Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
ingin jujur


__ADS_3

Berdamai dengan kenyataan, dan kita akan mencoba untuk membuka hati.


.


.


.


Menyerahkan struk belanja di hadapan Rizal, saat Rizal sedang menatap laptopnya di ruang tv.


" Apa ini?" Tanya Rizal, mengambil kertas putih yang ada di tangan Citra.


" Itu .. struk belanja tadi" Jawabnya gugup, menundukkan kepala seakan ia takut jika Rizal marah dengan belanja segitu banyaknya.


" Ohh!" Ucap Rizal, mengerutkan kening menaruh struknya yang sudah ia lihat berapa total semuanya.


" Dan ini kartu atm kamu." Ucap Citra menaruhnya di atas meja.


" Kenapa kamu kasih ke aku?" menatap Citra yang masih berdiri dengan tangan saling meremas. " Duduk." Perintahnya, dan Citra pun mulai duduk walaupun sedikit ragu.


" Belanjaan hari ini habis banyak."


" Terus!" Membuat Citra mengerutkan kening.


" Kamu tidak marah."


" Marah kenapa?" Sahutnya cepat.


" Karena aku membelanjakan uang kamu begitu banyak." Lirihnya.


Mengingat dalam memorinya dulu, bagaimana mendiang ibunya membelanjakan uang yang di kasih ayahnya untuk kebutuhan sehari-hari dan tidak cukup untuk satu bulan. Hingga ibunya mencoba meminta uang belanjanya lagi, bukanya di kasih tapi justru ibunya terkena maki oleh ayahnya.


Uang yang di kasih ayahnya memanglah sedikit dan itu pun hanya bisa di buat makan saja, ibu yang lebih mementingkan anaknya dari pada dirinya sendiri. Ibu yang tidak pernah membeli baju atau pun alat make up, terlihat sangat tak terawat sebagai seorang suami seharusnya membelikan kebutuhannya turut adil dan memanjakannya. Tapi ayahnya beda, justru dia menghina ibunya dan mengatakan tidak becus menyenangkan hati suaminya.


" Tidak apa-apa, itu juga tidak seberapa. Kamu bisa memakainya semau mu, karna mulai sekarang kamu menjadi tanggung jawabku." Ucap Rizal.


Tanggung jawab, apa itu artinya Rizal menerimanya sebagai istrinya atau hanya merasa kasihan dan membalas budi sebagai gantinya ia mau menjadi istrinya untuk satu tahun ini.


" Ambil ini! Dan berbelanjalah sesuka kamu!" Kata Rizal menyerahkan kembali kartu atmnya pada Citra.

__ADS_1


Masih menatapnya ragu-ragu, kembali melihat Rizal yang mengangguk dan tersenyum jika dia tidak marah dan tidak ingin di tolak.


" Aku akan belanjakan kebutuhan dapur saja!"


" Jangan dapur saja! Kebutuhan kamu pun juga harus." kata Rizal.


" Tapi aku tidak berha,-"


" Kamu berhak memakainya, karena kamu masih tanggung jawabku." Tukas Rizal, membuat Citra menatapnya.


Saling menatap untuk beberapa detik hingga Citra menundukkan kepala.


Masih tanggung jawab, jika sudah satu tahun apa dirinya nanti akan benar-benar bercerai dan hidup dalam kesendirian dengan status baru sebagai janda muda.


Membayangkan saja rasanya tidak sanggup apa lagi kenyataan. tersenyum paksa, terasa sesak di hatinya dan kembali menatap atm yang ada di tangannya.


" Aku ke kamar dulu." Ucap Citra berdiri dari duduknya, meninggalkan Rizal yang sedang menatapnya seakan dirinya merasa salah telah mengucapkannya.


Sejujurnya bukan itu yang ingin ia katakan, ia ingin sekali bilang jika dia adalah istrinya. Tapi bibir berkata lain seakan dirinya belum berani untuk mengungkapkan hatinya, jika ia ingin memulainya dari awal yang baru, saling melengkapi satu sama lain dan ingin seperti suami istri yang sesungguhnya.


Merasa tidak fokus dalam bekerja, ia memilih menutup laptop dan mengikuti langkah kaki Citra menuju kamarnya.


Sebenarnya Citra belum tidur, hanya saja dirinya tidak ingin melihat Rizal saat ini. Entah, kenapa dirinya merasa sakit hati dan ingin sekali marah, tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Mata yang sudah tertutup, begitu saja mengeluarkan air mata. Membasahi sudut mata hingga terjatuh di bantal.


Sama-sama memunggungi, sama-sama terdiam dengan pikiran dan batin yang ingin sekali mereka ungkapkan, agar semuanya bisa jelas jika mereka saling menginginkan keluarga kecil yang bahagia.


****


" Seharusnya kau pulang, gak pakai menginap di sini segala.!" Gerutu Revan di pagi hari, dalam meja makan yang merasa sebal akan ulah Dika.


Ya, Dika memilih menginap menginap di rumah Dhira semalam. Bukan mengantuk tapi ingin saja dia mengerjai Revan yang selalu manja dan sok romantis di depannya yang sedang jomblo tidak punya dambatan hati, hingga membuat dirinya iri.


Hanya membalas tersenyum, mengangkat alis dan melanjutkan makan kembali. Cuek dan tengil tidak menghiraukan Revan yang sedang menatapnya kesal.


Bagaimana tidak kesal karena semalam Alex meminta tidur bersamanya, dan itu semua karena Dika yang menyuruh Alex. Kesal sekali, dimana dirinya yang sedang eya, eya pemanasan dengan Dhira. Pintu kamar di ketuk dengan keras dari depan hingga membuat sepasang suami istri terkejut dan saling menjauhkan badan.


Siapa lagi jika bukan Alex, meminta tidur di kamar Dhira. Yang ingin di tolak, tapi tidak bisa lantaran Alex sudah mulai merengek dan menyerobot masuk ke dalam kamar.


" Sayang, tiket liburan ke bali untuk Dika batalkan saja. Dan gantikan dengan yang lain." Kata Revan, membuat Dika tersedak makanan.

__ADS_1


" Ya gak bisa donk mas!!" Seru Dika, setelah minum air dengan tandas.


" Ya bisa lah, kan aku suami bos kamu!" Cicit Revan menahan senyum, melihat Dika yang mulai merajuk.


" Dhir kalau loe batalin liburanku ke bali, aku akan mogok kerja." Ancam Dika, sedikit melototkan mata menatap Dhira yang sedang asyik makan.


" Pecat saja sekalian sayang, biar nanti aku carikan pengganti yang baru untuk gantikan Dika." Melototkan mata menatap Revan yang sedang tersenyum ke arahnya.


" Aku turunin saja jabatannya, sekalian aku potong gajinya bulan ini." Kata Dhira.


" Ah, betul itu sayang!!" semakin menggoda Dika yang mulai memelas.


" Kamu kok tega sih Dhir! potong saja gaji gakpapa yang penting jangan turunin jabatan dulu, tabunganku belum ngumpul ini buat modal!!" Melas Dika, membuat suami istri itu saling menatap dan tertawa bersamaan.


Merasa gemas serta jengkel akan ulah Dika semalam dan merasa kasihan saat melihat wajah Dika yang memelas.


" Emang kamu mau buka usaha apa?" Tanya Revan.


" Mau usaha bengkel mas!" Lirih Dika.


" Kamu sudah enggak mau kerja sama aku lagi Dik.?" Kata Dhira.


" Aku ingin seperti kamu, mempunyai usaha yang di rintis dari nol dan bisa membanggakan orang tua dan diri sendiri." Jawab Dika, membuat Dhira tersenyum karena dirinya menjadi contoh untuk Dika ingin menjadi orang sukses dan tak selamanya bekerja untuk orang lain.


" Kalau begitu buka bengkelnya sekarang saja, pakai uang aku saja dulu?" Ucap Dhira dengan semangat.


" Bukan aku menolak bantuan kamu Dhir! Tapi aku tidak mau merepotkan temanku. Setidaknya biarkan aku memulainya sendiri dulu, dan aku hanya butuh semangat dari kalian." Jawab Dika dengan tersenyum.


" Dan jika nanti aku memang sangat membutuhkan, aku akan meminta tolong palong pada mu. Ujarnya lagi.


" Kami akan selalu mendukung dan akan selalu membantu kamu jika kamu membutuhkan sesuatu." Ujar Revan.


" Makasih mas?" Jawab Dika, Citra dan Revan pun ikut tersenyum dan mengangguk.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃


__ADS_2