
Aku merasa sempurna, saat ada malaikat kecil yang akan melengkapi kekurangan kami.
.
.
.
.
" Ha.. mil?" Ucap Revan, menganga mendengar perkataan dokter kandungan saat memeriksakan istrinya di rumah sakit.
Ya, semalam dirinya tidak bisa tidur lantaran perkataan Bik Minah yang mengatakan kemungkinan Dhira hamil. Sempat tidak percaya pada bik Minah karena kemungkinan Dhira hanya sedikit tidak enak badan.
Tapi, perkataan Bik Minah selalu saja membuatnya kepikiran kembali dan tidak bisa membuatnya tidur nyenyak.
Bangun dari tidurnya, karena mendengar suara Dhira yang mual dan kembali lemas. Ia memutuskan untuk membawa Dhira ke rumah sakit dan memeriksakannya.
Bukan tidak berharap untuk dirinya kecewa, jika memang Dhira tidak hamil dirinya akan berlapang dada dan akan bersabar. Tapi, jika Dhira Hamil dirinya akan sangat bahagia karena yang dia tunggu akhirnya datang dan akan menghiasi keluarga kecilnya.
" Iya, pak. Istri bapak sedang mengandung tiga minggu." Ucap dokter kandungan. Dhira yang sedang menatap monitor dan mendengarnya pun juga ikut terkejut.
Pasalnya ia tidak menyangka dan sulit untuk di percaya jika dirinya hamil. Sungguh sangatlah mengejutkan dan membuatnya terharu, karena di dalam perutnya sekarang ada malaikat kecil yang akan menghiasi keluarganya.
" Jangan terlalu lelah, kurangi pekerjaan yang berat, istirahat yang banyak dan jangan lupa minum obatnya." Tutur halus dokter kandungan, memberikan resep pada Dhira yang sudah berada di depan meja kerjanya.
" Terima kasih Dok." Ucap Dhira dan Revan bersamaan, hanya mengangguk serta tersenyum.
Keluar dari ruang pemeriksaan, mencerna perkataan dokter, saling menatap hingga mereka tersenyum. Dan Revan mulai ber yes ria mengepalkan tangannya ke atas mengayunkan beberapa kali, merasa senang bahagia akan apa yang ia dengar dari dalam ruang pemeriksaan. Mulai memeluk istrinya berlgitu erat, tidak mempedulikan orang-orang yang sedang menatapnya. Ada yang merasa iri, geli dan menggelengkan kepala melihat sepasang suami istri ini saling berpelukan.
" Ekhemm!" Teguran dari seorang perawat melihat Revan yang memeluk Dhira.
" Maaf sus, lagi senang?" Ucap Revan, melepaskan pelukannya saat Dhira mencubit lengan Revan.
Menggeser tubuhnya, memberi jalan pada pasien yang akan memeriksa kandungan.
" Kita tebus obatnya dulu ya?" Ujar Revan, hanya mengangguk menundukkan kepala saat semua orang masih menatapnya.
Duduk di ujung tempat antrian menebus obat, saling menggenggam tangan dan mulai mengusap perut Dhira yang masih terlihat rata.
" Sehat-sehat ya bocah kecil?" Ucap Revan, membuat Dhira tersenyum dan geli akan usapan tangan Revan. "Jangan buat mami kamu sakit, kasihan mami kamu?" Ujarnya lagi, hingga Dhira mengerutkan kening.
" Mami!!" Serunya, dan di anggukkan senang oleh Revan.
" Jangan Mami! Bunda saja." Tolak Dhira, yang entah kenapa tidak suka di panggil Mami.
__ADS_1
" Sebutan Mami kan keren Beb!" Kata Revan, sambik tersenyum jail memainkan alisnya naik turun.
" Lagi trending sekarang, Papi, Mami?" Ujarnya lagi.
" Ogah! Papi, Mami.!" Gerutu Dhira, Merasa menggelitikkan di dalam otaknya.
" Jangan tiru Bapak kamu ya nak? Panggilnya Bunda saja?" Ucap Dhira, mengusap lembut perutnya.
" Bapak!" Pekik Revan, mengerutkan kening protes akan panggilan Dhira yang menyuruh calon buah hatinya memanggilnya bapak.
" Aku masih muda lho Beb! enggak mau aku di panggil bapak! " Rajuk Revan, tidak terima akan panggilan Dhira.
" Tapi di kantor mau tu di panggil bapak!" Jawab Dhira.
" Ya itu beda ceritanya?"
" Nyonya Anandhira!" panggil apoteker, membuat sepasang suami istri menatap ke arah arah ruang obat.
" Pokoknya aku enggak mau ya Beb, di panggil bapak!" Masih mengomel walaupun sudah berdiri dari duduk dan berjalan menuju resepsionis obat. Sedangkan Dhira hanya bisa menahan tawa dan senyum mendengar gerutunya Revan.
" Bapak! masih muda gini di bilang bapak! Apa aku suruh saja semua karyawan kantor untuk memanggil aku mas?" Gumamnya, dan mendapatkan peringatan dari Dhira.
" Jangan macam-macam ya! Kalau enggak mau tidur di luar rumah!!" Ancam Dhira, membuat Revan membulatkan mata menatap punggung istrinya yang sudah jalan terlebih dulu.
***
" Pagi?" Sapa hangat di pagi hari, tempat penginapan yang begitu menawan pemandangan di luar jendela.
" Pagi kak?" Jawabnya dengan senyum, menatap lelaki yang semalam tidur memeluknya.
" Pemandangannya bagus ya." Ucap Rizal, mulai duduk di samping Citra menghadap panorama pedesaan.
" Iya?" Jawabnya tersenyum menatap suaminya yang sudah segar sehabis mandi.
" Ini tehnya?" Ujarnya lagi, memberikan secangkir teh hangat buatannya sendiri.
" Makasih." Jawab Rizal, dan di anggukkan Citra.
Menyesap teh hangat, di temani istri sambil menatap pemandangan di pagi hari.
" Mau jalan-jalan?" Kata Rizal.
" Nanti saja, Kakak kan masih capek." Jawab Citra, merasa kasihan karena semalam mereka menghabiskan waktu berdua di pantai hingga bulan dan bintang bercahaya bersamaan. Menjadi saksi dalam cinta mereka berdua. Awal yang baru saja mereka memulainya.
Memilih mencari sebuah penginapan, tepatnya di villa yang begitu menawan dengan dua lantai begitu megah bangunannya.
__ADS_1
Hanya berdua, dan sangat membuat suasana begitu menenangkan.
" Aku ingin jika kita sudah menua seperti ini. hidup di pedesaan, melihat embunnya di pagi hari, membuat secangkir teh dan menemani suami tercinta setiap saat." Ucap Citra, begitu kagum dan berangan bisa hidup di desa jika sudah tua nanti.
" Aku akan memenuhi ke inginan istriku?" Jawab Rizal, membuat Citra menatapnya tak percaya.
Tersenyum merekah. " Aku juga ingin seperti ini, meskipun itu tidaklah harus menunggu kita tua." Ujarnya lagi, merangkul bahu Citra menatap memandangan sawah dan sedikit terlihat birunya laut yang indah.
Ikut tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, mengusap dada yang mulai semalam menjadi miliknya. Menikmati aroma maskulin dari tubuh Rizal, sangat menenangkan dan memabukkan jiwa.
Tangan yang masih mengusap lembut dada suaminya mulai berhenti saat suaminya menyentuh tangannya.
Mendongakkan kepala, menatap lekat mata hitam memancarkan aura hangat kepadanya.
Dalam sedejab ia meresakan kenyalnya bibir yang membasahi bibirnya, perlahan ia mulai membalasnya, saling menghisap, saling mem*gut dan saling membelit serta tangan yang saling menggenggam erat. Mengalirkan rasa cinta dan ke inginan yang paling dalam.
Ingin memilikinya seutuhnya!
" Apa aku boleh!" Tanya ragu Rizal, mengusap lembut bibir tipis istrinya. Hanya mengangguk dan tersenyum malu membalasnya.
Perlahan mengangkat tubuh Citra menggelayut manja ke dua tangan Citra di lehernya, menutup tirai yang terbuka dan membawa istrinya menuju ranjang.
Menidurkannya dengan perlahan, menumpu pada tubuh Citra tidak sepenuhnya menindihinya.
" Kamu siap?" Tanya Rizal, mengangguk lagi daj tersipu malu.
Memberikan kecupan lama di kening Citra, membuat Citra menutup mata dengan jantung yang mulai berdebar. Beralih menciumi ke dua mata Citra, mencium pipi istrinya, menggigit kecil hingga membuat Citra mendesah pelan.
Beralih mencium bibir Citra, membawanya ke alam surga, merasakan dunia tanpa batas, untuk saling melepaskan hasrat.
Ceruk leher yang begitu mulus, meninggalkan jejak cinta yang membuat semua orang akan tau jika dia sudah menjadi miliknya. Desahan yang begitu merdu tanpa di buat-buat membuat gairahnya begitu dalam dan mereka pun tak bisa untuk saling menunggu.
Membekap bibir istrinya dengan bibirnya kala Citra merasakan sakit di pangkal pinggangnya. Berhenti sekejab untuk Citra tidak merasakan tegang dan sakit.
" Maaf?" Lirih Rizal, mengusap lembut air mata yang membasahi ujung pipi Citra.
Untuk pertama kalinya Citra menciumnya, membuat pagutan kecil hingga dirinya mulai beraksi untuk mencari surga milik berdua di pagi hari yang sangat menghangatkan ranjang. Tanpa henti dan tanpa gangguan, hanya mereka yang akan menjadi saksi indahnya irama desahan yang begitu erotis dan panjang.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1