
Ucap syukur saat aku mendapatkan kado terindah dalam hidupku, dua garis membuatku menangis.
.
.
.
.
Malam itu malam yang sangat membuatnya gelisah. Sepulang dari rumah sakit dirinya selalu saja memikirkan perkataan Kinan, yang bilang jika suaminya seperti orang hamil, mual dan muntah jika mencium bau rumah sakit yang penuh dengan bau obat. Dan perkataan Kinan teringat jika dirinya belum datang bulan selama dua bulan ini.
Berada di perjalanan, ia menatap suaminya sedang menyetir dan tak lagi pucat ataupun mual saat berada di rumah sakit.
Aneh sekali bukan? Sangat aneh.
Dalam perjalanan ia melihat apotik dua puluh empat jam dan menyuruh suaminya untuk berhenti sekejab. Membeli sesuatu yang akan di sembunyikan terlebih dulu sebelum dirinya melakukannya dan berharap keajaiban akan berpihak kepadanya esok pagi.
Pagi sekali, pagi yang sangat di tunggu-tunggu olehnya. Bangun dari ranjang menatap suaminya yang masih tertidur lelap, memandangnya dengan tersenyum dan berharap pagi ini dirinya membawakan kabar baik untuk suami tercintanya.
Memegang benda yang sudah lama tidak ia pakaikan lagi di saat dirinya selalu berharap mendapatkan dua garis ketika telat datang bulan selama satu minggu dan mendapatkan hasil yang nihil sama sekali.
Tapi kini, dirinya harus melakukan lagi walaupun nantinya ia harus menerima hasil yang membuatnya kecewa atau justru sebaliknya.
ketika benda kecil panjang yang sudah di masukkan ke dalam wadah berisi air kencingnya. Ia gemetar, tidak berani untuk melihat, ia takut kecewa, ia takut harapannya pupus.
Dengan jantung yang berdebar dan mata yang mulai melihatnya serta tangan yang bergetar ia pun mulai melihatnya.
Menatap begitu lama, jantung yang semakin berdebar kencang, mata yang membulat dan bibir yang terbuka.
" A .. ku, Apa ini benar?" Lirihnya, menatapnya dengan masih tak percaya.
" Dua garis!" Ujarnya lagi, mata yang mulai menggenang dan bibir yang bergetar tangan satu menyentuh dada, meremas kuat bajunya tanpa terasa senyum tangis membasahi pipinya di pagi hari.
Menangis di pagi hari dengan rasa bahagia dan terharu akan apa yang ia inginkan selama ini Tuhan telah memberikannya. Tuhan telah mengirimkan malaikat kecil di dalam rahimnya, Tuhan telah mengasihinya dengan kesabaran dirinya dan suaminya yang selalu berdoa dan menunggu.
Menangis cukup lama, meletakkan benda kecil di dalam dadanya merasa terharu akan apa yang ia lihat dan menunggunya.
" Terima kasih Tuhan, terima kasih." Gumamnya dalam hati.
Memasak makanan yang sehat, rasa senang dan bibir yang tak henti-hentinya tersenyum saat ia sudah menyelesaikan pekerjaan dapurnya dan menyajikannya di atas pantry.
__ADS_1
" Pagi sayang?" Sapa Rizal, mulai duduk di kursi dan melihat berbagai menu makanan.
" Pagi juga?" Sapa balik Citra, dengan tersenyum dan ikut bergabung duduk di samping suaminya.
" Kamu masak banyak, ada acara apa?" Tanya Rizal, melihat banyaknya makanan di atas pantry.
" Harus jaga kesehatan, empat sehat lima sempurna." Jawab Citra, membuat Rizal mengerutkan kening.
" Tapi kan gak sebanyak gini juga sayang ... Kamu sanggup habisin ini semua?" Tanya Rizal, menatap istrinya dengan lekat.
" Sanggup." Jawabnya, membuat Rizal memicingkan mata.
" Jangan pakai nasi." Ucap Rizal saat melihat istrinya akan mengambilkan nasi untuknya.
" Aku ingin makan sayur sama ikannya saja, enggak mau nasi." Ujarnya lagi, tidak berselera melihat nasi di hadapannya, hanya sayur dan lauknya saja ia sangat berselera.
Hanya mengangguk dan tersenyum, tidak bisa memaksa takut jika suaminya akan ke kamar mandi.
Memperhatikan istrinya yang makan dengan lahap dan porsi yang sangat banyak, tidak seperti biasanya. Beberapa hari melihat istrinya selalu makan membuatnya menggelengkan kepala dan tersenyum sendiri.
" Enggak takut gemuk." Goda Rizal, membuat Citra berhenti makan dan menatapnya dengan melototkan mata.
" Kakak enggak suka lihat aku makan, gak suka kalau aku gemuk." Ucap Citra, membuat Rizal terkejut.
" Terus kenapa! Kakak ngelarang aku makan, kakak takut uangnya habis." Mulai mendrama dengan mata yang berkaca-kaca.
Ibu yang hamil mulai sensitif dengan ucapan suaminya dan justru membuat suaminya merasa bingung, serba salah dan takut.
" Enggak begitu sayang!" Ucapnya mulai bingung, menggaruk leher yang tidak gatal. Hanya menggoda kecil, Citra sudah sensitif pagi hari.
" Ayo makan lagi." Ajak Rizal.
" Enggak, sudah kenyang." Ketus Citra, meneguk air hingga tandas.
" Bagaimana tidak kenyang, makannya dua porsi." Gunam Rizal dalam hati.
Di kantor dirinya selalu di sibukkan dengan pekerjaan sebagai asisten Revan, pekerjaan begitu banyak dan menguras pikiran walaupun dirinya hanya asisten.
Masuk ke dalam ruang kerja Revan, memberikan berkas-berkas yang harus di tanda tangani bosnya. Hanya berjarak lima langkah dan dirinya mencium bau parfum Revan, membuatnya lebih mendekat hingga Revan terkejut.
" Kau kenapa!" Pekik Revan, berdiri dari duduknya menatap tajam Rizal yang membungkuk dan menyengir kuda.
__ADS_1
" Hehehhe, parfum kamu harum Van." Ucap Rizal, menggaruk kepalanya.
Mengerutkan kening, mencium bau parfumnya sendiri dan seperti biasanya dirinya tidak memakai parfum begitu banyak.
Kembali duduk saat Rizal sudah kembali di tempatnya. Dan kembali memeriksa berkas sambil merilik Rizal yang masih menatapnya.
" Sial kenapa aku bisa begini sih." Gerutu Rizal dalam hati.
" Ini, cepat keluar." Perintah Revan, merasa takut sendiri melihat Rizal.
" merek parfum kamu apa bos." Tanya Rizal.
" Kenapa!"
" Aku mau beli parfumnya, daripada nyium kamu terus." Jawab Rizal ketus, membuat Revan menatap tajam.
" Aku enggak tau, yang beliin Dhira." Jawab Revan.
" Tanyain ke Dhira, apa mereknya biar aku bisa beli sekarang."
" Kau merintah aku!" Sungut Revan.
" Kalau enggak mau ya sudah, aku mogok kerja. " Jawab Rizal mengambil berkas di meja dan pergi meninggalkan Revan yang terkejut mendengarnya.
" Dia ketempelan setan." Gumam Revan melihat pintu yang sudah tertutup dan membuat bulu-bulu di seluruh tubuhnya menegak.
Rizal yang sudah berada di ruanganya, menggerutu sendiri, memaki Revan dengan kata pelit dan bos yang kejam.
" Kenapa aku jadi seperti Citra, hanya masalah parfum bisa marah dengan Revan." Gumamnya. " Kalau aku di pacat di gimana!" Ujarnya lagi, baru menyadari kelakuannya.
Citra yang baru saja dari rumah sakit, memeriksakan kandungannya sendiri tanpa sepengetahuan suaminya untuk memastikan lebih lanjut. dan dirinya merasa senang kala dokter mengucapkan kandungannya sudah berjalan enam minggu dan semuanya sangat sehat.
Mendapatkan foto usg bayinya yang masih sebiji jagung tak henti-hentinya ia menatapnya tak percaya.
Mengusap perutnya yang masih datar " Ayah kamu pasti senang kamu hadir dalam kehidupan kami." Ucapnya.
" Besok ulang tahun ayah kamu, kita kasih kejutan ya, buat ayah." Ujarnya lagi, mengingat dimana ulang tahun suaminya dan akan membuatkan kado terindah untuk dia kenang seumur hidupnya.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃