Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
malu


__ADS_3

Terjebak situasi yang sangat sulit, dan aku terpaksa harus berbohong demi keselamatan.


.


.


.


.


Berada di rumah orang membuat Citra tidak nyaman, apa lagi yang baru dia kenal. Citra yang duduk sendiri di ruang tamu dengan menatap ruangan yang besar membuatnya sedikit takut saat sendirian. Apa lagi lampu menjadi sedikit redup karena sang pemilik menggantinya dengan lampu malam.


" Aku ingin pulang!!" gumam Citra. " Ibuk!!" ucapnya dengan memanggil ibunya.


Melihat kanan kiri hingga bulu kuduknya berdiri membuat Citra merasa takut hingga dia berlari ke arah kamar yang di masukin oleh Rizal dan beruntungnya kamar itu tidak di kunci.


Membuka pintu kamar dengan kencang membuat Rizal yang ada di kamar tersentak kecil saat merebahkan tubuhnya di ranjang dan kembali duduk dengan menatap gadis yang ada di hadapannya.


Berlari kecil menuju ranjang, melepas sandal, naik di ranjang Rizal dan menarik selimut untuk menutupi seluruh badannya dengan dia yang meringkuk berhadapan dengan Rizal.


" Kau, kenapa masih di sini.!" ucap Rizal, dengan menatap Citra yang berada di balik selimut.


menurunkan sedikit selimutnya untuk menatap Rizal " Aku takut kak.! tolong anterin aku pulang!!" ucap Citra.


" Ogah! pulang sana sendiri." ketus Rizal.


" Aku takut berjalan sendirian di lorong.!" jawab Citra. " Tolong anterin aku kak?" ucapnya dengan memelas, tapi Rizal tidak bersimpati sama sekali.


" Aku capek, mau istirahat." jawab Rizal dan kembali merebahkan tubuhnya di samping Citra, Citra pun membulatkan mata dan mulai duduk.


" Eh! kenapa kakak tidur di sini!" seru Citra membuat Rizal kembali menatapnya.


" Ini kamar ku dan ini tempat tidur ku, kenapa kau protes.!" cetus Rizal.


" Kakak bisa tidur di bawah kan, ngalah sedikit sama cewek napa.?" sahut cepat Citra.

__ADS_1


" Enggak mau, aku kan Tuan rumah di sini. Kau bisa kan tidur di kamar sebelah." jawabnya dengan ketus.


" Enggak mau, aku mau tidur di sini." kata Citra dengan lirih, karena Citra orang yang sangat penakut apa lagi rumah yang belum pernah ia kunjungi sama sekali.


" Ya sudah sana tidur di bawah." perintah Rizal dan ia kembali tidur dengan memunggungi Citra.


" Tega sekali ini pria menyuruh ku tidur di bawah." gumamnya, dengan menatap punggung Rizal.


Turun dari ranjang, Mengambil selimut tapi di tahan oleh Rizal untuk tidak memakai selimutnya, membuat Citra mengerucutkan bibirnya.


." Dia seperti kakak tiri yang kejam.! suruh tidur di lantai tanpa alas." gumamnya lagi dengan tidur meringkuk karena kedinginan.


Citra yang kelelahan dan tertidur lelap dan tidak sadar saat Rizal menggendongnya untuk tidur di ranjangnya, karena merasa kasian saat melihat Citra meringkuk kedinginan.


Ya, Rizal memang tidak tidur, dia hanya berpura-pura untuk tidur agar ia tidak lagi berdebat dengan gadis ini. Rizal pikir Citra akan tidur satu ranjang dengannya tapi ia salah, gadis ini lebih memilih tidur di bawah daripada harus tidur dengan seorang pria, hingga tanpa sadar Rizal melengkungkan bibirnya sedikit saat menatapnya.


Menyelimuti gadis itu dan Rizal mengambil selimut baru serta bantal untuk dia tidur di bawah, karena tidak mungkin jika ia tidur satu ranjang dengan seorang gadis.


Merelakan semalam ranjang empuknya untuk gadis itu dan ia juga rela untuk tidur di bawah dengan alas yang tidak terlalu empuk, tapi tidak membuat dirinya kedinginan.


****


Menutup mata untuk mengambilkan baju ganti kekasihnya dan berjalan keluar kamar saat ia sudah selesai menyiapkannya, dengan dirinya yang malu sendiri saat pikirannya kembali mengingat ****** ***** Revan, menepis pikiran itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk tidak lagi mengingatnya.


berjalan ke arah dapur dan memanaskan makanan tanpa meminta bantun bik Minah yang sudah tertidur lelap.


Revan yang sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi ia tersenyum saat melihat baju yang sudah di siapkan oleh Dhira, dan sedikit terkejut saat melihat ****** ******** yang juga sudah di siapkan Dhira.


" Apa Dhira juga menyiapkan ini." ucapnya dengan lirih dan menatap ****** ********.


" Astaga!! pasti tu bocil mikir yang aneh-aneh." ujarnya lagi dengan tersenyum sendiri dan memakai bajunya.


Dhira yang sudah menyiapkan semua makanan di meja merasa senang dengan hasil hidangannya, sedikit terkejut saa ia berbalik kebelakang ingin memanggil Revan, tapi Revan sudah ada di hadapannya sekarang dengan tersenyum dan wajah yang segar.


" Kak Ravan ngagetin saja.!" gerutu Dhira. " Ayo kita makan." ajaknya pada Revan.

__ADS_1


" Kamu masak apa Yank." ucap Revan.


" Bibik masak soto ayam, kakak mau." kata Dhira dan di anggukkan oleh Revan.


duduk di meja makan, dengan Dhira yang menyiapkan makanan Revan.


" Terima kasih." ucap Revan membuat Dhira tersenyum dan ia pun akan mengambil makanannya sendiri tapi di tahan oleh Revan.


" Kita makan bersama ya." pinta Revan membuat Dhira menatapnya, mengangguk dan tersenyum untuk makan satu piring dengan kekasihnya.


Dan seperti biasa Revan lah yang meminta Dhira untuk menyuapinya, mau tidak mau Dhira menyuapinya dan menyuapi dirinya sendiri.


"Yank." sapa Revan, hanya deheman yang Dhira jawab saat dia sedang menyendok makanan untuk dirinya.


" Apa kamu yang menyiapkan celana dalamku." ucap Revan, membuat Dhira tersedak makanan saat mendengar ucapan Revan.


Revan segera mengambilkan minuman untuk Dhira, Dhira meminumnya hingga habis dan menatap Revan yang sedang menatapnya.


Otak Dhira kembali mengingatnya lagi dan membayangkan ****** ***** berwarna hitam itu. Pipi yang mulai kembali merah dan bibir yang mengulum ke dalam saat ia mulai merasa malu lagi.


" Kamu makan sendiri ya, aku mau ke kamar mandi." ucap Dhira dan segera berlari ke kamar mandi dapur untuk menghindari pertanyaan Revan.


" Kenapa dia bertanya sih!! kan aku jadi malu.!" gumam Dhira dalam hati dan berjalan cepat menuju kamar mandi.


Revan yang melihat kepergian Dhira itu tersenyum senang saat melihat wajah Dhira yang malu. Meneruskan makannya sendiri dengan sambil membayangkan jika suatu saat nanti mereka menikah, apa semenyenangkan begini, pikir Revan.


Selesai dengan makan Revan pun membereskan sisa makanan dan mencuci piringnya, agar tidak merepotkan kekasihnya terus-menerus.


Berjalan ke ruang tamu dengan dia yang mulai mengambil ponselnya di ruang tamu yang dia cash di sana. Mengaktifkan ponselnya dan mendapatkan notif panggilan tidak terjawab beberapa kali dari Dhira kekasihya, dan mendapatkan satu chat dari mamanya yang menyuruhnya esok untuk datang ke rumah.


Mengerutkan keningnya dan menghembuskan nafas berat saat mama memintanya untuk pulang ke rumah utama.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃


__ADS_2