Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
luka yang dalam


__ADS_3

Semakin kita kejar, semakin kita jauh. Tapi bisakah sekali ini saja kau berhenti, aku hanya ingin bilang. Maaf!


.


.


.


.


" Dhir.!" sapa Dava, membuat Dhira mendongakkan kepala menatapnya saat dia berada di hadapannya.


Tiga hari berturut-turut Dava selalu ke rumahnya di malam hari. Selalu membawa makanan kesukaan Dhira dan Alex.


Tiga hari pula Dhira selalu menjaga jarak dari Dava, walaupun sebenarnya ia enggan sekali bertemu. Tapi bagaimana lagi, Alex selalu memintanya untuk ikut bergabung dengannya.


Bergabung, tapi tak ingin ikut bermain dengan alasan jika dirinya sedang sibuk mengurus pengeluaran cafe mengeceknya lewat ponsel.


Dava tau jika Dhira hanya berbohong dan enggan untuk bermain bersama. Dan kini dirinya memberanikan diri untuk mendekat dan mengajak berbicara baik-baik dengan Dhira.


Disinilah dia, berdiri di hadapan Dhira yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan memegang laptopnya.


" Aku ingin bicara dengan kamu." kata Dava dan duduk di sofa tunggal.


" Mau bicara apa?" tanya Dhira dan kembali fokus dengan laptopnya.


" Maaf." ucapnya dengan tulus, yang membuat Dhira langsung berhenti mengetik dan menatapnya kembali.


" Maaf, karena perbuatanku yang dulu. Maaf aku mengecewakan kamu. Maaf, aku yang tidak bisa mengendalikan perasaanku dulu. Maaf." ujarnya lagi dengan tersenyum.


Entah kenapa perminta maafan itu begitu tulus dan begitu menyedihkan saat mendengarnya. sahabat, saudara, kakak pelindung, kakak yang baik penyanyang dan selalu ada untuknya membuat hatinya sedikit iba dan kasihan saat Dava berulang kali mencoba memperbaiki semua dengan kata maaf dan selalu datang ke rumahnya.


Sungguh ini semua bukan sepenuhnya kesalahan Dava, itu semua hanya pengaruh alkohol dan posisinya juga Dhira datang di waktu yang salah. Tapi beruntungnya itu tidak terjadi dan bisa terselamatkan dengan Dhira yang menghajar Dava.


Melihat ketulusan Dava yang meminta maaf, dan seperti dia yang kembali seperti dulu membuatnya menundukkan kepala untuk menutupi senyumnya yang sekilas.


" Kamu masih mencintaiku." pertanyaan pertama yang keluar dari bibir Dhira membuat Dava memicingkan mata.

__ADS_1


" Jika aku bilang iya, apa kamu akan marah?" tanya Dava balik, bukannya menjawab Dhira hanya mengerutkan kening menatap dalam mata Dava yang memang tak bisa berbohong.


" Aku memang masih mencintai mu Dhir, tapi aku tau cinta tidak bisa di paksa dan cinta ini akan aku ganti sebagai rasa sayang untuk kamu adik kecilku." ujarnya lagi dengan tersenyum, membuat Dhira ikut tersenyum sebagaimana Dava selalu memanggilnya adik kecilku.


Sungguh rasanya Dava sudah kembali seperti dulu, waktu belum mempunyai perasaan lebih terhadapnya, waktu dimana dulu mereka selalu bersama seperti adik dan kakak.


" Maaf." ucap Dava dan mengacungkan jari kelingking sebagai damai dan janji sahabat.


melingkarkan jari kelingkingnya untuk memberikan dia maaf membuat Dava tersenyum dan bersyukur Dhira mau memaafkannya.


" Kamu memafkan ku." kata Dava


" Iya, tapi aku akan tetap menjaga jarak. Kau tau sendiri kan jika aku su-."


" Iya aku tau! enggak usah di teruskan.!" potong Dava membuat Dhira tertawa kecil.


" Sudah malam aku mau pulang." kata Dava.


" Iya." jawab Dhira, berdiri dari sofa mengantarkan Dava keluar rumah.


" Terima kasih." ucap Dava saat berada di atas motor.


" Sudah memafkanku." ujarnya.


" Iya bawel!" jawab Dhira dengan tersenyum membuat Dava jadi tertawa.


Menatap kepergian Dava dengan tersenyum, memafkan dia dengan rasa tulus membuat hati Dhira sedikit lega dan tak ada kata benci lagi di hatinya. Sungguh selega dan setentram ini jika kita memafkannya.


Masuk ke dalam rumah, mengunci pagar serta masuk dalam kamar, mencoba mencari ponselnya dan melihat ada dua pesan dari orang yang di mencintainya.


" Lagi apa Beb?" pesan dari kekasihnya.


Dan satu pesan dari nomer yang tidak di kenal.


Dua pesan gambar foto yang memperlihatkan dua pasangan sedang duduk di meja pesta di temani sepasang suami istri yang juga duduk berhadapan dengannya.


Revan?" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Membukatkan mata serta terkejut akan foto yang dia lihat. Foto kekasihnya beserta keluarga wanita tua yang sangat dia benci, tertawa bersama di meja pesta seakan mereka sudah begitu kenal dekat.


Mama..!" ucapnya begitu lirih, melihat foto itu bagaimana Mamanya yang begitu tertawa dan tersenyum lepas seperti bahagia bersama keluarga barunya.


Tersenyum miris dengan mata yang sudah mulai memerah saat ia melihatnya lagi. Sungguh hatinya begitu marah, benci dan iri melihat foto yang entah siapa pengirimnya.


Mamanya begitu bahagia, begitu bisa tertawa lepas dan begitu bisa menyayangi anak tirinya. Di mana dia melihat foto ke dua, memperlihatkan Mamanya membelai pipi anak tirinya yang sedang cemberut.


Dirinya, anak kandung yang jarang sekali di perhatikan dan di beri kasih sayang oleh Ibunya. Tapi di sini ia melihat bagaimana tulusnya sang Mama yang perhatian dan memberi kasih sayang pada anak orang bukan anakya sendiri.


Apa karena uang kau bahagia mam, aku melihat ini kau tidak begitu tertekan seperti kau nyaman bersama keluarga baru mu. Tidak seperti kau bersama ayahku yang selalu mengacuhkan kak Alex dan aku. Seenggaknya sekarang aku tau, jika kau sudah tak menginginkan anak kandungmu lagi. Terima kasih sudah melahirkan aku dan kak Alex dan terima kasih atas luka yang kau berikan pada anak kandung mu ini." gumamnya dan menutup mata dengan air yang sudah mengalir di pipinya.


Menghembuskan nafas dalam dalam mencoba meredam amarah yang membuncak di hatinya. Sudah cukup rasanya ia menangisi ibunya, sudah cukup rasanya ia rindu pada ibunya dan sudah waktunya dia tidak lagi berharap ibunya untuk kembali.


Berdiri dari tempat tidurnya mengambil jaket dan kunci motor. Melangkah pergi keluar rumah untuk seperti biasa, saat dirinya sedang ingin menyendiri meluapkan kekesalannya, amarahnya dan tangisannya.


Entah siapa yang sudah berani mengirimkan foto ibu dan kekasihnya yang membuat hati Dhira memanas.


Taman, danau yang gelap merupakan tempat favorit saat dirinya merasa sedih dan ingin sendiri.


" Ayah! Dhira rindu!!" teriaknya di depan Danau, menundukkan kepala dan menangis.


" Ayah, Dhira benci yah, Dhira benci dengan dia! Dhira benci yah!!." isaknya begitu dalam dan kesenggukan.


Kekecewaan yang sangat dalam, kebencian yang sudah dia tanam begitu lama. Tak ada lagi rasa sayang dan hormat terhadap ibunya bila kelak ia bertemu dengannya.


Cukup lama ia menangis sendiri dalam kegelapan. Menghapus sisa air mata yang masih mengalir dan tersenyum pada bulan yang sedang menyinarinya begitu terang.


" Terima kasih yah, terima kasih sudah memberiku dan kakak kasih sayang yang lebih, terima kasih untuk semua perjuangan ayah, terima kasih yah. Dan mulai sekarang aku tidak butuh kasih sayang dari seorang ibu, aku tidak butuh kehadirannya, bagiku sekarang hanya kak alex keluargaku sekarang." gumamnya.


.


.


.


.๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


Maaf atas keterlambatannya๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2