Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
saling melempar


__ADS_3

Jika restu sudah di depan mata, tak akan ada kata lagi untuk menunda.


.


.


.


.


" Kak.?"


" Hmm, iya.?" Jawab Revan, mengendarai laju mobilnya dengan kecepatan sedang di saat mereka sudah memasuki perumahan elit.


" Rumah kakak di daerah sini.?" Tanya Dhira, menatap jalan perumahan elit dengan hati yang berdebar.


" Iya, rumah kedua orang tuaku di sini." Jawab Revan. " Kenapa.?" Tanyanya.


" Enggak." Lirih Dhira dengan sedikit senyum, dan kembali menatap jalanan perumahan elit di malam hari dengan sinar lampu jalan, yang membuatnya teringat penuh dengan kenangan.


Rumah berjulang tinggi dua lantai yang di penuhi dengan kaca, memperlihatkan gorden putih serta lampu tamaram dan beberapa pohon di dalam sana terlihat serta pagar hitam yang tertutup rapat. Tanpa sengaja ia melihat itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Rumah penuh kenangan akan keluarganya di dalam sana, rumah yang mungkin sudah di tempati oleh orang lain dan tak akan pernah dirinya bisa memasuki rumah itu.


Hampir lima tahun ia tak pernah melewati jalan perumahan elit, apa lagi menatap rumah penuh kenangan itu. Dan entah takdir apa kini ia melewati jalanan rumahnya, yang ternyata rumah Kekasihnya juga berada di satu perumahan dengannya.


" Ayah.?" Gumam Dhira, menatap intens rumahnya hingga tak terlihat.


Gumaman Dhira masih terdengar di telinga Revan, hingga ia menatap kekasihnya yang menatap luar jendela dengan mata yang terpejam.


Meraih tangan Dhira yang ada di atas pangkuannya dengan dia yang mengepalkan tangannya. Menyentuh lembut, hingga membuat Dhira dengan cepat menghapus air matanya dan menatap kekasihnya.


" Ada apa?" Tanya Revan lembut.


" Tidak ada apa-apa." jawabnya.


" Kok nangis.!" Tanyanya lagi.


" Terharu, mau bertemu dengan orang tua kakak." Jawabnya dengan tersenyum, membuat Revan juga ikut tersenym dan tak ingin memaksa kekasihnya untuk berbicara jujur dengannya.

__ADS_1


" Habis ini kita akan sampai." Ucap Revan, dan mengusap pipi kekasihnya, hanya mengangguk dan tersenyum untuk menjawabnya.


Tak jauh kala megahnya rumah Revan yang juga berlantai dua, dengan pagar coklat yang berjulang tinggi. Memberikan klakson untuk penjaga agar segera membukakan pagarnya.


Menatap Rumah orang tua Revan dengan dirinya yang masih di dalam mobil dan sedikit mengerutkan kening kala ia melihat motor sport terparkir di halaman rumah Revan.


Berhenti tepat di belakang motor sport yang Dhira lihat dan tak asing baginya.


" Ayo." Ajak Revan untuk keluar dari mobil.


" Iya." Jawab, dan kelaur dari mobil dengan masih memandangi motor sport serta dua helm yang sama persis seperti punya sahabatnya.


Menggandeng tangan Dhira dengan rasa senang dan bahagia saat akan mempertemukan kekasihnya dengan orang tuanya. Berjalan beriringan dengan Dhira yang masih penasaran akan motor sport yang terparkir di halaman rumah Revan.


Memasuki rumah Revan dengan dia yang melihat empat orang membelakanginya saat akan berjalan menuju tempat duduk.


" Ma, Pa.?" Sapa Revan yang behenti di ambang pintu.


Empat orang yang mendengar suara pria, itu seketika berbalik arah dan menatap sepasang kekasih dengan mata yang membulat, terkejut melanda mereka semua yang saling melihat.


" Dhira.!" pekik Dika dan Citra bersamaan.


" Nak Dhira.!" Ucap Nyonya Vani yang terkejut melihat Dhira bersama putranya.


" Citra.!" Ucap Dhira bersamaan dengan Revan. Sedangkan Tuan Gio menatap Istrinya, putranya dan tiga remaja dengan bingung saat mereka saling menegur nama.


" Kalian saling kenal." Tanya Tuan Gio, yang penasaran akan reaksi mereka yang begitu terkejut. Tersadar, menatap ke arah Tuan Gio dan mengangguk bersama seperti orang terhipnotis.


" Kalian di sini.!" Tanya Dhira, pada Citra dan Dika


" Aku ikut Dika." Jawab Citra.


" Aku ke rumah Nyonya Vani, kamu yang ngasih alamatnya." Imbuh Dika. " Dan kamu ngapain ke sini" Tanya Dika.


" Ke rumah kak Revan." Jawab Dhira, menunjuk Revan yang ada di sampingnya, dan mereka menatap Revan untuk meminta jawaban.


" Rumah Orang tua ku." Jawab Revan, yang membuat tiga sahabat terkejut.


" Van.?" Sapa Nyonya Vani, melihat putranya menggandeng tangan Dhira.

__ADS_1


" Calon menantu Mama." Ucap Revan yang mengerti akan apa yang Mamanya ingin tanyakan.


Bukan Dhira yang terkejut, melainkan empat orang yang ada di hadapan Dhira dan Revan yang terkejut dengan ucapan Revan barusan.


" Apa.!"


" Calon.!"


" Menantu.!" Ucap bersamaan, Nyonya Vani, Dika dan Citra. Menjawabnya hanya mengangguk tanpa expresi.


" Hah!!" Pekik Citra menatap Dika, yang terkejut bukan main. Sedangkan Dika menepuk jidatnya seakan pusing dengan dunia yang sempit ini.


" Pa.! Menantu kita!" Seru Nyonya Vani dengan tersenyum menatap suaminya. Dan reaksi Tuan Gio sama seperti dengan Dika, yang tak percaya, tapi juga mengangguk.


" Ah!! Sayang." Sambut Nyonya Vani berjalan ke arah Dhira sambil merentangkan ke dua tangannya. Memeluk calon menantu dengan rasa senang dan bahagia saat apa yang dia inginkan ternyata terwujud di depan matanya langsung.


Niat Nyonya Vani yang ingin mengenalkan putranya dengan gadis yang sudah menolong dirinya dan suaminya serta ingin menjodohkan putranya juga agar mau menikah dengan gadis penolong, karena Nyonya Vani melihat dia sangat baik dan sopan serta apa adanya.


Justru niatnya itu di tolak oleh putranya dengan alasan jika dirinya sudah mempunyai pacar dan sudah melamarnya, dengan terpaksa Nyonya Vani pun mengurungkan niatnya dan memilih keinginan putranya. Agar putranya bahagia.


Tapi justru dunia itu sangatlah sempit, suka membolak balikkan keadaan dan suka membuat orang terkejut. Seperti saat ini di kediaman Tuan Gio. Melihat gadis yang menolongnya bersama dengan putranya yang menggandeng tangan dia, dan putranya mengungkapkan jika yang ada di sampingnya adalah calon menantunya. Membuat Nyonya Vani dan Tuan Gio terkejut, hingga sepasang suami istri itu merasa bahagia dan senangnya bukan main saat mendapatkan menantu yang mereka inginkan.


Mendapatkan pelukan hangat dari seorang wanita tua membuat hati Dhira terenyuh, berdetak kencang seakan meluapkan rasa rindu akan pelukan hangat dari ibunya.


Sungguh apa ini yang dinamakan pelukan kasih sayang dari seorang ibu, walaupun itu bukanlah ibu kandungnya. Membalas pelukan itu dengan tersenyum dan bola mata yang menatap ke atas mencoba mengusir air yang akan menggenang di matanya, karena ia tak ingin momen seperti bahagia ini menjadi sedih hanya karena dirinya.


" Dhira, Mama senang kamu datang ke rumah ini!" Ucapnya dengan membelai rambut Dhira,


Hah! ucapan yang di lontarkan Nyonya Vani menyebutkan kata 'Mama' sungguh itu sangat-sangat menyentuh hatinya yang paling dalam, dan kata 'Rumah' itu berarti dia menyambutnya dengan tangan terbuka, menerimanya dengan suka cita tak ada pemaksaan dari kata-katanya.


Melepaskan pelukannya dan menatap calon Menantunya dengan tersenyum dan mengusap lembut pipinya.


" Selamat datang putri, Mama." Ucapnya dengan tulus, dan sukses membuat air mata Dhira jatuh membasahi tangan Nyonya Vani.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃


ea, ea, ea ... lunas ya.😄😄


__ADS_2