Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
perhatian


__ADS_3

Berusaha baik-baik saja, tapi nyatanya, tidak jika sudah ada yang tau.


.


.


.


.


" Turunkan aku di sini saja." Pinta Citra yang tidak jauh dari rumahnya.


" Ini rumah kamu?" Tanya Rizal, memberhentikannya tepat di sebelah rumah tetangganya dengan melihat rumah pagar hitam.


" Bukan.?" Jawab Citra, sambil melepaskan seatbalt. Mengerutkan kening menatap Citra.


" Kalau bukan rumah kamu, kenapa minta turun di sini.!" protes Rizal.


" Rumahku, tiga rumah dari sini." Jawabnya, " Makasih sudah di antar pulang." Ujarnya lagi sambil membuka pintu mobil dan tak ingin lagi berbicara pada Rizal saat dirinya melihat ibu tirinya sedang duduk di teras.


" Tiga rumah dari sini!" Gumamnya, sambil memperhatikan Citra yang berjalan menuju rumahhnya.


Rumah yang tidak terlalu besar, memperlihatkan wanita yang tak terlalu tua berdiri dari duduknya saat melihat Citra yang berjalan ke arahnya.


Mengerutkan keningnya melihat Citra yang seperti tak akrab dengan wanita itu dan berdebat dengannya, sangat membuat penasaran Rizal, karena dirinya tau dari mamanya jika Citra tidak mempunyai ibu dan tidak tau siapakah yang ada di hadapannya Citra sekarang.


Sedikit terkejut saat melihat wanita yang ada di hadapan Citra, menamparnya. Citra pun hanya diam dan berjalan masuk ke dalam rumahnya tanpa mempedulikan lagi omelan atau cacian dari wanita itu.


" Siapa wanita itu." Gumamnya dan masih memperhatikan rumah Citra.


Sakit, tapi ia tak pernah menangis lagi sudah kebal akan perlakuan Ibu tirinya. Bukan, bukan ibu tiri, tapi hanya orang luar yang mengaku sebagai ibunya, ibu sambungnya.


Ibu yang hanya baik di depan orang lain dan suaminya, tapi seperti penyihir di belakang mereka.


Hanya sedikit tetangga yang tau akan perlakuan jahat ibu sambung Citra, bahkan mereka kasihan dengan Citra saat ayahnya membela ibu tirinya yang jahat saat kesahannya dia lemparkan pada Citra.


Hubungan antara ayah dan anak memang dulu tidak pernah akur sama sekali saat ibu kandung Citra masih ada. Lantaran Citra benci karena perlakuan ayahnya yang hanya mementingkan dirinya dan selingkuhannya, dan uang belanja ibunya yang hanya mendapatkan sedikit selalu kurang dan harus ibunya yang bekerja untuk menutupi kekurangannya.


Ibunya sakit pun tak pernah ayahnya merawatnya, hanya menjenguk sekilas lalu pergi lagi untuk bertemu selingkuhannya. hingga ibu meninggal, ayahnya tidak tau karena saat itu ayah Citra dan selingkuhannya pergi keluar kota. Meskipun di telpon beberapa kali pun juga tidak pernah tersambungkan lantaran nomer Citra yang di blokir oleh ayahnya untuk beberapa hari saat bersama selingkuhannya. Sungguh suami kejam dan biadab!


Dirinya pulang ke rumah Ibunya, rumah milik ibunya, peninggalan dari orang tua ibunya dan tidak akan pernah ia meninggalkannya meskipun dirinya harus tersiksa, karena hanya ini harta satu-satunya untuk ia jaga selama-lamanya. Tidak akan pernah ia rela rumah milik ibunya jatuh di tangan Ibu tirinya, meskipun ibu tirinya menguasai rumahnya tapi tetap, sertifikat rumah sudah ia pegang dan sembunyikan rapat-rapat hingga tidak akan ada orang yang mengetahuinya.


Mengganti baju dan beberapa pakaian ia taruh di dalam tas ransel serta berjalan keluar dari kamar, dan melihat pemandangan ayah serta ibu tirinya yang ada di meja makan.

__ADS_1


" Kamu mau kemana.! Semalam tidak pulang sekarang mau pergi lagi." Ucap Ayah Citra, membuat Citra berhenti dan menatapnya.


" Sejak kapan ayah ngurusin hidupku." Tanya Citra dengan mengerutkan keningnya. " Lebih baik urus tu istri ayah yang tidak tau malu numpang di rumah orang!" Cibir Citra sambil senyum ejek.


" Citra.!" Hardik Ayahnya dengan suara yang lantang, tapi Citra tidak takut dan dirinya malah menantang ayahnya balik.


" Apa.!" Seru Citra, menatap tajam Ayahnya.


" Mas, sudah? jangan di marahi Citra, dia masih kecil." Ucap Ibu tirinya yang mulai mencari perhatian pada ayah Citra, membuat Citra merasa muak dan tak mempedulikan sandiwara ibu tirinya hingga dirinya memilih pergi dari rumah.


Berjalan keluar rumah, dengan mata yang memerah dan tangan yang menggenggam erat ranselnya, seakan dirinya ingin sekali menangis tapi ia tahan karena dirinya berada di luar rumah dan tak ingin para tetangganya tau atau merasa kasihan dengannya.


Tin, tin.


Suara klakson mobil dari belakang membuat Mawar berbalik menatap ke belakang, mengerutkan kening saat melihat mobil Rizal yang masih ada di jalan kampungnya.


berhenti tepat di samping kaca yang terbuka dan memperlihatkan wajah Rizal.


" Masuk." Perintah Rizal, dan ia pun masuk ke dalam mobil Rizal tanpa mengucapkan apapun dan berdebat atau bertanya pada Rizal akan keberadaannya yang masih ada di sekitar rumahnya.


Duduk dengan tenang, memalingkan wajahnya mengusap air mata yang akan menetes di pipinya dan itu semua di perhatikan oleh Rizal.


****


Merasakan perutnya yang menahan beban rebat hingga melihat ke samping serta tersenyum mendapati mata hitam sendu yang terbuka dan dengan tersenyum saat menatapnya.


Memiringkan badan menghadap kekasihnya yang sudah sah menjadi suaminya. membenarkan kepala hingga kini mereka sama sama bisa melihat mata yang terpancar indah akan kebahagian.


" Kamu bangun dari tadi.?" Tanya Dhira, samhil membenarkan selimut untuk menutupi dadanya.


" Sekitar lima belas menit." Jawab Revan sambil membenarkan anak rambut istrinya yang menutupi pipinya.


" Capek?" Tanya Revan.


" Sedikit." Jawab Dhira. " Sekarang jam berapa?" Imbuhnya lagi.


" Jam dua, kenapa?"


" Kamu belum makan siang, aku siapin makanan dulu." Ucap Dhira dan akan bangkit dari tidurnya, tapi tertahan oleh tangan kekar.


" Kak!" Seru Dhira, membuat Revan tersenyum.


" Di sini saja, aku enggak lapar."

__ADS_1


" Tapi aku lapar!" Rengek Dhira, merasa gemas hingha dirinya mengecup bibir istrinya yang sedikit bengkak karenanya.


" Iihh.!!" Protes Dhira, membuat Revan tertawa kecil.


" Kita mandi bersama ya." Ajak Revan.


" Enggak." Tolak Dhira. " Malu.!" Lirihnya, dan Revan tertawa lagi mendengar ucapan istrinya.


" Malu kenapa, kan aku sudah melihat semu,-


" Apaan sih kak!" Sambil memukul kecil lengan suaminya.


" Kan bener Beb." sambil tertawa.


" Jangan di perjelas juga dong kak.! Malu tau!!" mengulum bibirnya dengan pipi yang memerah, mengingat percintaan mereka yang beberapa jam yang lalu dengan beberapa kali pelepasan hingga mereka lelah dan tertidur bersama.


" Iihh mukanya kenapa merah gitu sih.!" Goda Revan dengan alay, mentoel dagu istrinya dan membuat Dhira merasa geli sekali.


" Apaan sih Kak!!" Seru Dhira sambil mengerucutkan bibirnya, hingga Revam tak bisa berhenti tertawa


" Udah ah aku mau mandi." Ujarnya lagi, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, duduk di tepi ranjang dan meringis kesakitan.


" Sakit?" Tanya Revan yang sedikit khawatir melihat wajah Dhira yang menahan sakit.


" Hmm." Jawabnya lirih.


" Tunggu di sini sebentar Beb." Kata Revan beranjak dari ranjang memakai boxer, berjalan ke arah kamar mandi dan kembali keluar menuju ke arah Dhira yang masih menundukkan kepala sambil memegang selimut untuk menutupi badannya.


Mengangkat tubuh istrinya, hingga membuat Dhira terkejut serta dengan cepat mengalungkan tangannya di leher Revan.


Membawanya ke dalam kamar mandi, dan sudah mengisi bathub dengan air hangat untuk istrinya.


" Mandi air hangat, sedikit mengurangi rasa sakit." Ucap Revan menurunkan istrinya di samping bathup.


" Makasih Kak?" Kata Dhira dengan tersenyum, dan di anggukkan Revan. Berjalan keluar kamar mandi meninggalkan istrinya agar berendam dan tak ingin menyiksa istrinya lagi untuk saat ini.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Maaf, mungkin beberapa hari ini akan slow update.🙏🙏


__ADS_2