Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
Sahabat Mulai curiga


__ADS_3

Karena pada dasarnya jatuh cinta masih membutuhkan proses. Seperti awal kita membutuhkan perkenalan.


.


.


.


.


" Mau di belanjakan apa?" Gumam Citra, berjalan menelusuri swalayan sambil memegang kartu atm Rizal, di mana tadi pagi Rizal memberikannya untuknya.


Belum sempat bertanya dan protes Rizal sudah berdiri dari duduknya, meninggalkannya terlebih dulu untuk berangkat kerja.


Terdengar suara notif ponselnya yang berbunyi, pesan chat dari Rizal mengirim pin no atmnya tanpa penjelasan untuk di gunakan apa saja.


Ini pertama kalinya ia bingung harus berbuat apa dalam urusan rumah tangga. Secara pernikahannya sangat mendadak dan belum membuatnya mengerti apa yang harus dirinya lakukan.


Mencoba berjalan menuju tempat sayur dan buah. Jika dirinya terbiasa makan dengan cara membeli sayur dan lauk yang sudah matang, kini dia harus mengerti tentang cara membeli sayur dan ikan yang belum di olah.


Sudah lama rasanya ia tidak pernah memasak, terakhir dirinya masak ketika membantu ibu Rizal dan itu sangat menyenangkan. Mengingatkannya pada ibunya sendiri dan membuatnya rindu akan masakan sederhana ibunya.


Terbiasa membeli sayur dan ikan di pasar, dirinya sedikit terkejut akan harga yang ada di swalayan. Selisih sedikit banyak dan jika di pasar bisa di tawar, kini di swalayan harga ikan sudah terbandrol dan tidak bisa untuk di nego sedikit saja.


Tiga kantung kresek menghabiskan sekitar satu setengah juta, lagi-lagi terkejut dan merasa bersalah sudah membeli stock makanan tidak terlalu banyak dan malah menghabiskan uang begitu banyaknya juga.


" Nanti kalau dia marah gimana?" Gumamnya, melihat struk belanja yang sedikit panjang. " Nanti aku di suruh ganti uangnya gimana? " Ujarnya lagi menekuk bibir ke bawah memasang wajah melas seakan ia takut.


Pasrah dan sudah terlanjur. Mau tidak mau dirinya harus menerima resikonya nanti, jika Rizal marah dan meminta ganti rugi ia pun siap dan sebagai gantinya Rizal tidak boleh menyentuh bahan makanannya.


Berada di apartemen, menaruh semua barang belanjaannya di dapur. Menatanya dengan rapi dan memulai memasak untuk makan malam sebelum Rizal pulang dari kerjanya.


Entahlah, ini memanglah sudah kewajibannya walaupun sebenarnya dirinya juga lelah habis pulang kerja. Tidak bisa menghindar bukan!


Masih terbilang sore, Rizal sudah pulang lebih awal dari pada kemari. Membuka pintu apartemennya, dan melihat ruang tamu menyala itu bertanda jika Citra sudah pulang.


" Kamu sedang apa?" Tanya Rizal, membuat Citra yang sedang memasak sayur tersentak kecil dan menatap ke belakang.


" Kamu sudah pulang?" Tanya Citra balik.


" Hmm, iya." Jawabnya, duduk di meja makan menatap Citra memakai apron dengan rambut yang di ikat sanggul dan masih memakai baju kerjanya.

__ADS_1


Menuangkan air putih ke dalam gelas dan memberikannya pada Rizal.


" Makasih." Ucap Rizal, hanya mengangguk tersenyum dan beralih kembali memasak sayur.


Masih memperhatikan Citra, tersenyum saat ini. saat dirinya di layani dengan baik oleh seorang wanita. Dua hari bersama Citra, ia sedikit melihat perubahan akan diri Citra.


" Mandilah dulu, sebentar lagi makanannya akan matang." Perintah Citra, menatap sekilas ke arah Rizal masih setia duduk sambil memperhatikannya.


" Iya." Patuh, berdiri dari duduknya menuju ke kamarnya untuk membersihkan dirinnya.


Kenapa dia menurut!" Batin Citra, tersenyum sambil menggelengkan kepala. Heran akan Rizal yang tidak lagi pernah berdebat dengannya, dua hari bersamanya ada sedikit perubahan dalam diri Rizal.


****


" Kau kenapa ada di sini!" Tanya Revan, mengerutkan kening melihat Dika berada di ruang tv bersama Alex.


" Di suruh Dhira ke sini." Jawab Dika, masih asyik bermain play station.


" Di suruh Dhira!" Mengerutkan kening. " Mau ngapain.!" Tanyanya, hanya mengedikkan bahu karena dia pun sama belum mengerti kenapa di suruh ke rumah.


" Dhira di mana?"


" Capek?" Tanya Dhira.


" Enggak." Jawabnya dengan lembut, terdengar Dika yang langsung memasang wajah geli.


" Idih!! Sok romantis." Gerutu Dika, melihat Revan memeluk Dhira.


" Iri! Bilang Boy." Ejek Revan, semakin menggoda Dika dengan masih memeluk Dhira.


" Lex, adik kamu tu." Tunjuk Dika menyenggol bahu Alex yang lebih fokus pada layar tv.


Tidak ada respon dari Alex saat Alex lebih memilih menonton tv. Hingga sepasang suami istri mengejek dan menertawakannya, membuat wajah Dika semakin masam.


" Hahahah, jomblo dua." Kata Revan.


" Yang pertama siapa kak? Tanya Dhira, berjalan duduk di sofa di ikuti Revan yang juga ikut duduk di sampingnya.


" Asistenku Beb." Jawabnya, hanya mengangguk dan mengerti karena Dhira juga pernah melihat Asisten suaminya beberapa kali.


" Kamu ngapain nyuruh Dika ke sini Beb?" Tanya Revan.

__ADS_1


" Iya, ngapain kamu nyuruh aku ke sini.?" Tambah Dika, berhenti main play station dan memberikan stiknya pada Alex.


" Kemarin aku lihat Citra di antar ke cafe sama cowok." Kata Dhira.


" Pacarnya mungkin." Sahut Revan dan di anggukkan Dika.


" Tapi cowok itu, Asisten kamu kak." Dan itu membuat Revan dan Dika memicingkan mata.


" Bukankah mereka sudah tidak berhubungan lagi, jika tidak terpaksa di depan orang tua Mas Rizal." Kata Dika.


Dhira, Dika dan Revan sudah mengetahui semuanya di saat Rizal dan Citra mengatakannya. Jika Rizal dan Citra hanya bersandiwara menjadi sepasang kekasih di hadapan orang tua Rizal lantaran Rizal terpaksa harus melakukannya karena orang tuanya selalu saja menjodohkannya.


Menceritakan semua kejadian dari awal hingga tidak ada yang mereka tutupi sama sekali dan sahabatnya pun percaya , karena memang itulah kenyataannya sebelum akhirnya menjadi lebih serius dan tiga sahabatnya belum mengetahuinya.


" Iya, tapi kemarin siang aku melihat mereka." Ulang Dhira.


" Mungkin Rizal sedang membutuhkan bantuan Citra lagi." Sahut Revan.


" Tapi sepertinya ada yang di sembunyikan mereka dari kita kak." Filing Dhira, melihat gelagat Citra yang dua hari ini semakin aneh.


" Seperti tadi aku enggak sengaja, melihat kartu atm atas nama Rizal di tas Citra." Ujarnya lagi, yang membuat dua pria menatap Dhira.


" Sabun muka aku habis, jadi aku minta sabun muka Citra dan dia malah menyuruhku untuk ambil di tasnya dan aku lihat ada kartu atm atas nama Rizal." Ucapnya, mengerti akan apa yang dua pria ini sedang menunggunya berbicara.


Sudah terbiasa Citra dan Dhira saling berbagi kala sedang membutuhkan sesuatu.


" Apa jangan-jangan Rizal dan Citra sudah menikah.!" Lirih Revan.


" Apa!!" Ucap bersaman Dika dan Dhira, terkejut akan tebakan Revan.


" Rizal pernah bilang ke aku, kalau dia sudah nikah dan aku tidak percaya, malah aku menertawakannya! Jika sudah nikah pasti orang tua Rizal akan menghubungi mama dan papa." Ucap Revan, mulai teringat akan perkataan Rizal.


" Kita perlu selidiki." Kata Dika, mulai penasaran akan tentang Citra dan Rizal. Dan di anggukkan sepasang suami istri yang juga penasaran akan hubungan Rizal dan Citra.


.


.


.


.🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2