
Senyuman itu membuatku terpana hingga aku masih saja mengingatnya. Apa kita bisa bertemu kembali?
.
.
.
.
Menggeliatkan tubuh merasakan kenyamanan saat ia terbangun dari tidurnya. Tidak ia rasakan tidur senyaman ini di kasurnya yang sangat keras, tapi ia terbangun saat melihat dinding kamar yang ternyata bukan rumahnya.
Duduk di ranjang dengan ia terkejut saat mendapati dirinya tidur di rumah orang, dan semalam dirinya ingat jika ia ia tidur di bawah bukan di ranjang empuk ini.
Menatap ke samping dan tidak mendapati siapapun di sisinya dan tidak di sengaja ia melihat tubuh pria itu tertidur di bawah. Menatap pria itu yang sedang tertidur pulas dengan wajah yang damai membuatnya sedikit tersenyum.
Apa dia yang memindahkan ku tidur di ranjangnya" gumamnya dengan tersenyum "Dia manis sekali.?" ujarnya lagi, dan menggelengkan kepala untuk menepis pikirannya mengagumi pria sombong yang sedang tertidur ini.
Turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar Rizal, mencari kamar mandi dan menumpang mandi di apartemen Rizal agar nanti di rumah ia hanya perlu mengganti bajunya saja dan langsung berangkat kerja.
Selesai mandi, niat ingin berpamitan pulang tapi ia urungkan sebentar saat melihat dapur yang tertata rapi dan bersih.
" Ternyata pria itu orangnya bersih sekali." ucap Citra lirih dan berjalan ke arah kulkas, membukanya dan sedikit terkejut saat melihat bahan makanan yang begitu banyaknya.
" Ini masih segar." kata Citra dengan melihat sayur dan buah yang terlihat masih segar.
Mengambil beberapa sayur dan udang untuk ia masak, Mencari tempat penyimpanan beras mencucinya dan memasaknya.
Entah kenapa dia seperti semangat saat melihat dapur yang luas dan bersih hingga dia memilih untuk memasak, Citra senang sekali memasak dan pintar di dalam dapur.
tidak butuh lama masakan Citra telah selesai, masakan yang sederhana, capcay goreng bakso, dengan udang tepung kriuk dan di tambah dengan sambal kecap, masakan yang sederhana di pagi hari.
" Kau sedang apa.?" suara serak khas bangun tidur, membuat Citra tersentak kecil dan berbalik menghadap ke belakang.
__ADS_1
" Mau numpang makan.!" jawab Citra.
" Ini kan sudah pagi, kenapa masih di sini kau kan bisa pulang dan makan di rumah mu." kata Rizal yang mulai ketus dengan Citra membuat Citra mengerucutkan bibirnya.
" Uangku habis gara-gara kau palak sepuluh juta." ucap Citra. " Lagian apa salahnya sih numpang makan sekali saja, aku kan sudah masak." gerutunya lagi.
" Enggak ***-," belum sempat menjawab suara bel apartemennya berbunyi, membuat Rizal menghentikan ucapannya dan berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang bertamu sepagi ini.
Membuka pintu dan terkejut saat melhat Mamanya datang di pagi hari.
" Mama." ucap Rizal.
" Kamu ini kenapa lama sekali sih." gerutu Mama Rizal dan masuk ke dalam apartemen anaknya, Rizal yang melihat mamanya sudah masuk ke dalam apartemennya begitu panik dan mulai menghadangnya saat akan berjalan ke arah dapur.
" Kamu ini kenapa sih Zal! Mama ini mau nyiapin makanan buat kamu." kata Mama Rizal dengan menunjukkan bekal makanan yang di bawa olehnya.
" Mama tunggu di sini, biar aku saja yang ambilkan pi-,"
" Kak! aku makan dulu ya." ucap Citra, membuat Rizal terdiam dan Mamanya yang mengerutkan kening saat mendengar suara perempuan di apartemen anaknya.
Berjalan ke arah dapur di ikuti Rizal dari belakang, mendapati seorang wanita yang sedang menyiapkan nasi dan akan membawakannya ke meja makan.
" Kamu lama seka,-" suara Citra menggantung saat melihat wanita tua yang sedang menatapnya dan melihat Rizal yang ada di belakang wanita tua itu.
Menggigit bibir bawahnya dan sedikit menundukkan kepala saat wanita tua itu masih menatapnya.
Wanita tua itu tersenyum, berjalan ke arah Citra dan memeluknya, membuat Citra sedikit terkejut dengan mata yang menatap Rizal.
" Kenapa kamu tidak memberitahukan Mama kalau kamu sudah mempunyai pacar, tau gitu Mama tidak akan menjodoh-jodohkan kamu pada teman arisan Mama." ucap Mama Rizal saat sudah melepaskan pelukannya pada Citra.
Citra yang mendengar pun terkejut dan Menatap ke mama Rizal yang ada di sampingnya dan akan memptotes ucapan Mama Rizal tapi sudah di tahan oleh Rizal dengan mendekatkan tubuhnya pada Citra dan merengkuh pinggang Citra.
" Dia ini pemalu Ma dan belum siap untuk bertemu Mama." ucap Rizal dan itu sukses membuat Citra semakin terkejut dan membulatkan mata melihat Rizal.
__ADS_1
" Apa benar itu sayang." tanya Mama Rizal dan Citra beralih menatap wanita tua itu, bingung harus berbicara apa hingga Citra hanya bisa tersenyum.
Menarik tangan calon menantunya untuk duduk di meja makan di ikuti oleh Rizal dari belakang dengan rasa takut saat Citra berkata yang sejujurnya.
" Kamu jangan takut sayang, Mama ini senang sekali jika Rizal sudah mempunyai pacar. Apalagi pacarnya seperti kamu." ucap Mama Rizal, dengan memegang dua tangan Citra " Selama ini Mama takut kalau dia itu berbelok arah, karena Rizal belum pernah sama sekali berpacaran atau dekat dengan wanita." ujarnya lagi.
" Mama pikir Rizal itu suka sama sejenis gitu." protes Rizal saat mendengar keluhan Mamanya pada Citra, di anggukkan oleh Mamanya dan membuat Citra menahan tawa karena Mama Rizal mengira jika Anaknya itu suka sesama jenis.
" Astaga Mama.!!" seru Rizal dengan menahan kesal " Aku enggak berbelok ma, aku masih lurus." ujarnya lagi.
" Iya mama tau dan ini sekarang buktinya." jawab Mama Rizal dengan tersenyum dan menatap Citra.
" Kamu masak ini semuanya." tanya Mama Rizal.
" Iya tante?" jawabnya dengan sedikit gugup.
" Wahh calon mantu mama bisa masak.!" serunya dan mencoba mencicipi masakan Cita.
" Hemm! enggak rugi deh anak laki mama ini milih wanita." ucapnya dengan bangga. " sudah cantik, pintar masak pula." pujinya, yang membuat Citra tersipu malu akan pujian Mama Rizal dan Rizal pun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku mamanya.
" Sana mandi Zal, tidak tau malu pacar ada di rumah malah kamu belum mandi." gerutu Mamanya dan mengusirnya untuk mandi, meninggalkan dua wanita yang sedang berbincang dan berjalan ke arah kamar untuk mandi di sana dengan cepat agar Citra tidak mengatakan sesuatu pada Mamanya jika dia bukan pacar Rizal.
Sungguh ini situasi yang mendesak dan harus berkata bohong agar Mamanya stop untuk tidak menjodohkan dirinya dengan teman anak arisannya. Rizal sudah bosan setiap Mamanya datang ke rumah dirinya selalu di paksa dan di jodohkan oleh teman anak arisannya, seperti dirinya tidak laku saja.
Umur yang hampir tiga puluh tahun dirinya masih betah menjomblo sedangkan teman anak arisan mamanya sudah mempunyai cucu semua, hingga itulah mama Rizal gencar untuk selalu mencarikan pasangan pada Rizal dan memaksanya untuk cepat menikah agar ia bisa seperti teman arisannya, memamerkan menantu dan cucunya.
Rizal anak tunggal dan hidup mandiri walaupun keluarganya orang yang cukup mampu dengan ayahnya yang bekerja sebagai politik dan mamanya sebagai pebisnis butik.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃
Part Rizal ama Citra dulu yuk.