
Mencoba saling berteman, berharap akan ada keajaiban untuk kita saling membuka hati.
.
.
.
.
" Dua hari ini kau ijin masuk siang terus, ada apa?" Tanya Revan, menandatangi berkas yang di bawa Rizal saat dia sudah terlihat batang hidungnya.
Duduk di depan Revan, mendongakkan kepala menutup mata sambil menggerakkan kursinya.
Memicingkan mata melihat Rizal yang belum kunjung menjawab pertanyaannya. Jika sudah begini, itu artinya dia memang ada masalah penting.
" Kenapa? Ada masalah dengan orang tua mu." Tanyanya lagi.
" Enggak!" Jawabnya.
" Terus!"
" Lagi enggak enak badan saja." Bohongnya, yang justru mendapatkan kerutan kening dari bosnya.
Menatap Rizal yang memang dua hari ini wajahnya terlihat muram dan sedikit tak bersemangat, tapi tetap profesional dalam bekerja. Entahlah, ada apa dengan asistennya itu.
" Gimana, Enak gak nikah.?" Pertanyaan yang di lontarkan Rizal, memancing senyum ejek dari Revan.
" Enak lah." Jawab Revan. " Pulang dari rumah ada orang yang di cintai, di layani, di masakin, apa lagi tidur udah enggak sendirian." Ujarnya lagi setengah menyindir Asistennya yang jomblo akut.
Rizal yang mengerti akan perkataan Revan sedikit menyindir dirinya, hanya bisa tersenyum masam. Jika Revan tau, hari ini dirinya sudah menikah pasti Bosnya itu tak akan percaya akan apa yang di ucapkan, dan dirinya akan lebih di olok-olokkan serta akan di juluki pria halu.
" Mangkanya cepetan cari istri, biar kau tau bagaimana ganasnya ranjang yang hangat." Goda Revan, tertawa kecil.
" Kau percaya aku sudah menikah gak?" Ucap Rizal, membuat tawa Revan berhenti sebentar. Wajah yang datar tanpa ekspresi hingga Revan kembali tertawa, tapi dengan sangat kencang.
__ADS_1
" Enggak." Jawabnya. " Berdekatan sama cewek saja kau tidak mau, bagaimana bisa sudah menikah!" Sambil menggelengkan kepala menatap tak percaya akan apa yang di bilang Asistennya, jika dia sudah menikah.
Sungguh aneh jika yang di bilang Rizal, bila dia sudah menikah. Lantaran Revan tak pernah tau Rizal berdekatan dengan wanita, berpacaran dan apa lagi mempunyai istri.
" Ini nich gara-gara jomblo akut, enggak laku-laku, sekarang jadi ngehalu." Olok Revan, sambil tertawa ejek.
Sudah ku duga, dia tidak akan percaya!" Gumam Rizal, dalam hati. Menghembuskan nafas pelan, berdiri dari duduknya, mengambil berkas yang sudah di tanda tangani Revan dan pergi dari Revan yang masih menertawakannya.
" Selesaikan pekerjaan mu, aku akan mencarikan pendamping yang pas untuk mu malam ini." Goda Revan, menatap kepergian asistennya.
" Kasian! Asistenku mulai menghalu." Gumamnya, menggelengkan kepala senyum-senyum sendiri mengingat Asistennya.
Duduk di kursi kerjanya, menaruh berkas di atas meja serta membenturkan kepalanya. Menenggelamkan wajahnya di sana merasakan hal berat dalam isi kepalanya, hanya karena satu kebohongan ia harus menerima resikonya.
Menikahi gadis yang bukan di cintainya, yang bukan tipenya dan yang paling parah gadis yang dia nikahi adalah teman istri bosnya.
Dunia ini kenapa begitu sempit, harus berputar dengan sini, sini saja. Takdir macam apa, kenapa nasibnya tidak jauh beda dengan nasib bosnya.
Dulu dirinya suka sama teman mantan pacar bosnya. Tapi, ia mulai mundur kala teman mantan pacar Revan suka dengan pria lain dan dirinya pun melihat pria itu juga seperti ada rasa sama wanita yang di sukainya. Tidak ingin terlibat lebih jauh dan tidak ingin nasibnya seperti Revan yang sering galau, dirinya pun memilih mundur.
Menghembuskan nafas berat lewat bibir, tidak ingin mengambil pusing lagi. Biarkan semuanya berjalan sendirinya hingga pada dirinya akan menemukan titik terang, Antara lanjut atau sudahan.
***
Bukan hanya Rizal saja yang merasa kacau dan galau. Citra pun sama sepertinya, dalam isi kepalanya selalu terpenuhi dengan apa yang terjadi beberapa akhir ini dan yang paling parah adalah hari ini.
Dimana mana pagi hari dirinya sudah menyandang sebagai seorang istri, di persunting oleh pria yang bukan dia cintai. Anehnya dirinya begitu saja mau dan tak memberontak. Karena terpaksa dan tak ingin membuat seorang ibu mertua kecewa.
Bukannya hari bahagia seharusnya di isi dengan kesenangan dan liburan sebagai kenangan terindah saat mereka sudah menjadi suami istri. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, sepasang suami istri ini memilih untuk bekerja setelah selesai ijab khabul, tanpa sepengetahuan ke dua orang tuanya dan mereka memutuskan berbohong untuk bilang jika ingin berduan di apartemen.
Ironis sekali ya, dan itulah kenyataannya. Yang tidak sebanding dengan impian Citra, saat mengangan-angan ingin pernikahan yang sempurna dan bahagia bersama dalam duduk di pelaminan, serta berlibur untuk bulan madu yang ia inginkan. Pantai!
Sirna sudah impiannya, hanya bisa mendesah dan berlapang dada apa yang terjadi dengannya. Mungkin sudah takdirnya harus menikah dengan begini caranya, mencoba memulai hidup yang baru dan akan belajar menghormati suaminya waluapun dia belum mencintainya. Berharap akan ada keajaiban dalam pernikahannya dan semuanya akan berjalan dengan indah.
" Nglamunin apa sih!" Tegur Dhira menepuk tangan Citra yang sedang mengelap meja tapi tetap di titiknya hingga kinclong.
__ADS_1
Tersadar dari lamunan, mengerjabkan mata, menatap Dhira yang sedang memperhatikannya dengan mengerutkan kening.
" Enggak nglamuni apa-apa." Jawabnya dengan sedikit senyuman.
" Cerita, ada apa?" Tanya Dhira, seakan dirinya tau jika temannya ini sedang tidak baik-baik saja.
" Mau ngeluh saja nich!" Sambil mendekat ke arah Dhira, hingga Dhira terpancing. " THR kapan cair?" Bisiknya, yang langsung mendapatkan pukulan kecil di lengannya.
" Asem loe Cit.!" Gerutu Dhira, membuat Citra tertawa kecil.
" Ambil tu di kasir, kalau mau jajan apa saja. Tapi jangan lupa di catat dan nanti di total ya awal bulan." Ucap Dhira, hingga tawa Citra berhenti dan mengerucutkan bibirnya.
" Tega loe sama gue Dhir." Ucapnya, hingga kini Dhira yang mulai tersenyum lebar melihat Citra cemberut.
" Dhir, jadi seorang istri enak gak sih!" Tanyanya, dan melihat Dhira yang mulai mengerutkan kening. " Aku hanya penasaran, dan buat bekal ilmu nanti kalau aku sudah mempunyai calon suami." Ujarnya, sedikit berbohong.
" Ada enak dan enggaknya." Ucap Dhira.
" Enaknya apa?" Mulai penasaran.
"Enak, di rumah jadi gak sepi. Semangat buatin makanan, sambut suami pulang kerja dengan senyum dan paling penting bisa romantisan gak pakai sembunyi-sembunyi." Ucapnya dengan senyum, membayangkan bagaimana kemesraannya di ranjang bersama Revan.
" Udah gak usah bayangin nanti juga uwuk-uwuklan kan di rumah." Kata Citra membuyarkan lamunan dan merasa malu sendiri. " Terus gak enaknya apa!" Tanya lagi.
" Gak enaknya!!"Condong Dhira, dan membuat Citra maju ke arahnya merasa kepo akan apa jawaban Dhira. " Nanti loe akan rasain sendiri pas di ranjang." Ujarnya, dengan menahan tawa saat Citra mengerutkan kening menatapnya, hanya menganggukkan kepala dan berdiri dari duduknya. Serta berjalan menuju pintu keluar.
" Pas di ranjang! " Gumamnya dalam hati.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1