
Dia sangat sempurna, sangatlah sempurna dan hanya dia wanita dalam hidupku.
.
.
.
.
Acara tujuh bulanan sangat khusuk dan sangat membahagiakan. Dimana para keluarga, anak, besan, kerabat dan para tetangga hadir dalam acara tasyakuran tujuh bulanan menantunya.
Begitu banyak yang datang dan begitu banyak yang mendoakan kehamilan menantunya.
*Semoga lancar persalinannya ya jeng?
Semoga ibu dan anaknya sehat selalu.
Semoga cucunya lahir dengan selamat jeng, dan ibunya baik-baik saja?
Sudah gak sabar gendong cucu lagi yah jeng? Selamat ya jeng*?
Dan masih banyak lagi kata-kata ucapan selamat dari teman arisan Nyonya Vani.
Ini adalah cucu ke dua dari putra yang ke dua, putra yang pertama sudah memberikan cucu laki-laki yang gimbul dan menggemaskan. Cucu pertama yang sekarang sudah bisa mengoceh dan berjalan. Mempunyai cucu adalah keinginanannya dan ke inginan suaminya, untuk menghiasi rumah yang sunyi dan hanya di tempati berdu saja.
Dirinya bukan ibu mertua yang menuntut dua menantunya untuk segera mendapatkan momongan. Karena dirinya tau, jika menuntut ingin mempunyai cucu dengan cepat, keluarga kecil yang di bangun oleh ke dua putranya akan mengalami pertengkaran dan bisa mengakibatkan perceraian.
Karena itu dirinya tidak ingin menuntut pada ke dua menantunya, biarkan mereka menikmati terlebih dulu pengantin baru dan masa adaptasi untuk memulai kehidupan yang baru. Tapi jika di kasih dengan cepat dirinya sangat bahagia dan sangat bersyukur pada Tuhan, karena setiap doanya hanya ingin mempunyai cucu.
Kini keluarga besarnya sangatlah sempurna, mempunyai dua menantu yang cantik dan baik, serta mempunyai dua cucu dari dua putranya yang dia rawat dengan kasih sayang.
Arva Azura Ravindra, cucu pertama dari anak pertamanya, Arzan dan Eva. Nama yang sangat indah, menggambarkan diri seperti putranyanya yang penyayang, tegas, penuh kasih sayang dan bertanggung jawab.
Cucu yang kedua, dirinya berharap mempunyai cucu perempuan. Tapi jika dirinya di kasih cucu laki-laki dirinya akan tetap senang dan menerimanya. Dan dirinya tidak akan membedakan cucu perempuan dan laki-laki, dirinya akan sama membagi kasih sayangnya.
Dhira yang sedang duduk bersama Revan menikmati sup buah segar, mulai menoleh ke samping. Di saat tangan mungil menarik baju lengannya.
" Eh!" Pekik Dhira. " Arva?" sapanya dengan tersenyum, menaruh mangkuk sup buah dan mengambil bocah gimbul untuk di pangkunya.
__ADS_1
" Hay, jagoan?" Sapa Revan, memainkan ke dua pipi Arva yang gimbul dan membuat bibir Arva mengerucut.
" Ih Kak!" Pukul pelan tangan Revan. " Kasian tau! nanti nangis." Ujarnya lagi, membuat suaminya meringis.
" Mana ada jagoan nangis! Iya kan!" Ucap Revan, membuat Arva tertawa.
" Jagoan kok ngeces!" Seru Revan, melihat Arva yang mengeluarkan air liurnya.
" Namanya juga anak kecil kak?" Bela Dhira, mengusap air liur Arva dengan tissu.
" Aku dulu enggak kayak gitu?"
" Gak kayak gitu gimana. Orang kamu dulu lebih parah dari cucu mama?" Bela Nyonya Vani, datang menghampiri putra, menantu dan cucunya.
Dhira tertawa kecil, Revan yang mengerucutkan bibirnya dan Arva yang lebih fokus bermain sendok di tangannya.
" Gitu ngolok Arva. Ternyata dirinya lebih parah! " Seloroh seorang pria dari belakang, siapa lagi jika bukan ayahnya Arva. Ikut duduk di samping Mamanya dengan Arva yang mulai merentangkan ke dua tangannya menghadapnya.
" Ini nich, gara-gara bapaknya gak mau nuruti kemauan istrinya pas hamil, jadinya ngeces mulu." Ucap Revan tak mau kalah dengan olokan Arzan.
" Sok tau!" Seru Arzan, mengambil Arva dan mulai menciumi pipi gembul anaknya.
" Lagi nyiapin makanan buat Arva, tu?" Jawab Arzan, mengalihkan pandangannya untuk melihat istrinya yang sedang membuat makanan untuk Arva.
" Oh?" Jawab Dhira, menggoda Arva kembali dan membuat Arva tertawa.
" Kamu sudah makan nak?" Tanya Nyonya Vani.
" Sudah tadi ma?"
" Enggak mau makan lagi."
" Nanti saja ma. Makan bersama?" Jawabnya dan di anggukkan Nyonya Vani.
" Arva? Ayo kita makan dulu sayang." Ucap Eva, datang menghampiri putranya yang di gendong Arzan.
" Mam .. Mam!" Seru Arva membuat semua orang tertawa. Menggendong Arva, menciumi pipinya hingga Arva merasa kegelian.
" Aku bawa Arva dulu Ma." Pamit Eva.
__ADS_1
" Iya sayang?" Jawab Nyonya Vani.
" Aku ikut ya mbak?" Ucap Dhira.
" Ayo?" Ajak Eva semangat, tersenyum menatap Dhira.
Berjalan beriringan bersama, meninggalkan mertua dan para suami yang sedang ingin mengobrol lebih.
" Apa kamu dulu juga begini mas?" Tanya Revan, menatap punggung istrinya dengan perut yang sudah membuncit.
" Hmm, rasanya tidak tega saat dia kesusahan saat memposisikan tidurnya." Jawab Arzan.
" Maka dari itu jangan pernah membuat istri kalian menangis ataupun terluka." Tutur Nyonya Vani. " Lihatlah betapa susahnya mereka menjalani kehamilan, apa lagi jika akan melahirkan." Ujarnya lagi, pada ke dua putranya.
Arzan mengangguk mengerti dan tau bagaimana sakit dan derita istrinya saat akan melahirkan putranya. Ia juga merasa khawatir, menangis kala istrinya benar-benar merasa kesakitan saat ingin melahirkan dengan normal. Tapi sayang, karena tak kunjung lahir dan air ketuban tinggal sedikit, Eva akhirnya harus melahirkan dengan ceasar.
Tidak masalah, yang terpenting istri dan anaknya selamat. Ia pun meminta pada dokter untuk menemani istrinya di dalam ruang operasi, dan dokter pun mengizinkannya.
Menemani istrinya sendiri, kala ke dua orang tua angkatnya sedang pergi ke luar kota untuk menemui undangan dari kerabat jauhnya.
Menelpon ibunya, dengan dia meminta doa untuk keselamatan istri dan anaknya. hingga tanpa terasa air mata mulai kembali menetes. Sungguh dia bukan orang yang tangguh jika mengenai istrinya, tapi dia mencoba kuat untuk menyemangati istrinya yang sedang berjuang.
Nyonya Vani tak pernah berhenti berdoa pada menanti putra angkatnya, di sepanjang penerbangan dan jalan ia selalu memanjatkan doa untuk menantu serta cucunya. Di temani suami yang setia menenangkannya.
Ya, setelah mendapatkan kabar Eva yang akan melahirkan dan akan menjalani operasi serta penjelasan dari putra angkatnya, dirinya sedikit terkejut dan mulai berbicara pada suaminya. Hingga suaminya memutuskan pulang sebelum acara selesai.
Bukan Nyonya Vani saja yang begitu khawatir, tapi juga Budhe Eva yang ada di desa juga khawatir hingga keluarga Eva yang ada di desa memutuskan untuk pergi ke kota malam hari.
Sungguh Arzan dan Eva sangatlah bersyukur mempunyai dua keluarga yang sangat perhatian dan sayang padanya. Sungguh dirinya mulai kuat kala ke dua keluarga memberikan semangat dan perhatian lebih pada istri dan dirinya.
Jika sedang seperti ini, memang seorang putra masih membutuhkan curahan dan sandaran pada seorang ibu. Karena dia tidak mungkin untuk memendamnya sendiri lagi.
Dan dirinya berharap semoga Adik ipar bisa melahirkan dengan mudah serta ibu dan anaknya sehat selalu.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃