Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
godaan setan


__ADS_3

Ketika godaan sudah ada di depan mata, ingin sekali aku berteriak. Emak!! mau kawin.


.


.


.


.


Menatap punggung mulus Dhira dengan susah payah dirinya menelan saliva dan godaan setan yang membisikkannya untuk mengikuti perkataan tanduk merah saat melihat mangsa yang begitu tersaji di depan mata.


" Sudah terobos saja enggak papa, dia kan yang menggodamu dulu." bisik setan merah di telinga kiri Revan.


" Jangan, belum halal." cegah setan putih.


" Enggak papa nglakuin dulu, nanti baru halalin." bisik lagi setan merah, membuat Revan tanpa sadar mengangguk.


Perkataan setan merah membuat iman Revan melemah dan begitu saja ia menginginkannya.


Sungguh rasa ini sangatlah berat, iya tidak kuat untuk melakukannya. Punggung yang belum di sentuh olehnya saja sudah membuat sang jerry mulai tegang sedikit apa lagi jika di sentuh olehnya bisa-bisa sang jerry sudah berdiri tegak dan susah untuk di tidurkan.


" Beb.!!" seru Dhira dengan melihat ke belakang, membuat Revan tersentak kecil dan tersadar dari lamunannya.


" Katanya mau obatin .. ayo! ini sudah sakit sekali.!!" ucap Dhira dengan wajah yang memelas.


" I-ya." jawab gugup Revan dan mulai membuka tutup salep, menutup mata sebentar untuk mulai mengolesi salep itu pada punggung Dhira.


Menyentuh punggung Dhira dengan sangat lembut saat Dhira mengeluarkan suara rintisan.


" Sakit.?" tanya Revan.


" Sedikit." jawabnya lirih dengan menggigit bibir bawah, Dhira sendiri merasakan hal yang aneh saat jari-jari Revan menyentuh punggungnya dan mengusapnya dengan lembut.


Sentuhan Revan membuat tubuh Dhira menegang, gelenyar hati yang mulai berdebar sensasi panas di tubuhnya mulai terasa, sama seperti apa yang di alami oleh Revan saat menyentuh punggung Dhira yang berbuka.

__ADS_1


Mengusapnya dengan lembut hingga salep mulai meresap, bergeser maju untuk lebih mendekat hingga tanpa sadar ia mencium bahu Dhira yang tidak tertutup dengan kedua tangan yang melingkar di perut Dhira.


Dhira sangat tegang dengan mata yang membulat sempurna menatap ke depan, saat merasakan bibir Revan menyentuh bahunya dan kedua tangan melingkar di perutnya.


Memberikan sentuhan manis di bahu kekasihnya dengan Revan menggigit kecil bahu Dhira membuat Dhira tanpa sadar memiringkan kepalanya memberikan akses bagi Revan untuk menjelajahi leher Dhira dengan bibirnya.


Memberikan kecupan-kecupan manis di leher Dhira membuat Dhira memejamkan mata, menggeliat, dan menyentuh tangan Revan yang masih berada di perutnya.


Menyentuh tangan Dhira menggenggamnya dengam lembut dengan dia yang mulai m*nghis*p leher putih Dhira dan akan menyisahkan bekas merah selama beberapa hari.


" Van.?" desah Dhira, dengan memanggil nama kekasihnya dan semakin membuat Revan bergairah saat Dhira menyebut namanya.


Memeluk erat tubuh kekasihnya dengan masih menggenggam tangan Dhira, memberikan sekali lagi tanda merah di bahu Dhira hingga membuat Dhira bergumam pelan.


" Kita belum nikah.!" ucap Dhira, dan sukses membuat Revan mulai tersadar hingga ia menyandarkan wajahnya di bahu sang kekasih.


Dua insan yang sama-sama merasakan debaran jantung, mengatur deru nafas yang sudah tidak teratur dan masih saling menggenggam tangan begitu erat, mengalirkan rasa cinta yang begitu dalam.


Memberikan kecupan singkat di bahu Dhira sebelum ia menutup punggung kekasihnya dengan jaket yang dia pakai.


Berjalan ke arah kamar Revan dengan dia yang mulai memakai tantop tanpa bra saat punggungnya masih terasa perih dan memilih menidurkan tubuhnya di ranjang Revan kala mata mulai lelah.


Revan yang cukup lama di kamar mandi dengan dirinya yang harus bermain sendiri tanpa bantuan sang kekasih, membuat dirinya menghembuskan nafas berat dan tidak bersemangat.


Keluar dari kamar mandi, berjalan ke arah kamarnya dan mendapati kekasihnya yang sedang tertidur dengan memeluk guling membuatnya tersenyum dan ia pun mulai naik di atas ranjang merebahkan tubuhnya di samping kekasihnya dan memeluknya dari belakang.


" Jika saja kamu tidak bilang seperti tadi, mungkin aku sudah melakukannya Beb.?" gumam Revan.


" Maaf sudah membuat tanda cinta di tubuh kamu." ujarnya lagi dengan tersenyum dan menyentuh dua tanda merah di bahu serta leher Dhira yangembuat Dhira menggeliat kecil dan membalikkan badan menghadap Revan.


Menatap wajah Dhira yang tertidur pulas begitu cantik dengan bibir yang mungil membuatnya tersenyum, memberikan ciuman pengantar sebelum tidur. hingga tanpa sengaja ia melihat dua gunung kembar yang terpampang jelas di hadapannya dengan dua pucuk yang juga terlihat di balik tantop Dhira.


" Kamu sungguh menggoda imanku malam ini Beb." gumam Revan dalam hati, ia pun cepat-cepat menyelimuti tubuh Dhira sampai bawah leher, dan turun dari ranjangnya untuk tidur di sofa agar si jerry tidak terbangun lagi.


****

__ADS_1


Pagi setengah siang dengan tirai jendela kamar yang terbuka sedikit, memperlihatkan cahaya matahari masuk ke dalam kamar yang tertutup rapat dan menggeliatkan tubuhnya saat ia terbangun dari tidurnya yang begitu nyenyak.


Menguap, mengusap mata dan merenggangkan ke dua tanganya serta menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan tiga puluh, membuat Dhira sedikit terkejut karena tidak biasanya ia bangun sesiang ini.


Turun dari ranjang bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka sebelum ia turun ke bawah. Terkejut saat ia sedang mengikat rambut dan melihat tanda merah di lehernya saat bercermin, bukan hanya satu tapi dua tanda merah yang membuat Dhira mengingat kembali semalam bersama Revan.


Mengingatnya, membuat dirinya merasa geli dan mulai menghapus pikiran kotor yang ada di otaknya. Mencuci muka dengan bersih dan kembali ke kamar untuk memakai kembali branya serta merapikan tempat tidur sebelum ia turun ke bawah.


Turun ke bawah menuju dapur dan mengambil air dingin di dalam lemari es karena merasa haus dan berjalan ke arah ruang tamu, melihat Alex yang sedang asik menonton film kesukaannya.


" Kakak kok enggak bangunin Dhira.?" tanya Dhira saat berada di samping kakaknya.


" Kata Levan, Dhila capek gak boleh di bangunin." jawab Alex, membuat Dhira mengerutkan kening sejak kapan kakaknya ini mulai menurut sama orang lain. Apa lagi Revan yang baru beberapa bulan ia kenal.


" Terus Kak Revanya mana kak." tanya Dhira.


" Pulang dali tadi pagi." jawabnya lagi, dan di anggukkan Dhira.


" Tumben dia sudah pulang." gumam Dhira dalam hati, yang biasanya sebelum berangkat kerja selalu mengganggu dirinya tidur dan selalu menyuruhnya untuk menyiapkan bekal makan.


" Bik minah mana." tanya Dhira, hanya menujukkan arah saat Dhira bertanya karena Alex masih fokus dengan film barunya.


Berjalan ke arah bik minah dan menanyakan Revan, yang ternyata pulang pagi sekali saat ia mendapatkan telepon dari seseorang dan membuat wajahnya berubah khawatir serta tergesa-gesa saat ia pulang. Dhira sedikit heran dan mencoba mengirim pesan pada kekasihnya untuk menanyakan padanya.


" Apa semuanya baik-baik saja beb." tulis pesan Dhira pada Revan.


.


.


.


.πŸƒπŸƒπŸƒ


belum halal.πŸ˜„πŸ˜„ tapi udah tempel-tempelπŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2