
Berdamai dan melupakan masa lalu itu indah, dan kita akan mendapatkan hal berbeda.
.
.
.
.
" Tumben datang ke kantor, aku pikir kau sudah tak ingat denganku." Ucap Pria yang baru saja masuk ke dalam ruangannya saat selesai memimpin rapat, mengambil dua minuman di dalam lemari dingin dan duduk di depannya.
" Aku masih ingat lah Mas dengan mu, akhir-akhir ini aku sangat sibuk." Jawab Revan. " Gimana kabar mas Arzan." Tanyanya pada Arzan.
Ya setengah jam yang lalu, Revan memutuskan untuk berkunjung ke kantor kakaknya sudah lama dirinya tidak bertemu dengannya dan dirinya juga ingin berdamai dengan masa lalu dan melepaskan semua yang terjadi dulu, karena dirinya sudah menemukan pengganti dan akan memulai lembaran baru.
" Kabar ku baik, kau?" Tanya Arzan.
" Aku baik mas." Jawab Revan.
" Kau mau nikah." Tanya Arzan, membuat Revan mengerutkan keningnya.
" Mama yang bilang pada ku dan Eva." Ucapnya, yang langsung menganggukkan kepala. Belum dirinya bilang Mamanya sudah membocorkan dulu pada Arzan. Dan yah, tentang Eva entah kenapa Arzan menyebutkan nama mantan kekasihnya itu sudah tak ada lagi kata marah atau cemburu, rasanya sudah biasa saja mungkin karena dirinya sudah berdamai dan mendapatkan pengganti yang baik sepertinya.
" Aku ingin minta pendapat kamu Mas?" Kata Revan, dan mengambil satu kaleng minuman untuk membasahi tenggorokannya.
Memicingkan mata saat adiknya itu seperti mempunyai masalah, dalam percintaan.
" Apa.?" Jawab Arzan, memandang adiknya lekat lekat.
" Aku ingin jujur, tapi takut di tinggal dia." Kata Revan, dan benar saja tebakan Arzan apa lagi jika bukan percintaan adiknya
" Kebiasaan kau selalu begitu." sahut cepat Arzan. " Kalau enggak jujur juga akan di tinggal." Cibirnya, yang membuat Revan menyengir kuda.
" Tapi ini berat." dengan menghembuskan nafas panjang. " Dulu ayahnya dia rekan kerja ku, sudah membuat kesepatakan tapi ayah dia mulai berbuat curang dan merugikanku banyak." menghisap minumannya lagi dengan Arzan yang masih setia menunggu curhatan adiknya
" Aku tidak terimalah Mas, ya sudah aku buat saja perusahaannya sama seperti yang aku alami sedikit bangkrut tidak banyak. Tapi naas bukannya bangkit malah menjadi bangkrut lagi hingga semuanya tak tersisa." Ujarnya.
" Itu bukan salah kamu, dalam berbisnis memang seperti itu. Dia yang mulai, dan dia yang harus terima konsekuensinya. Lebih baik kau jujur saja sebelum ada orang memberitahukannya. " Saran Arzan, membuat Revan menatapnya.
" Jangan takut, jujur lebih baik dengan kau yang bilang langsung kepadanya. Dia akan marah dan kecewa padamu hanya sebentar saja." Imbuhnya lagi dengan tersenyum.
" Kayak udah pernah berpengalaman saja Mas." Cibir Revan, membuat Arzan tertawa.
__ADS_1
" Memang, hanya saja dia bilang pas mau mati." Jawab Arzan, yang mengingat mantan kekasihnya yang berpenghianat.
" Sakit bett.!!" Seru Revan, dan membuat mereka tertawa.
" Kau mengundangku dan istri ku enggak." Tanya Arzan.
" Ya undang lah Mas, Mas kan saudara ku." Jawab Revan.
" Masalahnya kau siap gak harus bertemu mantan pacarmu yang sudah menjadi istriku." Kata Arzan. " Kau kan sudah lama enggak bertemu dan terakhir ketemu saja acara nikah." Ujarnya lagi.
Yang memang benar Arzan bilang, dirinya membuat kesibukan sendiri untuk melupakan mantan kekasihnya agar dirinya tak mengingatnya lagi. Dan dirinya bisa melupakannya saat bertemu dengan Dhira dan membuat dirinya lupa akan segalanya termasuk mantan kekasihnya yang sudah menjadi kakak iparnya.
" Mantan terindah." Pancing Revan agar kakaknya cemburu.
" Cih .. Terindah tapi di sia-siain." Gerutu Arzan, dan benar saja ucapannya membuat Arzan cemburu hingga Revan tertawa melihatnya.
" Hahahaha .. Slow bos.!!" Kata Revan yang masih tertawa dan membuat Arzan melempar bulpoin ke arahnya.
" Eiss gak kena." Ejek Revan yang berhasil menghindar.
" Aku kan sudah bilang, aku iklas dia untuk Mas, asal Mas Arzan buat dia bahagia dan bisa melindunginya. Dan aku sudah mendapatkan wanita yang sama sepertinya, baik dan pengertian walaupun sedikit berbeda dari penampilan." Jawab jujur Revan, membuat Arzan tersenyum dan merasa lega karena Revan sudah melupakan Eva dan memulai lembaran baru.
" Kapan kakak ipar aka lahiran Mas.?" Tanya Revan.
" Jenis kelamin ponakanku apa." Tanya lagi.
" Enggak tau, karna aku dan Eva enggak ingin tanya tau jenis kelaminnya. Biar kejutan nanti kalau dia lahir dengan selamat." Jawabnya, dan di anggukkan oleh Revan.
Sedikit mengobrol tentang perusahaan dan meminta saran berbisnis agar usahanya lancar seperti kakaknya, hingga cukup lama. dan menatap jam yang sudah menunjukkan jam yang berjalan dengan cepat dan tak terasa dirinya sudah begitu lama di kantor kakaknya.
" Sepertinya aku harus kembali ke kantor Mas." Kata Revan dan berdiri dari duduknya di ikuti Arzan yang juga berdiri.
" Hmm, main lah ke rumah bawa calon istri mu dan kenalkan pada kami." Pinta Arzan.
" Iya." Jawabnya dengan tersenyum dan memeluk kakaknya sebagai tanda sayang dan berpisah, di balas dengan tepukan di punggung Revan dengan tersenyum.
Mengantarkan adiknya keluar dari ruangannya serta menatap punggung Revan hingga tak terlihat dari pintu lift. Tersenyum saat adik tirinya sudah berubah dewasa dan berdamai dengan masa lalu hingga dirinya tak perlu merasa bersalah dan khawatir lagi.
****
Dhira yang baru sampai di cafe siang hari, saat semalam dirinya begadang dengan dua sahabatnya.
" Kamu datang tadi pagi.?" Tanya Dhira saat berada di bar tander melihat Citra yang sedang berkemas
__ADS_1
" Tidak, aku barusan sampai. Ngantuk gara-gara lembur sama mu semalam." Celetuk Citra
" Idih, nyalahin aku. Bukannya gara-gara kamu tu yang gak sabaran untuk introgasi aku." Jawab Dhira dengan mengerucutkan bibir.
" Karena kamu tu, membuat ku sangat penasaran dan terkejut tau enggak." Elaknya, yang membuat Dhira yang menggelengkan kepala dan tersenyum.
" Aku habis nich mau keluar, nitip cafe ya." Kata Dhira.
" Keluar kemana." Tanya Citra memicingkan mata menatap Dhira.
" Sam-," Belum sempat menjawab.
" Nak Dhira.?" sapa wanita tua dari belakang, membuat Citra dan Dhira menatapnya.
" Tante Vani." Sapa ramah Dhira dan Citra bersamaan.
" Duduk tante." Ajak Dhira dan di anggukkan Nyonya Vani duduk bersama dengan Dhira dan juga Citra yang ada di depannya.
" Ini cafe Dhira ya." Tanya Nyonya Vani dengan memandang seluruh ruang cafe yang terlihat sedikit ramai, instragamable, dan bersih.
" Iya tan, di bantu sama Citra dan Dika." Jawabnya dengan tersenyum, membuat Citra ikut tersenyum. Karena Dhira memang tak bisa membuka cafenya tanpa bantuan Citra dan Dika dan tidak ingin dirinya di puji sendiri sedangkan dua sahabatnya tidak.
" Kalian sungguh luar biasa, tante salut sama kalian." Puji Nyonya Vani pada Dhira dan Citra.
" Terima kasih." Jawab bersamaan Dhira dan Citra.
" Oh ya Cit, tante pinjam teman kamu ya. Tante mau ajak dia." Kata Nyonya Vani.
" Bawa saja tante, lagian di sini dia juga bakalan jadi pengangguran." Kata Citra membuat Dhira mengerutkan keningnya.
" Udah sana pergi, nanti jangan lupa bawain aku oleh-oleh." Ujarnya lagi dengan menaikkan alisnya dan tersenyum lebar.
" Ada udang di balik batu.!" Seru Dhira, yang membuat Nyonya Vani dan Citra tertawa bersama.
.
.
.
.🍃🍃🍃
Doble Up sayang.
__ADS_1
Jaga kesehatan ya, karena sehat itu mahal harganya.