
Secangkir cappucino kau berikan untuk ku di pagi hari, yang membuat suasana hati ku menjadi tersenyum saat kau memberikannya dengan topping hati.
.
.
.
.
Dua hari tidak bekerja rasanya sudah cukup bagi Dhira untuk beristirahat dan memulai kembali beraktifitas.
Dua hari tidak di cafe dan bersama Alex rasanya begitu menyenangkan, sudah lama dia tidak menemani kakaknya seperti ini.
Setelah pulang sekolah dirinya selalu bersama dengan Alex saat ayahnya masih ada dan dia tidak bekerja hanya menemani kakaknya yang sedang bermain, belajar serta mengantarnya ke tempat les. Kegiatan dia hanyalah seperti itu ketika tidak berkumpul dengan sahabatnya.
Pagi ini Dhira sudah rapi dan akan berangkat ke cafe, sempat Alex merengek karena Dhira sudah mulai bekerja dan meninggalkannya lagi bersama bik Minah.
Memberi penuturan yang sabar dan pengertian saat Alex menitikan air mata karena di tinggal Dhira yang akan berangkat ke cafe.
Duduk di sofa tempat biasa Alex menunggunya dengan menonton film kartun di tv.
" Nanti kalau Dhira tidak bekerja, kak Alex tidak bisa beli jajan, tidak bisa beli mainan dan tidak bisa makan lagi. kak Alex mau itu.?" kata Dhira, dan di gelengkan cepat oleh Alex dengan tangan yang saling meremas.
" Kan dua hari ini Dhira sudah menemani kak Alex, jadi jangan sedih ya." ucapnya lagi dengan tersenyum serta mengusap lengan kakaknya. " Mau ke supermarket, beli jajan." ujarnya lagi.
" Boleh coklat?" ucap Alex pada Dhira.
" Boleh? tapi jangan banyak-banyak makannya." jawab Dhira dan di anggukkan semangat oleh Alex serta tersenyum.
Mengawali pagi hari seperti biasanya sat dia akan berangkat bekerja, mengantarkan Alex ke supermarket dan mengajaknya mengelilingi komplek memakai motor kesukaan kakaknya.
" Pagi mas Alex.?" sapa ramah kasir supermarket, hanya mengangguk dan tersenyum untuk membalas sapaan di pagi hari.
" Dua hari ini kok enggak keliatan mba." tanya kasir Pria pada Dhira.
" Kenapa, kangen.?" jawab Dhira.
" Hahahah, iya mba. enggak boleh ya.?" katanya.
" Berapa.?" ucap Dhira dan tidak menghiraukan perkataan kasir yang sedang menggodanya.
" Udah enggak usah bayar mba hari ini aku yang traktir." jawab kasir yang menyukai Dhira, tidak menghiraukan perkataan kasir yang melarangnya untuk membayar, Dhira pun memberikan uang seratus ribu dan meninggalkannya tanpa meminta kembalian.
__ADS_1
" Hais susah sekali mendapatkan dia.?" gumamnya dengan lirih dan menatap Dhira dari balik kaca.
****
Terasa seperti rumah ke dua di cafe miliknya dengan karyawan yang sudah di anggapnya sebagai keluarganya juga.
Karyawan Dhira begitu senang saat Dhira sudah sembuh dan kembali menemani mereka bekerja tidak ada rasa canggung sama sekali antara bos dan karyawan.
" Kamu beneran sudah sembuh Dhir." tanya Citra yang sedikit khawatir.
" Iya, bawel.?" jawab Dhira dengan tersenyum.
" Jangan berat-berat biar aku saja yang melakukannya.?" kata Citra.
" Kau ini menganggap ku seperti punya penyakit kronis saja.!" gerutu Dhira. " Aku ini enggak punya penyakit dalam hanya luka kecil saja." ujarnya lagi.
dengan menggelengkan kepala melihat kekhawatiran temannya ini pada dirinya dan Dhira sangat bersyukur bisa berteman dengan Citra di saat dia senang maupun susah.
tidak seperti sahabatnya yang meninggalkan dia karena keluarganya sudah bangkrut serta hidup susah. sungguh sahabat yang munafik hanya karna dia sudah tidak punya apa-apa dan miskin mereka begitu saja menjauh dan tak ingin bersahabat lagi dengan Dhira.
Di saat Citra akan menjawab perkataan Dhira binyi lonceng pintu sudah berbunyi dan memperlihatkan pengunjung pria yang datang di pagi hari
Mengerutkan kening saat pria itu datang di pagi hari, dan mulai tersenyum saat ingin untuk menggodanya.
Menggelengkan kepala saat gadis bocil ini menggodanya, dan entah kenapa dua hari tidak bertemu dengan bocil membuatnya rindu akan kegombalannya atau rindu akan wajah dia.
Citra yang mendengar temannya sedang menggoda pria itu hanya bisa tersenyum dan pergi meninggalkan mereka.
"Kamu sudah sembuh." tanya Revan dan duduk di depan bar tander dengan memperhatikan Dhira yang sedang membuat kopi.
" Sudah?" jawabnya. " Mau pesan apa.?" tanya Dhira.
" Apa saja." jawab Revan dengan tersenyum.
Membuat dua secangkir kramik putih cappucino dengan sangat lihai seperti dia sudah terbiasa membuatnya.
menciptakan seni latte ketika menuangkan susunya dengan tepat di dalam espresso membentuk pola gambar yang akan membuat siapa saja kagum dan terpesona melihatnya, serta ingin mengabadikannya dengan memfoto karya barista.
Memberikan satu cangkir kopi yang sudah jadi pada pria yang diam-diam memperhatikannya sedari tadi.
" Silahkan.?" ucap Dhira dengan tersenyum.
" Terima kasih." jawab Revan dan di anggukkan oleh Dhira.
__ADS_1
Melihat secangkir kopi yang membuatnya terdiam serta tersenyum saat menatapnya. Cappucino dengan gambar berbetuk hati serta panah yang tertancap di sana.
beralih menatap Dhira yang sudah duduk di depannya dengan menyeruput kopi buatannya sendiri dan menatapnya dengan menaikan alis.
" Kau menembak ku." ucap Revan dengan begitu pdnya dan sukses membuat Dhira tersedak kopi yang dia minum.
" Uhuk, uhuk, uhuk." berpaling ke sisi samping menyemburkan minuman ke bawah lantai dengan menepuk dadanya dan di bantu Revan dengan yang berdiri serta menepuk punggunggnya.
" Mangkanya kalau minum itu hati hati.!" ucap Revan dan kembali di tempat duduknya.
" Kau yang membuatku begini.!" seru Dhira dengan mengecurutkan bibirnya.
" Aku?" dengan menunjuk dirinya sendiri " kenapa." ujarnya lagi
" Kau bilang aku menembak mu, yang benar saja. Sejak kapan cewek nembak cowok." jawab Dhira.
" Banyak tu." kata Revan. " Buktinya ini sekarang kau menembak ku." dengan menunjukkan cappucino berbentuk hati yang terpanah.
"GR banget sih.!! ini tu seni tau." elak Dhira yang sebenarnya dia ingin menggoda malah dia yang tergoda.
tersenyum saat Dhira mengerucutkan bibirnya dan menyeruput kopi yang di buat oleh Dhira.
" Kamu nanti ada acara.?" tanya Revan membuat Dhira mengerutkan keningnya.
" Kenapa.?"
" Mau mengajak mu jalan." ucap Revan.
" Mau mengajak ku kencan ya.?" kata Dhira dengan tersenyum. " tapi maaf hari ini aku enggak bisa lain waktu saja ya." ujarnya lagi.
" Kenapa.?" tanya Revan dengan menatapnya.
" Kepo.!" seru Dhira dan pergi untuk membereskan meja yang sedikit berantakan.
Menatap Dhira yang pergi dari hadapannya dan membereskan meja kopi yang sedikit berantakan saat dia membuatnya tadi.
Dia mau pergi kemana." Gumam revan.
.
.
.🐨🐨🐨
__ADS_1
yuk vote, like, komen