Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
sakit


__ADS_3

Aku tidak tau harus bagaimana lagi, dan aku harus melakukannya dan itu membuat ku sungguh takut.


.


.


.


.


Membukakan folding gadenya yang tertutup setengah dan mendapati mobil sport yang ada di depan cafe dengan seorang pria yang tersenyum ke arahnya.


Ikut tersenyun saat pria itu menatap dan berjalan ke arahnya. Siapa lagi jika bukan Revan yang datang di cafe baru Dhira saat pulang dari kantornya.


Ya, Dhira siang itu memberikan kabar pada Revan jika dirinya membuka cefe cabang barunya dan memintanya untuk datang jika Revan tidak sibuk. Tapi sayangnya Revan tidak bisa datang di siang hari, tapi Revan mengusahakannya untuk datang sepulang dari kantor agar Dhira tidak kecewa.


" Ayo masuk.!" ajak Dhira dan di anggukkan oleh Revan dan menutup folding gatenya.


" Selamat Beb atas pembukaan cafe barunya." kata Revan yang ada di hadapan Dhira dengan mengacak rambutnya serta memberikan sebuket bunga merah untuk Dhira.


" Terima kasih." kata Dhira dengan tertawa kecil dan mengambil buket bunga dari Revan. " Kamu capek ya." ujarnya lagi.


" Sedikit.?"


" Ruangan ku ada di sana, masuklah. Aku akan membuatkan mu minuman." kata Dhira dengan menunjukkan ruangannya di lantai atas.


" Aku akan membantu ka-."


" Tidak usah, kamu capek." sela Dhira " Sana istirahat dan bersihkan muka mu dulu yang kusam itu kak." tambahnya lagi dengan tersenyum


" Kusam-kusam gini kamu juga suka.?" protes Revan membuat Dhira tertawa.


" Udah sana kak ke atas." perintah Dhira, mengangguk dan mengikuti perintah Dhira untuk ke atas mungkin karena memang Revan sangat lelah sekali hingga dia tidak menolak.


berjalan ke arah sofa, merebahkan tubuhnya di sana dengan posisi meringkuk seperti sedang kedinginan dan memejamkan mata saat matanya mulai panas.


Dhira sedang membuatkan minuman serta makanan ringan untuk Revan dengan semangat.

__ADS_1


Berjalan menaiki tangga dan membawakan nampan berisi minuman dan makanan dengan hati-hati. Memasuki ruang kerja dan menaruh makanannya di meja dengan melihat Revan yang sedang tertidur dengan posisi meringkuk.


Mencoba membangunkannya dengan menyentuh lengan Revan, hanya terdengar gumaman yang tidak terlalu jelas dari bibir Revan.


" Kak.?" panggil Dhira sekali lagi dengan mengusap lembut lengan Revan.


Membuka mata yang memerah membuat Dhira mengerutkan keningnya dan mencoba menyentuh kening Revan yang ternyata begitu panas.


" Astaga! dia demam." pekik Dhira " Kak pindah ke kamar ya." pinta Dhira dengan mencoba membangunkan Revan, mengangkat tubuh Ravan dan menuntunnya ke kamar ruangan pribadi Dhira.


Ruang yang tidak terlalu besar hanya terdapat tempat tidur yang kecil dan laci, untuk dia beristirahat saat lelah bekerja.


Membaringkan tubuh Revan di ranjangnya dan menyelimuti tubuh Revan yang menggigil.


Beranjak turun dari lantai atas dengan cepat mengambil baskom untuk di isikan air hangat, mencari handuk kecil yang dia taruh di laci dan mengompres kepala Revan.


" Aku harus membeli obat." gumam Dhira lirih dan beranjak turun, Merutuki kebodohannya saat Dhira lupa jika motornya di bawa pulang oleh Dika, hingga Dhira harus berlari kecil untuk menuju minimarket atau apotik terdekat.


Beruntung minimarket tidak begitu jauh, hingha dia bisa membeli obat walaupun hanya obat pereda panas biasa yang bukan di anjurkan oleh dokter, yang terpenting Revan tidak akan panas dan bisa membawanya ke dokter jika dia sudah terbangun nanti.


" Kak.! minum obatnya dulu ya." kata Dhira dengan mencoba membangunkan Revan


" Dingin." gumam Revan dengan menggigil meskipun dirinya sudah memakai selimut.


" Dingin.!" dengan mengerutkan kening dan melihat Ac yang tidak menyala. " Minum obatnya dulu ya Kak." ujar Dhira.


Mencoba mengangkat tubuh Revan untuk duduk agar bisa meminum obat, terkejut saat menyentuh kemeja Revan yang begitu basah akibat keringat yang begitu banyak.


Memberikan obat dan minum untuk Revan dan mencoba melepas kemeja serta kaos polos yang melekat di tubuh Revan yang begitu basah dan menyelimuti kembali tubuh Revan yang masih menggigil.


Jika membuka baju Alex biasa saja saat sakit tapi ini rasanya sangat malu dan grogi saat membuka baju Revan, tapi mau gimana lagi karena bajunya begitu basah dan itu membuatnya kedinginan.


" Dingin.!" gumam Revan lagi yang menggigil dan memejamkan mata.


" Sudah aku olesi minyak kayu putih, kenapa dia masih bilang dingin dan tubuhnya sudah tidak panas lagi." ujar Dhira dengan sendirinya dan mencoba membuka ponsel untuk melihat artikel cara mengatasi kedinginan.


" hipotermia.!" pekik Dhira dengan terkejut dan melihat Revan yang masih menggigil dengan bibir yang mulai kebiruan.

__ADS_1


" Aku harus apa.!" ucapnya dengan gelisah " tidak-tidak aku tidak bisa lakukan itu." ujarnya dengan melihat Revan lagi.


" Ah.!!" pekiknya dengan gelisah dan ia pun dengan terpaksa harus melakukannya.


berjalan mendekati Revan dengan ragu, membuka kancing kemeja yang Dhira pakai hari ini dan masih menyisihkan tank top hitam di tubuhnya. Membuka selimut dan nembaringkan tubuhnya di samping Revan, memejamkan mata saat ia mulai memeluk Revan.


Revan seakan mencari kehangatan di tubuh Dhira dengan mencoba membenamkan wajahnya di dada Dhira dan itu sungguh membuat tubuh Dhira tersengat aliran listrik dengan tubuhnya yang menjadi kaku.


Belum merasa hangat mencoba lagi membuka kain hitam yang menghalanginya dengan tangan nakal Revan yang masuk ke dalam tank top Dhira dan memeluknya dengan erat, dengan tangan Revan yang berada di pinggang Dhira.


lagi-lagi Dhira memejamkan mata dan lebih kaku dari yang sebelumnya saat Revan mengusap-usapkan wajahnya ke kulit Dhira, mencoba setenang mungkin dan mulai mengusap punggung Revan dengan saling memeluk dan itu dengan cepat membuat Revan tenang dan nyaman serta tidak lagi menggigil.


Mengusap punggung Revan dan mulai terlelah dengan banyaknya pikiran yang begitu membuatnya mengantuk, dan tanpa sadar Dhira pun ikut tertidur juga.


menggeliatkan wajahnya saat Revan mulai merasa ada yang hangat dan mulai membuka mata dengan perlahan hingga dia begitu terkejut saat mendapati wajahnya yang ada di dada seorang wanita, dengan tangan wanita itu yang berada di lehernya.


Menatap ke atas dan begitu terkejut melihat wanita yang tidur bersamanya dan memeluknya adalah Dhira.


" Dhira.?" ucapnya dengan lirih dan mulai mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.


Dhira yang merasakan sesuatu yang bergerak membuatnya terbangun dan mengerjabkan mata, dan mendapati Revan yang sedang menatapnya.


Terkejut dan membulatkan mata saat Revan menatapnya dan mulai menyingkirkan tangannya dari leher Revan serta beranjak dari tidurnya.


Memunguti kemeja yang ada di lantai memunggungi Revan dan memakai kembali kemejanya dengan Revan yang duduk di ranjang serta menatap punggung Dhira.


" Dhir.!" sapa Revan, membuat tubuh Dhira menjadi tegang saat pertama kali Revan memanggil namanya.


.


.


.


.🐨🐨🐨


Maaf keterlambatannya

__ADS_1


__ADS_2