seperti wanita lain. Memanfaatkan kekasihnya dengan meminta semua barang yang inginkan, tapi Dhira tidak seperti itu, dia gadis yang mandiri dan tidak pernah sedikit pun meminta padanya untuk di belikan ini itu walaupun Dhira tau jika Ia akan menuruti apa pun yang di minta olehnya.
Kekasihnya ini wanita yang mandiri, perhatian, dan bersikap dewasa di saat umur yang belum terlalu tua seperti dirinya.
Tersadar dari lamunannya saat mendengar suara ponsel yang berbunyi, tersenyum saat melihat namanya yang berada di layar ponselnya.
" Jangan lupa bekalnya di makan." pesan Dhira, yang membuat bibir Revan tersenyum melihat pesan dari kekasihnya.
***
Mengirim pesan pada kekasihnya untuk mengingatkannya makan siang, saat Revan meminta untuk membuatkan bekal makan siang ketika akan berangkat ke kantor.
Dhira seperti seorang istri di pagi hari ini, dimana Revan tidur bersamanya selama satu jam, mengambilkan baju kerja Revan yang ada di ruang tamu, menemaninya sarapan pagi dan menyiapkan bekal makan yang Revan minta serta mengantarkannya ke depan ketika akan berangkat ke kantor dengan Revan yang mencium keningnya.
Beberapa kali Revan mengajaknya nikah tapi selalu ia tolak dengan alasan yang belum siap, memang dia belum siap karena masih ada yang harus Dhira kejar untuk memenuhi kebutuhan kakaknya nanti jika suatu saat Dhira sudah menikah dan tidak ingin meminta pada suaminya untuk menanggung kebutuhan kakaknya.
Bagi Dhira ia ingin menanggung kebutuhan kakaknya dengan uangnya sendiri saat cafenya sudah berkembang pesat dan biarkan suaminya nanti menanggung kebutuhan keluarga kecilnya tanpa membuat beban lagi untuk memenuhi kebutuhan Alex.
Karena Dhira pikir tidak semua pria akan mau menanggung kebutuhan keluarganya saat menikah nanti. Pria itu akan memprioritaskan keluarganya saja tanpa memikirkan keluarga istrinya, bukankah sebagian pria seperti itu! pikir Dhira.
Mendengar ponselnya yang berbunyi Dhira pun segera membukanya dan mendapatkan balasan pesan dari kekasihnya dengan mengirim foto dirinya yang sedang makan siangnya dengan bekal yang Dhira buat.
" Bekal makanannya enak Beb, besok bawakan aku bekal lagi ya." tulis Revan membuat yang membacanya tersenyum.
" Apa nanti kamu akan tidur di rumah?" tanya Dhira dalam pesan itu, yang bodohnya Dhira kenapa dia bertanya seperti itu. Seperti dia sedang mengharapkan Revan untuk tidur di rumahnya.
" Kamu merindukan ku beb.?" tanya balik Revan, dengan di sana yang sedikit terkejut karena pesan Dhira.
__ADS_1
" Rindu.!" gumam Dhira dan mencoba membaca pesannya yang membuatnya juga terkejut akan pesan yang dia buat untuk Revan.
" Astaga!! kenapa aku bodoh sekali!" pekik Dhira. " Kenapa aku mengirim pesan seperti ini padanya, ini seperti mengharapkannya untuk tidur di rumah." ujarnya lagi dengan menggerutu dirinya sendiri.
" Aku harus balas apa.?" tanya pada dirinya sendiri dan tersentak kecil saat ponselnya kembali berbunyi.
" Nanti aku ke rumah ya, jangan lupa masak yang banyak Beb. Mmuach." pesan Revan membuat Dhira membulatkan mata. Menggigit bibir bawahnya dan tersenyum saat membaca kembali pesan Revan.
Berjalan keluar ruangan untuk menuju dapur cafe sebelum ia pulang ke rumahnya, ia ingin sekali membuatkan kue untuk Revan dan kakaknya.
" Citra.?" sapa Dhira saat berada di kasir.
" Apa Dhira!" jawabnya yang sedikit tidak semangat.
Memicingkn mata saat melihat Citra cemberut " Kamu kenapa?" tanyanya dan duduk di depan bar tander
Menghembuskan nafas beratnya sebelum ia bercerita sama temannya. " Pagi ini aku apes sekali.!!" ujarnya dengan mata yang mulai berkaca.
" Eh! kenapa." ucap Dhira yang melihat perubahan wajah Citra.
" Aku enggak sengaja nabrak mobil orang Dhir!!" jawab Citra " dan parahnya tu pria minta ganti rugi sepuluh juta, ktp dan sim ku jadi jaminan.!!" ujarnya lagi dengan membenamkan kepalanya di meja bar tander.
" Kok bisa nabrak Cit!" kata Dhira " Kamu enggak papa kan.?" tanyanya yang sedikit khawatir pada temannya.
" Aku sedikit ngantuk dan aku enggak papa." jawab Citra.
" Kan aku sudah bilang kalau capek atau masih ngantuk jangan berangkat kerja dulu dan kamu bisa nyuruh yang lain kan untuk buka cafenya." gerutu Dhira membuat Citra terdiam, karena Dhira selalu mengingatkan pada dirinya untuk meminta tolong pada karyawannya untuk menggantikannya jika ia sedang lelah.
Menghembuskan nafas berat saat melihat teman seperjuangan dengannya hanya terdiam dan merasa kasihan melihatnya.
" Udah jangan cemberut! ayo bantu aku buat kue." ajak Dhira membuat Citra menatapnya. " Tenang nanti aku bantu untuk nebus sim dan ktp mu." ujarnya lagi dan membuat Citra tersenyum.
__ADS_1
" Jangan banyak-banyak kalau potong gaji ya.?" pinta Citra dengan memelas, membuat Dhira tersenyum dan mengangguk. Dan mereka berdua pun masuk ke dalam dapur untuk membuat kue dengan saling tertawa dan bercerita.