Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
tembakan cinta


__ADS_3

Aku tidak tau harus bilang apa saat kamu mengungkapkannya, karena ini pertama kalinya bagi ku.


.


.


.


.


Lama rasanya pria itu menghilang, tidak pernah berjumpa dan tidak ada kabar sama sekali. Bagai di telan bumi, dia pergi tanpa jejak.


Tidak mengucapkan sepatah kata pun saat terakhir pria itu mengantarnya ke rumah sakit. Apa perkataannya ada yang salah waktu itu hingga membuatnya marah dan menjauh.


Atau dia sedang sibuk dengan pekerjaannya hingga dia tidak bisa bertemu dengan dirinya, atau ada yang lain. Pikir Dhira.!


Rindu.? bisa jadi iya, karena dia lah yang mampu membuat Dhira terasa nyaman dan damai serta bisa tertawa lepas saat rasa lelah menjular ke tubuhnya.


Selalu memikirkannya.? bayangannya selalu ada di mata dan di isi kepalanya, dan entah kenapa itu terjadi saat Dhira sendiri.


Menghembuskan nafas beratnya dan berjalan di taman tengahnya malam sendiri, dengan menatap hamparan taman yang sudah sepi dan hanya ada cahaya remang dari pantulan lampu taman serta cahaya bulan.


Memilih duduk di kursi taman yang menghadap danau kecil dan menatap pandangan lurus ke depan.


Tersenyum saat mengingat kembali di mana pertama kali dia bertemu dengan pria yang sudah membuatnya rindu begitu berat saat ini.


Taman dekat danau dengan dia yang merasa galau, duduk bersama dengan pandangan yang lurus. Di mana pertama kali pria itu memanggilnya Bocil.


Sungguh aneh rasanya jika mengingat dirinya lah yang lebih dulu menghampiri pria itu dan selalu menggodanya bila bertemu.


Begini ya rasanya merindukan seorang pria.! aku harap kita bisa bertemu." gumamnya dengan tersenyum miris dan menundukkan kepala serta menatap kakinya.


" Kangen ya." suara pria yang ada di sampingnya, hingga Dhira lansung menatap sumber suara.


Tersenyum pria itu saat Dhira menatapnya dengan tatapan tidak percaya higga mencoba beberapa kali mengedipkan mata.


Mengacak rambut Dhira dengan gemas dan mencubit pipinya untuk menyadarkan gadis yang masih menatapnya.

__ADS_1


Nyata, benar-benar nyata saat tangan pria itu mencubit pipinya dan tersenyum kala harapan dia terkabulkan oleh Tuhan saat ingin bertemu dengannya. Siapa lagi jika bukan Revan yang dia inginkan untuk bertemu, keajaiban yang begitu cepat terkabulkan.


Berhadapan dengan Revan di tempat yang sama saat pertama kali berjumpa, rasa rindunya sungguh terobati kala menatap senyuman dan tatapan hangat dari Revan.


Tapi tunggu.! sepertinya ada yang berbeda dari diri Revan. Wajah yang lelah, rambut yang sedikit berantakan, dan masih memakai pakaian kantor yang sedikit kusut.


" Kamu baru pulang kerja.?" tanya Dhira.


" Iya?" jawab Revan. " Sudah malam, Kamu kenapa masih di sini.!" tanyanya.


" Ingin mencari udara segar saja, kakak ngapain ke sini." tanya balik Dhira.


" Sama, ingin cari udara segar dan aku sedang merindukan seseorang mangkanya aku ke sini." kata Revan membuat Dhira menatapnya.


" Siapa.?" tanya Dhira.


" Kamu.!" jawabnya dengan menatap Dhira, jawaban yang membuat hati Dhira berbunga-bunga saat mendengarnya dan berpaling dari tatapan Revan saat ingin tersenyum dan mengulum bibirnya agar tidak terlalu lebar.


Tersenyum saat Revan melihat Dhira berpaling darinya karena malu saat mendapatkan jawaban dari bibirnya.


" Kamu tidak kangen Cil dengan ku.!" tanya Revan. " Empat belas hari kita tidak bertemu." ujarnya lagi.


" Enggak usah takut, kamu kan jago melawan." jawab Revan dengan tertawa membuat Dhira mengerucutkan bibirnya.


Merangkul lengan Dhira hingga merapatkan tubuhnya, membuat Dhira menatapnya dengan tersenyum.


" Tidak ada yang akan melabrak kamu, aku masih sendiri dan tidak ada yang punya.!" kata Revan dengan saling menatap dan tersenyum. " Kamu mau menjadi pacar ku." ujarnya lagi dan membuat mata Dhira membulat saat Revan menembaknya langsung di hadapannya tidak ada jarak dalam rangkulan Revan.


" Aku cinta dengan kamu, rasanya hati ku hampa tidak bertemu dengan mu satu hari saja apa lagi tidak ada komunikasi dengan diri mu." kata Revan dengan jujur, karena memang selama dua minggu tidak bertemu dengan Dhira membuat Revan galau, pendiam dan tidak tersenyum sama sekali.


Mencoba melupakan Dhira tapi itu tidak bisa dan sangat sulit sekali, karena pikiran dan isi hati Revan hanya tertuju pada Dhira.


Dia sudah mulai mencintai gadis kecil yang begitu saja hadir di saat waktu yang tepat dan bisa membuat melupakan mantan kekasihnya dulu.


Masih membulatkan mata dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan mengerjabkan mata untuk menetralkan kesadarannya kembali dan menatap ke arah danau. Hati yang berdetak kencang karena mendapatkan tembakan cinta dari pria yang dia rindukan selama empat belas hari ini.


Ingin rasanya dia bilang iya aku mau tapi sulit untuk di ungkapkan, karena rasa grogi dan jantung yang masih berdetak kencang di tembak cinta di hadapannya langsung.

__ADS_1


Jika saja dulu Dhira di tembak cinta oleh temannya, itu hanya melalui chat dan bukan berhadapan langsung, dan Dhira menolaknya.!


" Kamu mau Cil menjadi pacar ku.!" tanyanya lagi dengan menatap Dhira yang sedang menatap ke arah danau.


" Em.? aku bingung mau menjawabnya Kak." kata Dhira " Dan ini pertama kalinya ada cowok yang menyatakan cinta langsung di hadapan ku." ujarnya lagi dengan jujur hingga mata Revan melebar saat Dhira berkata jujur


" Berarti aku orang yang pertama menembak kamu secara langsung." saut Revan cepat dan di anggukkan oleh Dhira dengan menggigit bibir bawahnya tanpa menatap Revan karena dia sangat malu.


Tersenyum serta menahan tawa saat Dhira menganggukkan kepala dan malu untuk menatapnya.


" Mau jalani dulu gak." pinta Revan " tanpa status dulu juga enggak papa, nanti kalau kamu sudah ada jawabannya katakan saja pada ku." katanya lagi dengan merangkul kembali lengan Dhira.


" Hmm, Oke." jawab Dhira dengan menganggukkan kepala dan tersenyum.


" Beb." kata Revan.


" Beb.!" dengan mengerutkan keningnya.


" Mulai sekarang aku akan memanggil mu Beb." jawab Revan " Romantis kan.! enggak perlu manggil Bocil lagi." ujarnya dengan bangga dan menaik turunkan alisnya.


" Terus aku harus memanggil mu Akang Beb gitu.! ih ogah.!! seru Dhira dengan rasa geli karena tidak terbiasa memanggil kata-kata yang menggelikan apa lagi dia tidak pernah berpacaran.


Tertawa saat mendengar perkataan Dhira yang memanggilnya Akang Beb yang kaku sekali, dan itu menandakan jika benar Dhira tidak pernah berpacaran.


" Terserah panggil apa saja, yang penting jangan Sad Boy." ujar Revan, karena setiap kali bertemu dengan Dhira, dia selalu memanggilnya Sad Boy.


" Terus aku panggil apa, orang aku tidak tau nama kakak.?" kata Dhira.


" Perkenalkan." dengan menjulurkan tangannya kehadapan Dhira dan Dhira pun membalas uluran tangan Revan " Nama ku Revan." dengan mencium punggung tangan Dhira.


.


.


.


.

__ADS_1


🐨🐨🐨


Maaf atas keterlambatannya.🙏🙏


__ADS_2