Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
cemburu


__ADS_3

Sakit tapi tak berdarah, seperti sakitnya aku saat melihat kamu bersama orang lain.


.


.


.


.


Dhira yang baru sampai di depan rumah dengan dia yang di antar oleh Kenzi segera turun dari motor dan berhadapan langsung dengan Kenzi yang juga ikut turun dari motornya.


Dhira yang biasanya memilih di antar Dika pulang, kini harus mau di antar oleh Kenzi. Dika harus membawa seorang begal yang masih pingsan karena pukulan helm dari Dhira ke kantor polisi agar di tindak lebih lanjut.


Pukulan Dhira sungguh kuat sekali hingga bisa membuat seorang begal tak sadarkan diri, membuat teman club Dhira takjub dan menggelengkan kepala saat melihat pegal itu pingsan karena pukulan Dhira.


" Ada yang luka.?" tanya Kenzi saat melihat Dhira seperti menahan sakit.


" Enggak." jawabnya dengan tersenyum. " Makasih ya sudah anterin pulang." ujar Dhira.


" Iya sama-sama." jawabnya dengan tersenyum. " Seharusnya kamu tunggu kita, jangan bertindak sendiri." imbuh Kenzi.


" Kalau nunggu kalian datang bisa-bisa pasangan suami istri itu di rampok dan di bunuh.!" seru Dhira, yang memang ada benarnya.


Jika di rampok saja tidak akan masalah tapi jika di rampok dan di bunuh atau di perkosa itu sungguh penjahat yang biadab bukan. Apa lagi Dhira sungguh tidak tega melihat itu, benari mempertaruhkan nyawanya sendiri demi orang yang tidak ia kenal.


Menatap Dhira dengan tersenyum dan berani menyentuh puncak kepala Dhira membuat Dhira sedikit terkejut dan langsung memundurkan tubuhnya hingga tangan Kenzi yang ada di kepala Dhira menggantung.


" Maaf reflek Dhir." ucap Kenzi, yang melihat Dhira langsung menjaga jarak darinya.


" Iya tidak papa." jawab Dhira dengan tersenyum paksa.


" Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu, selamat malam." pamit Kenzi.


" Selamat malam juga, hati-hati." jawab Dhira, tersenyun dan mengangguk sebagai jawaban saat Dhira sedikit ada perhatian dengannya.


Melambaikan tangan pada Dhira sebelum ia melajukan motornya dan di balas oleh Dhira dengan tersenyum, menatap kepergian motor Kenzi hingga ia menghembuskan nafas berat karena sedikit tidak nyaman saat Kenzi menyentuh kepalanya.


Membuka pintu pagar dan sedikit terkejut saat melihat Kekasihnya yang ada di balik pintu pagar rumahnya.


" Kak Revan.!" pekik Dhira dengan membulatkan mata saat kekasihnya ada di hadapannya.

__ADS_1


" Motor kamu kemana, dan kenapa di antar sama dia bukan sama Dika." cecar Revan yang menatap Dhira dengan rasa cemburu saat melihat kekasihnya dengan pria lain apa lagi saat ia melihat kekasihnya di sentuh oleh pria itu.


Tersenyum samar saat melihat Revan yang terbakar cemburu. " Motorku di pakai Dika dan dia sedang ada urusan." jawab Dhira dan berbalik menutup pintu pagar, agar ia bisa tersenyum lebar. " Kenapa kakak ada di sini." tanyanya lagi, mulai berjalan masuk ke dalam rumah dan di ikuti Revan dari belakang.


" Memangnya kenapa, enggak boleh!" kata Revan dengan sedikit jeles, membuat Dhira lagi-lagi menahan tawa karena suara Revan yang tidak bersahabat dan ia naik ke lantai atas untuk menuju ruang keluarga di sana, duduk di sofa dengan dia yang menyandarkan tubuhnya yang merasa sakit.


" Dari tadi kak.?" tanya Dhira yang melihat Revan duduk di sofa tunggal.


" Hmm.!" jawabnya acuh. " Kenapa nomer kamu tidak aktif." tanya Revan.


" Kenapa?" tanya Dhira dengan memicingkan mata " Orang gak ada yang telpon dan chat, ya sudah aku matiin saja." ujarnya lagi dengan sedikit menyindir kekasihnya.


" Alex mencari kamu dari tadi." kata Revan, Dhira pun mulai duduk tegak, mengambil ponsel yang ada di tasnya mengaktifkan kembali ponselnya dan mendapati notif panggilan nomer Revan serta Alex yang menelponnya beberapa kali.


" Jika kak Alex menelpon begini, dia tau jika aku terluka." gumak Dhira dalam hati menatap panggilan tak terjawab dari kakaknya.


Meletakkan ponselnya di meja dan membuka jaketnya, Revan memperhatikan Dhira yang membuka hoody dengan wajah yang seperti meringis kesakitan membuatnya mengerutkan keningnya.


" Kamu kenapa.?" tanya Revan yang mulai berbicara lembut pada Dhira.


" Tidak papa?" kata Dhira dengan tersenyum. " Sudah marahnya kak." tanyanya, membuat Revan mengerucutkan bibir dan mulai tersenyum saat Dhira tersenyum ke arahnya.


" Cemburu ya!!" goda Dhira,


" Iya aku cemburu dan marah." kata Revan.


" Marah kenapa." tanya Dhira.


" Marah karena kamu enggak mau di ajak jalan, cemburu karena kamu dekat dengan cowok ingusan apa lagi dia mengusap kepala kamu." terang Revan dengan jeles, mendengar kata cowok ingusan membuat Dhira tertawa dan menutup bibirnya


Duduk bersila dengan menghadap Revan, menyangga kepalanya dengan ke dua tangan menatap gemas saat kekasihnya cemburu dan merasa senang karena ini pertama kalinya di cemburui dengan kekasihnya sendiri.


" Ulu-ulu!! cemburunya bikin hati aku meleleh!" goda Dhira yang mendapat picingan mata dari kekasihnya.


" Ganteng banget sih.. kalau cemburu.!!" godanya lagi dengan mencubit kedua pipi Revan.


" Beb!!" seru Revan dan mulai menggeser tubuh Dhira untuk duduk di pangkuannya.


" Boleh enggak aku melarang kamu untuk tidak balapan motor lagi, untuk tidak dekat dengan teman cowok club kamu! aku cemburu." ucapnya dengan setengah meminta pada kekasihnya yang masih saja suka balapan motor.


Cemburu itu pasti, apa lagi Revan melihat dengan matanya sendiri saat teman cowok club balap Dhira menyentuh kepala kekasihnya, seperti cowok itu menyukai Dhira. Tapi Revan merasa senang saat Dhira dengan sigap mundur dan menjaga jarak pada cowok ingusan yang mencoba mendekatinya.

__ADS_1


Wanita yang bisa menjaga perasaan dan kepercayaan kekasihnya saat dirinya tidak bersamanya.


" Beb.?" sapa Dhira saat Revan memeluk pinggangnya dengan erat.


" Aku cemburu dan aku takut kamu kenapa-kenapa Beb." ucap Revan dengan wajah yang sendu, Menatap mata kekasihnya yang sendu membuat Dhira tersenyum dan menyentuh pipi Revan.


" Perlahan-lahan akan aku usahakan untuk berhenti balap ya, tapi berikan aku waktu." kata Dhira untuk meminta pengertian dari kekasihnya, tersenyum mendengar perkatan Dhira untuk mencoba berhenti balap mengangguk dan memeluk tubuh Dhira yang ada di pangkuannya dengan erat yang merasa senang dan gemas hingga


" Aww.. sakit." lirih Dhira dan terdengar di telinga Revan, melepas pulukannya dan menatap Dhira yang meringis kesakitan.


" Beb, kenapa?" tanya Revan yang mulai merasa khawatir melihat kekasihnya.


" Punggungku sakit." ucap Dhira lirih dan mulai duduk di sofa.


" Sakit!! apa karena pelukanku beb?" tanya Revan dan di gelengkan Dhira dengan cepat serta tersenyum


Melepaskan baju oblongnya dengan Dhira yang memunggungi Revan, tersentak kecil saat Dhira melepaskan bajunya dan membulatkan mata saat melihat punggung Dhira yang memar merah panjang seperti terkena pukulan tongkat.


" Kamu terluka! kenapa bisa, dan siapa yang melakukan kamu seperti ini Beb" geram Revan yang masih melihat bekas pukulan di punggung Dhira.


" Sebentar akan aku ambilkan salep." ujar Revan dan mulai turun dari lantai atas untuk mengambil kotak obat di kamar Dhira, hanya tersenyum dan mengangguk saat melihat kekasihnya begitu khawatir dengannya.


Tidak butuh waktu lama, Revan naik ke lantai atas masih melihat Dhira yang memunggunginya.


Mencari salep untuk mengobati tubuh kekasihnya yang memar, masih terbungkus dengan kain tantop yang melekat di tubuh Dhira membuat Revan tidak bisa mengobatinya.


" Tunggu sebentar." ucap Dhira dan berdiri dari duduknya berjalan ke arah kamar Revan melepaskan semua pakaian atasnya dan membungkus bagian atasnya dengan selimut.


Dhira yang keluar dari kamar Revan, melihat Revan sedang memegang ponselnya dan ia pun langsung duduk di samping kekasihnya dengan kembali memunggunginya.


" Beb.?" sapa Dhira membuat Revan menatapnya dan menelan selivanya saat melihat punggung mulus Dhira yang tidak terbungkus kain.


" Beb!! Tolong kasih salep.!" kata Dhira dengan menyadarkan Ravan.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2