
Pertama kali aku melihat mu, aku sudah mengagumi mu. Tapi ego ku malu untuk berkenalan dengan mu.
.
.
.
.
Menatap benda kecil yang selalu dia pegang dengan tersenyum dan membayangkan wajahnya yang dekat dengannya serta saat dia menyentuh tangannya.
Wanita itu benar-benar dekat sekali dengannya hanya ada jarak dua langkah dari hadapannya. Tidak pernah berpikir akan sedekat itu dengan wanita yang selalu dia lihat dan kagumi saat bertanding dengan clubnya.
Matanya seperti elang saat dia marah, menatap tajam ke arah mangsa dengan tidak ada rasa takut untuk menerkam. Sungguh dia wanita yang sangat berbeda dari wanita lain, yang selalu ingin dekat dengannya.
Mengambil memori dalam camera vlog yang wanita itu berikan padanya. Memindahkannya ke dalam laptop untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Awal yang baik saat melihatnya dengan camera yang menghadap langsung ke arah Dhira. tidak terjadi apa-apa sebelumnya, hingga dia melihat joki clubnya yang datang dari belakang dan dia langsung menendangnya hingga membuat si lawan terjatuh.
Mengepalkan tangan kala joki clubnya berbuat curang untuk mendapatkan kemenangan, dan ia juga begitu marah kala melihat Dhira jatuh dengan terseret begitu jauh.
" Panggil wanita itu kemari.!"ucap pria itu dengan dingin tanpa melihat pengawal.
" Baik bos." jawab pengawal.
Masih menatap laptopnya dengan memperhatikan Dhira yang membuka helm serta melihat kakinya yang terluka di bagian betis kirinya.
Meringis kesakitan dan entah dia menatap siapa dengan mata yang begitu tajam.
Mendengar suara ketukan pintu dan melihat dua pria, satu wanita yang begitu takut saat memasuki ruangannya.
Berada di hadapannya dengan menundukkan kepala serta begitu takut saat pria itu menatap tajam ke arahnya.
" Kau berbuat curang.!" ucap pria itu dan berdiri dari duduknya, bersandar di meja dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celana.
" Maafkan saya kak." jawabnya dengan takut.
" Kenapa." tanyanya.
" Dia mengejek ku, hingga membuat ku marah." jawabnya. " itu sebabnya aku menendang motornya."
__ADS_1
" Dia mengejek mu.!" ulangnya, dan betina tutul itu mengangguk cepat " Kau mau bukti kebenarannya." ujarnya lagi dengan tajam membuat betina tutul menatapnya dengan rasa takut.
" Cambuk kaki kiri dia hingga berdarah." perintah pria itu pada dua pria yang ada di belakang betina tutul, hingga membuat betina tutul membulatkan mata dan mulai bersujud di kaki ketuanya.
" Maafkan aku kak, aku salah ampuni aku, tolong jangan cambuk aku." ucapnya dengan menangis dan bersujud di kaki ketuanya
" Sayangnya kau tidak berkata jujur, saat aku bertanya kepada mu." jawab ketuanya dan berbalik untuk kembali duduk di kursinya serta melihat betina tutul yang menangis memberontak saat dua pria kekar memegang lengan dan menggeretnya untuk keluar dari ruang ketuanya.
Pria itu tidak suka akan kebohongan dan ketidak jujuran saat meminta jawaban yang sesungguhya. Pria yang akan berubah kejam sat di hianati dan mengusik kehidupannya, tidak memberi ampun pada siapa pun yang mengusiknya.
DAVANO SAYLENDRA.
*****
" Selamat pa-.!!" sapa Citra yang menggantung menatap pakaian Dhira yang berbeda di pagi hari saat memasuki cafe.
" Pagi.?" sapa Dhira dengan tersenyum
" Kau sehat Dhir." tanya Citra.
" Hmm, kenapa.?" tanya Dhira dengan menahan senyum.
" Kau insaf Dhir.!" kata Citra dengan melihat penampilan Dhira yang memakai baju panjang dan rok sepan panjang saat waktu bekerja menjadi seles dulu. " Ya, allah terima kasih engkau telah memberikan hidayah pada teman ku ini.?" ucapnya dengan gembira membuat Dhira langsung menonyor kepalanya.
" Auww sakit Dhir.!!" pekiknya.
" kau pikir aku dulu cabe-cabean apa.!" gerutu Dhira, membuat Citra senyum unjuk gigi.
" Terus kamu kenapa pakek baju kayak gini." tanya Citra.
" Nich.!!" dengan menunjukkan kaki kirinya yang terluka memperlihatkan daging yang masih merah, dan itu langsung membuat Citra terkejut serta menutup mata.
" Kamu kenapa bisa sampai begitu sih Dhir.!!" seru Citra dengan merasa khawatir.
" Jatuh dari motor pas balapan tadi malam."
" Sudah aku bilang berapa kali sih Dhir, sudah cukup kamu main balapannya.!" geram Citra yang sudah berapa kali menasehati Dhira untuk tidak ikut balapan lagi.
Merasa sakit untuk di buat berdiri terlalu lama, Dhira memilih berjalan ke ruangannya untuk mengobati lukanya lagi dan meninggalkan Citra yang mulai berceramah pagi hari saat dirinya terluka.
Menghembuskan nafas berat saat temannya tidak mau mendengarkan perkataannya hingga Citra pun juga ikut mengikuti Dhira yang masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Duduk di sofa dengan meluruskan kakinya yang sakit dan menyingkap rok sepannya hingga di bawah lutut.
Tanpa harus di perintah, Citra mengambilkan kotak obat di dalam laci dan berjalan menuju arah Dhira.
Mendengar suara ketukan pintu hingga Dhira menyuruhnya untuk masuk.
" Maaf mba ada yang mencari mba Dhira di luar." ucap karyawan Dhira
" Siapa mba?" tanya Dhira.
" Namanya Revan mba." jawab karyawan Dhira, membuat Dhira mengerutkan keningnya karena Revan begitu pagi sekali datang ke cafe.
" Suruh masuk saja mba." jawab Citra, membuat Dhira menatapnya dan di balas senyuman manis oleh Citra.
Membuka pintu kerja Dhira, dan di sambut senyuman oleh perempuan yang ada di ruangan itu.
" Masuk Kak.!" kata Citra dengan sopan dan tersenyum, hanya mengangguk dan membalas senyum Citra. Melihat Dhira yang duduk di sofa dengan kaki yang sudah berada di lantai menatapnya dengan senyum.
" Aku tinggal dulu ya Dhir. kakinya jangan lupa di obatin.!" ucap Citra membuat Dhira melototkan mata saat Citra mengingatkannya dengan tersenyum.
beranjak pergi dari ruangan Dhira, meninggalkan Dhira dan Revan untuk bisa berduan karena ia tidak ingin menjadi pengganggu antara dua manusia yang sedang menjalin kedekatan
" Duduk kak." kata Dhira untuk mempersilahkan Revan duduk.
" Kamu melepas perbannya.?" ucap Revan to the poin.
" Iya, tadi enggak sengaja kena air." jawab Dhira dan mulai kembali mengangkat kakinya ke atas sofa serta menyingkap roknya lagi.
Menghampiri Dhira dan menyentuh tangannya yang sedang menyentuh kotak obat.
" Kita ke rumah sakit." perintah Revan.
" Enggak per-." belum sempat menjawab Revan sudah mengangkat tubuh Dhira hingga membuatnya terkejut.
" Eh.!! turunin Kak.!!" pekik Dhira yang berada di gendongan Ravan.
" Luka kamu akan semakin parah jika di biarin seperti ini.!" jawab Revan dengan menatap Dhira.
" Enggak perlu, ini hanya luka kecil." tolak Dhira.
" Jangan membantah." ucap Revan dan membawa tubuh Dhira keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Merasa Malu saat semua orang yang beradaa di cafe menatapnya hingga dia menyembunyikan wajahnya dalam bidang Dada Revan.
Citra yang melihat Dhira di gendong oleh Revan hanya tersenyum dan merasa senang kala seseorang pria begitu khawatir dengan keadaan Dhira.