Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
Surga Dunia


__ADS_3

Kenikmatan surga dunia yang tak akan pernah aku lupakan, dan akan aku ingat selalu.


.


.


.


.


Pagi yang sunyi, membuat suasana di meja makan tidak ada yang bersuara. Hanya denting sendok dan garbu yang menyelimuti pendengaran mereka.


Sepasang pengantin saling diam membisu sedangkan tiga temannya tersenyum-senyum sambil melirik sekilas wajah pengantin baru yang belum mendapatkan jatah di malam pertamanya, karena ulah mereka yang sungguh keterlaluan mengerjai pengantin pria yang sudah tak tahan dan harus bersabar lagi.


Revan dengan wajah yang lesu dan Dhira dengan wajah merasa bersalah, karena semalam dirinya tertidur di kamar Alex yang berniat untuk menemaninya saja, saat Alex tak kunjung tidur dan malah meminta di bacakan buku cerita.


Tidak ada rambut basah dan wajah berseri di pagi hari dengan sepasang pengantin baru, sungguh mengenaskan bukan! Dan ini semua karena ulah tiga teman laknat yang harusnya Revan usir malam itu dan tak akan mempedulikan Dhira yang marah atau tidak padanya, yang terpenting dirinya bisa merasakan malam pertamanya bersama Dhira.


Selesai sarapan pagi mereka berkumpul di ruang keluarga, melihat Alex yang sedang menonton tv dengan film kartun kesukaannya.


" Dhira, aku pulang ya makasih sudah boleh nginap di sini." Kata Citra dengan tersenyum. Mendengar Citra yang pamit pulang pada Dhira Revan pun reflek menoleh ke arah Citra dan tersenyum saat teman Dhira yang satu pamit pulang.


" Iya?" Jawab Dhira. " Kamu pulang sama siapa.?" Tanyanya pada Citra.


" Sama Aku?" Kata Rizal. " Aku juga akan pulang." Ujarnya lagi dan itu sungguh membuat hati Revan ber Yes ria, kaa Rizal juga akan pulang.


" Aku di anterin sama Dika saja." Tolak Citra.


" Aku enggak bisa!" Sahut cepat Dika, membuat mereka berempat serempak melihat ke arah Dika sambil mengerutkan kening.


" Aku mau anterin Bik Minah ke rumah anaknya, katanya cucunya kangen sama neneknya." Kata Dika. " Sekalian aku mau ajak Alex keluar." Ujarnya lagi.


Dan senyuman Revan pun mengembang sempurna.


" Kalau gitu pakai mobilku saja." Kata Revan cepat, dan semua yang ada di sana melihat ke arah Revan cepat sambil mengerutkan kening saat Revan berbicara, kerena sedari tadi pagi Revan hanya diam saja.


" Sudah enggak puasa lagi bos." Sindir Rizal.

__ADS_1


" Sudah ada kesempatan." Imbuh Dika cepat.


" Udah enggak usah banyak bicara, nih kunci mobilnya." Kata Revan sambil melempar kunci mobil ke arah Dika dan tangkap baik oleh Dika.


" Cepat pulang sana." Usirnya, yang membuat tiga teman laknat tertawa dan Dhira merasa malu sendiri.


" Ayo?" Ajak Dika pada Alex dengan menepuk bahunya.


" Kemana?" Tanya Alex sambil menatap Dika.


" Anterin Bik Minah lihat cucunya, sekalian jalan-jalan." Jawabnya, dan di anggukkan cepat serta tersenyum senang, berdiri cepat dari duduknya dan berjalan menemui Bik Minah di kamarnya.


" Kalau bawa kakakku hati-hati, jangan sampai hilang." Kata Dhira.


" Iya! Bawel." Seru Dika. " Buatkan aku ponakan yang banyak." Ucapnya pada Dhira dan Revan.


" Tenang? gampang itu." Jawab Revan, dan mendapatkan pukulan kecil di lengannya. Hanya menyengir kuda dan mengangkat alisnya yang membuat orang merasa geli.


" Pelan-pelan saja pak, jangan tergesa-gesa, nikmati dengan santai, yang penting bobol." Ujar Rizal sambil tawa kecil, yang malah mendapatkan injakan kaki dari Citra di sebelahnya.


" Aww." Pekik Rizal.


" Idihh muka loe merah banget Dhir.!" Goda Dika.


" Apaan sih Dik! Sudah sana pergi." Usir Dhira yang tak tahan dengan godaan teman laknatnya.


" Wiihh! kok ganti ceweknya yang gak sabaran sih." Kata Citra yang memulai menggodanya.


" Jangan mulai kayak mereka dech Cit." decak Dhira hingga membuat mereka semua tertawa.


Berpamitan pulang dan mengantarkan Bik Minah ke rumah anaknya, hingga suasana rumah pun kini mulai sepi dan tak ada lagi teman laknat atau pun pengganggu.


Menutup pintu dan berbalik kebelakang hingga Dhira sedikit terkejut melihat Revan yang ada di belakangnya dengan senyum mengembang.


" Sayang.?" Sapa Revan, itu sungguh membuat bulu kuduk Dhira merinding dan geli melihatnya.


" Kak! a ku." Belum sempat mengucap kata, Revan sudah menarik pinggangnya hingga mendekat dan membuat mata Dhira membulat sempurna saat menatap wajah Revan yang berada di dekatnya.

__ADS_1


" Kenapa?" Tanya Revan merengkuh pinggang Dhira dengan kedua tangannya.


Gugup serta jantung yang berdegup kencang merasakan hembusan nafas Revan yang menghangat di permukaan kulit pipinya.


" Pipi kamu merah." Goda Revan, sambil mengusap lembut pipi istrinya, sentuhan itu sukses membuat jantung Dhira semakin berdecak kencang hingga menutup mata.


Perlahan tapi pasti, mencium bibir ranum istrinya yang sudah menggoda dan ia tahan semalaman kini terbayar sudah dengan mereka yang saling menikmati sensasi ciuman yang memabukkan. Saling mengulum dan berkutar saliva hingga tanpa sadar Dhira sudah mengalungkan tangannya di leher suaminya.


Tak ada kata ampun untuk pagi setengah siang ini, saat mereka mempunyai kesempatan terbaik.


Menggendong tubuh istrinya seperti anak kecil dengan Dhira yang melilit kedua kakinya di pinggang Revan tanpa melepaskan ciumannya.


Duduk di atas pangkuan Revan dengan posisi saling berhadapan dan melepaskan ciumannya saat mereka kehabisan oksigen.


Saling menatap dengan rasa cinta dan sayang, serta rasa rindu yang amat dalam dan rasa sentuhan yang saling memabukkan selama mereka bersama meskipun belum pernah menyentuh seutuhnya.


tapi kini mereka bebas untuk saling bersentuhan, untuk saling memulai rasa yang belum pernah mereka lakukan, belum pernah mereka jamaah dari hal yang sensitif dan membuat siapa saja akan semakin bergairah dan memabukkan jiwa serta raga surga dunia yang sesungguhnya saat mereka sudah SAH menjadi suami istri.


Menjadi dominan, pemimpin permainan yang akan sedikit menyakitkan di awal untuk sang ratu, tapi juga nikmat saat sudah menembus dan merasakan sensasi yang amat menyenangkan dan melelahkan ketika puncak mereka akan menyatu serta menjadi satu.


Sungguh itulah yang di namakan cinta seutuhnya dan akan selamanya menjadi milik mereka berdua yang tak akan tergantikan untuk selamanya dan akan mendapatkan harta yang berharga bagi mereka berdua dalam keluarga kecilnya.


" Aku mencintaimu AnanDhira, dan akan selalu mencintai kamu." Bisiknya di telinga Dhira saat mereka akan mencapai puncaknya.


" Revan!" Desah Dhira.


" Aku, juga mencintaimu." Ujarnya lagi, dengan mencekram punggung Revan tanpa sehelai benang menyisakan sedikit cakaran di punggung suaminya.


Dan mereka kini sama-sama merasakan getaran tubuh yang sudah memuncak, serta melepaskan bersama hingga lemah dan tak berdaya dengan Revan yang menumpu di atas tubuh Dhira yang sempurna membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya dan mengecup bahu istrinya yang terbuka.


.


.


.


.🍃🍃🍃

__ADS_1


Ea, ea, ea.😄😄


Aku enggak bisa gaes.🙈 Cukup segitu saja ya.


__ADS_2