
Rasanya aku ingin sekali melarang mu, tapi itu tidak lah mungkin, karena aku bukanlah siapa-siapa mu.
.
.
.
.
Sempat beragumen kecil saat Revan sudah membukakan pintu mobil kala dia ingin menggendong Dhira untuk segera masuk ke dalam rumah sakit.
Bukan mencari kesempatan, hanya saja dia begitu khawatir dan tidak tega melihat luka Dhira yang begitu parah dengan kaki yang mengelupas begitu dalam memperlihatkan daging setengah putih. Sungguh itu mengerikan dan sangat ngilu untuk di lihat tapi yang di khawatirkan merasa biasa-biasa saja.
Mengalah untuk tidak menggendong Dhira, hingga dia pun memutuskan untuk mengambil kursi roda saat berada di depan pintu masuk rumah sakit.
Lagi-lagi Revan salah dan mendapatkan semprotan dari Dhira yang marah karena membawakan kursi roda untuk dirinya. Tapi bukan Revan namanya jika dirinya tidak mengancam dengan gaya tengilnya.
" Kaki ku tidak patah tulang dan tidak perlu seperti ini.!" gerutu Dhira yang lebih memilih untuk duduk di kursi roda dari pada dirinya harus di gendong dengan Revan.
" Kaki kamu parah banget Cil.! memangnya kamu tidak sakit apa." ucapnya dengan berjalan ke arah ruang tunggu, setelah selesai melakukan pendaftaran sebagai pasien berobat.
" Sakit ku sudah hilang saat semalam ada yang mengobati ku." jawab Dhira.
" Ulu-ulu.!! manisnya." seru Revan dengan menahan tawa. " Tapi sayang aku bukan dokter." jawab Revan, membuat Dhira tersenyum dan mengerucutkan bibirnya.
Duduk di kursi tunggu dengan beberapa pasien yang juga sedang mengantri untuk di panggil.
" Kau tidak bekerja kak." tanya Dhira.
" Nunggu kamu selesai berobat nanti baru kerja." jawabnya dengan memeriksa ponselnya yang sedang berbunyi.
" Wihh.!! bos mah bebas, telat kerja juga enggak akan di pecat." sindir Dhira.
" Tenang enggak akan di pecat, orang yang punya Bapak ku sendiri. " jawab Revan.
" Idiih.!! sombong." ucap Dhira membuat Revan tertawa dan mengusap rambut Bocilnya.
__ADS_1
" Jika aku sombong, aku tidak akan mau mengantri seperti ini Bocil. " bisiknya lirih dengan menunjukkan pasien yang sedang menunggu giliran untuk di panggil.
Jika Revan mau pasti sedari tadi dia tidak akan mau mengantri dan akan memilih VIP. tapi Revan lebih senang hidup merakyat dan juga mencuri waktu untuk berdua dengan Dhira.
Revan orang yang sederhana suka makan di pinggir jalan walaupun banyak uang, suka berbagi dengan anak jalanan dan tidak malu saat jalan dengan seorang ABK.
Beberapa minggu dekat Revan, Dhira mulai Sedikit tau tentang sifat Revan yang memang tidak sombong dan suka hidup dengan keserhanaan meskipun bergelimang harta. Ya, Walaupun dia seorang penguntit dan suka menggodanya, tapi sebenarnya dia orang yang asik, dan humoris itu sebabnya Dhira merasa nyaman dengan Revan
menunggu Antrian hingga terdengar nama Dhira yang di panggil oleh suster.
Masuk ke dalam ruang IGD dengan Revan yang mendorong kursi roda Dhira.
Duduk di atas brankar dan suster pun mulai membersihkan lukanya serta memperban luka Dhira agar tidak terinfeksi oleh debu. Memberikan suntikan antibiotik dan menulis resep obatnya.
Mengantarkannya pulang walaupun awalnya Dhira menolak karena motornya masih ada di cafe dan pasrah saat Revan akan mengancam untuk memberitahukan kakaknya.
" Terima kasih sudah mengantarku pulang." ucap Dhira saat mobil Revan sudah sampai di depan rumahnya.
" Iya.?" dengan mengusap rambut Dhira " Istirahat dan jangan lupa minum obatnya Cil." ujarnya lagi.
" Iya.!" seru Dhira " Semangat ya cari uangnya, buat modal kita nikah nanti.?" ucap Dhira dengan tersenyum dan menaikkan alisnya.
"Eh.!! " pekik Dhira dengan mata membulat akan godaan Revan atau memang ingin mengajaknya nikah.
" Kenapa Cil. Mau enggak nikah sama aku.!" tanya Revan lagi dengan menahan tawa melihat expresi Dhira.
" Mau turun kak, bik Minah sudah ada di depan.?" kata Dhira yang tidak tau harus menjawab apa karena bingung dengan perkataan Revan.
Membuka pintu mobil dan akan keluar sebelum tangan Dhira di tahan oleh Revan.
" Hati-hati. Kaki kamu masih terluka.?" ujar Revan saat Dhira ingin keluar cepat, hanya mengangguk dan tersenyum.
Berjalan dengan hati-hati dan melihat ke belakang saat kaca mobil Revan terbuka dengan dia yang melambaikan tangan dan memberikan kiss Awaynya, membuat Dhira membulatkan mata serta memalingkan wajahnya dengan rasa malu karena mendapatkan ciuman jauh dari Revan.
Tersenyum saat melihat Dhira memalingkan wajahnya karena malu dan menatap tubuh Dhira yang sudah masuk ke dalam rumah.
Bocil.!" gumam Revan dengan tertawa kecil dan menggelengkan kepala saat dia teringat godaan Dhira. Menjalankan mobilnya untuk menuju ke kantornya.
__ADS_1
*****
" Siang pak.!!" seru Rizal saat berada di ruangan Revan.
" Udah, enggak usah basa-basi. Aku tau kalau kamu kesal dengan ku." ucap Revan dengan mulai melihat pekerjaannya.
Rasanya Rizal ingin sekali mengumpat kesal tapi dia takut jika nanti dia akan di kasih pekerjaan untuk lembur sampai malam. Sungguh itu sangat membuatnya lelah.
" Ada apa.?" tanya Revan pada Asistennya.
" Minggu depan jadwal anda berkunjung ke anak cabang pabrik dan ada pertemuan dengan klaen dari singapure." kata Rizal membuat Revan menatapnya.
" Berapa hari." tanya Revan.
" Kemungkinan tiga hari kita di sana." jawabnya, di anggukkan oleh Revan dan memulai lagi menatap lembaran mapp yang begitu menumpuk.
" Zal, kau bisa menolong ku." pinta Revan.
" Ya pak." kata Rizal
" Aku akan mengirimkan fotonya pada mu dan berikan semua informasi sedetail mungkin pada ku nanti." kata Revan dan di anggukkan oleh Rizal.
Berjalan keluar dari ruang bosnya dan kembali ke dalam ruangannya. Mengambil ponsel Rizal yang berbunyi dan mengerutkan kening saat bosnya mengirim gambar foto pria paruh baya.
" Sepertinya orang ini tidak asing." gumam Rizal dengan menatap foto yang ada di ponselnya.
Memulai menghubungi anak buahnya dan mengirim gambar pria paruh baya yang sudah di kirimkan oleh Revan padanya. Menyuruhnya untuk segera mencari identitasnya.
Revan diam-diam mencuri foto saat waktu itu Revan ingin menumpang mandi di kamar Dhira. Menatap sekilas di atas laci Dhira yang terdapat foto pria paruh baya di kamar Dhira.
Seperti tidak asing bagi Revan saat menatap foto pria paruh baya. hingga dia mencoba untuk memfotonya dan ingin mencari tau siapa pria ini dan siapa Dhira sebenarnya.
.
.
.
__ADS_1
.🐨🐨🐨
Selamat malam minggu.😁😁