
Jika satu tambah satu adalah dua, dan yang ke tiga adalah syaitan.
.
.
.
.
Memicingkan mata melihat saudara tirinya duduk di sebelah suaminya yang tersenyum manis menatapnya, sambil mengambil cemilan di dalam toples.
Sedangkan yang di tatap merasa ilfil dan acuh, tak membalas senyuman dari Kinan ataupun menatapnya saja malas sekali.
Berjalan ke arah suaminya, melewati depan Kinan dengan sengaja menyenggol lututnya dan duduk di tengah, antara Revan dan Kinan yang membuat Kinan melototkan mata serta Revan yang tersenyum melihat istrinya.
" Kamu enggak punya sopan santun banget sih." Gerutu Kinan, sambil menatap tajam Dhira.
" Sorry, sakit ya." Jawab acuh Dhira, hanya mengeratkan gigi tanpa membalas memalingkan wajahnya menatap tv.
" Aku haus, tolong ambilin minum dong!" Perintah Kinan, hingga sepasang suami istri itu kembali menatapnya.
Revan yang mendengarnya merasa geram karena perintah Kinan pada isrtinya. Menyentuh tangan Revan saat akan menjawab kata Kinan, dan menggelengkan kepala untuk tidak ikut campur dalam masalahnya. Hanya menghembuskan nafas berat serta mengangguk kecil sebagai tanda mengerti
" Punya kaki kan? Ambil sendiri tu di dapur. Bik Minah enggak ada di rumah." Jawab Dhira dingin, kembali memfokuskan film yang tertunda, karena kedatangan tamu yang datang tak di undang dan seenaknya saja menyuruhnya.
" Mana bisa aku ambil minum, aku kan tamu di sini." Ucapnya dengan tersenyum.
" Kalau tamu,harusnya duduk di ruang tamu bukan di ruang keluarga." Sindir Dhira, hingga Kinan kembali melototkan mata. Akan sindirian yanh sangat tepat untuknya.
Tidak menyangka jika istrinya begitu pandai dalam sindir menyindir, dan dalam perkataan pedas yang dia lontarkan untuk orang yang tidak di sukai Dhira.
Tapi tetap ia pun juga harus melindungi dan memberikan dukungan pada Dhira, jika istrinya benar dan tidak akan membela jika istrinya berbuat salah.
Mengerucutkan bibir dan mencuri pandang pada Revan yang sama fokusnya seperti Dhira.
Berjalan ke arah dapur, mengambil minuman yang ada di dalam kulkas. Hingga ia tersenyum sendiri melihat buah jeruk. Mengambil beberapa buah jeruk untuk membuat dua gelas jus untuk dirinya dan untuk kakak iparnya
" Ini buat Kakak." Ucap Kinan, membawa dua gelas jus jeruk di hadapan Revan, menyerahkannya untuk dia.
" Makasih." Kata Revan, mengambil jus jeruk yang ada di tangan Kinan dan membuat Kinan tersenyum
__ADS_1
Memang mengambilnya, tapi tidak meminumnya sendiri. Berbagi berdua dengan istrinya, menyuruh istrinya untuk meminumnya terlebih dulu dan bergantian dengannya
Kinan yang melihat semua itu, membulatkan mata serta tak percaya apa yang dirinya lihat. begitu manis dan semangat membuatkan jus untuk Revan, tapi yang di lakukan Revan sungguh menyesakkan.
Berbagi minuman dengan Dhira dalam satu gelas dan segitu perhatiannya Revan mengusap bibir Dhira yang basah.
Dhira yang melihat Kinan sedang menatapnya dengan cemberut pun hanya bisa membalasnya tersenyum lebar sambil merangkul lengan Revan, menyandarkannya kepalanya di bahu suaminya dan mendapatkan ciuman singkat di dahinya dari suami tercinta.
Wajah yang memerah, mata yang melotot sempurna dan bibir yang mengerucut panjang hingga ia menghentakkan kakinya berjalan kembali ke tempat duduknya.
Bagaikan obat nyamuk yang melihat kemesraan saudara tirinya dengan suaminya yang tidak mengenal tempat di mana ada jomblo yang sedang melihatnya.
Menyebalkan, ingin membuat jeles dan jelek Dhira di hadapan suaminya. Malah dirinya yang marah, karena gagal akan misi yang di buatnya sendiri.
Mendengar suara ketukan pintu, Revan menyuruh Dhira untuk diam agar dirinya saja yang membukakan pintu.
" Ganjen.!" Gerutu Kinan.
" Ganjen sama suami sendiri gakpapa kan, daripada ganjen ke suami orang?" Cibir Dhira tersenyum sinis menatap Kinan.
Sindirannya sangat mantap dan menusuk hati yang paling dalam.
Ayah yang dia banggakan tak akan menghianati ibunya walaupun sudah meninggal, justru salah besar. Ayah menikah lagi tanpa sepengetahuannya dan parahnya Ayahnya menikah dengan ibu dari mungsuhnya yang dia benci sedari dulu.
" Menghindari zina dan perbuatan dosa, lebih baik nikah. Dari pada jajan di luar, bawa penyakit banyak." Ujar Dhira, walaupun sebenarnya iya juga marah pada ibunya.
Meninggalkan ayahnya yang masih sakit dan tak mau menjenguk sama sekali. Apa lagi bertemu dengan anak-anaknya, tidak pernah sedikit pun. Iya sangat membenci itu jika mengingatnya. Apa lagi menelantarkan putranya yang berkebutuhan khusus sedari dulu.
" Sama seperti nyokap dong, butuh biologis!" Sinisnya.
" mungkin." jawabnya, mengangkat bahu dan membalasnya dengan sinis.
Sama terdiam dan saling merenung, meratapi hal yang sama sebagai anak yang kurang beruntung.
" Eh, ada tamu kuntil, ngapain di sini.?" Tegur Dika yang baru datang bersama Alex.
" Gue Kinan bukan kuntil.!" Protes Kinan yang selalu naik darah setiap bertemu dengan Dika. Dhira dan Revan yang mendengar nama panggilan Kinan dari Dika mengulum bibir, menahan tawa yang akan meledak karena tak tahan dengan panggilan yang sempurna.
" Woy santai dong! jangan ngegas gitu." Goda Dika duduk di samping Kinan dan mengambil jus jeruk yang ada di meja.
" Itu punya Gue.!" Pekik Kinan.
__ADS_1
" Ini?" Kata Dika, menyodorkan minumannya ke arah Kinan.
" Ogah bekas loe.!" menyingkirkan tangan Dika dari hadapannya, berdiri dari duduknya mengambil tas.
" Loe mau kemana Kuntil.?" Tanya Dika, malas menjawab memilih berjalan menuju arah keluar rumah tanpa berpamitan pada pemiliknya.
Menatap kepergian saudara tirinya yang tak ada habisnya dengan kelakuan dan rasa iri di dalam diri dia.
****
" Aku tidur dimana?" Tanya Citra.
" Tidur di sofa." Jawab Rizal, tanpa melihat Citra yang membulatkan mata.
" Tidur di sofa? Tau gitu aku enggak akan ikut dengan mu. Lebih enak tidur di kontrakan." Gerutu Citra, menghentakkan kakinya berjalan menuju kamar Rizal.
Rizal yang sedang mengerjakan pekerjaannya untuk esok meeting bersama klaennya, tidak menghiraukan gerutuan Citra dan dirinya masih saja tetap fokus dengan laptonya.
Citra yang berada di kamar Rizal, menatap kagum dengan kamar pria yang begitu rapi, bersih, luas dan ranjang yang besar.
Berjalan menuju ranjang yang terlihat lembut itu. Nyaman, empuk dan lembut saat Citra mencoba merebahkan punggungnya di ranjang Rizal.
Membuka mata, melihat ranjang yang besar. Naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana dengan memeluk guling saat dirinya sudah merasa lelah dan mengantuk. Menutup matanya dan terlelap begitu saja.
Rizal yang baru selesai dari pekerjaannya, merasa lelah, tubuh yang remuk dan juga mengantuk.
Berjalan menuju kamar dan sedikit terkejut mendapati Citra yang tidur di ranjangnya dengan memeluk gulingnya.
Menatap Citra yang tertidur lelap dengan bibir sedikit terbuka. Merasa kasian hingga dirinya tak tega untuk membangunkannya.
Memutari ranjang yang kosong merebahka tubuhnya di sana, beruntungnya ia mempunyai ranjang yang besar hingga dirinya tak perlu tidur di sofa.
Melihat punggung Citra dan baru pertama kali ia tidur seranjang dengan wanita. Menatap ke atas dan menutup mata yang sudah mulai mengantuk, tanpa mempedulikan esok apa yang akan terjadi.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1