
Sebab perjuangan itu penuh dengan rintangan dan akan indah pada waktunya.
.
.
.
.
Rasa senang dan bahagia saat Dhira mengajaknya untuk menikah, membuatnya semangat untuk bekerja.
Sapaan dari semua karyawan di balas dengan dirinya yang juga ikut tersenyum ramah dan mengangukkan kepala, entah setan apa yang merasukinya hingga semua karyawannya merasa heran termasuk juga dengan asistennya.
Ingin rasanya ia mengungkapkan semuanya pada dunia, jika dirinya merasa senang di ajak nikah oleh gadis tomboy. Bukan, bukan dia dulu yang mengajaknya nikah, tapi dirinyalah yang terlebih dulu mengajaknya menikah dan selalu di tolak dengan alasan jika belum siap.
Dan kini pagi setengah siang tiba-tiba saja Dhira mengajaknya menikah, yang membuat sedikit terkejut. Tak ingin menyiakan kesempatan dirinya pun mengiyakan ajakan Dhira. Sungguh seperti ini rasanya dia bahagia tak bisa di ucapkan dengan kata tapi bisa di lihat dari expresi.
Rasa bahagianya begitu dalam hingga dirinya ingin cepat pulang dan ingin memberitahukan orang tuanya, jika kekasihnya mau di ajak nikah dan dirinya tidak akan lagi menjadi sad boy.
Di sini lah sekarang dirinya yang pulang ke rumah orang tuanya di sambut hangat oleh Mama, Papanya. Duduk bersama di ruang keluarga sambil menikmati teh di malam hari.
" Van.?" Sapa Nyonya Vani terlebih dulu pada putra semata wayangnya.
" Iya Ma.?" jawabnya dengan tersenyum.
" Besok malam kamu enggak ada acara kan." Tanya Nyonya Vani.
" Enggak ada ma, kenapa." Tanya balik Revan, Menatap ke arah suaminya sebelum ia bilang pada anaknya. Hanya tersenyum dan mengangguk untuk segera mengatakannya pada Revan.
Mengerutkan kening melihat gelagat ke dua orang tuanya yang saling memberikan kode, hingga dirinya mulai waspada akan apa perkataan orang tuanya.
" Mama beberapa hari yang lalu enggak sengaja bertemu dengan gadis yang menolong Mama dan Papa." Ucapnya dengan tersenyum. " Mama ngobrol banyak dengannya, dan gadis itu sopan, baik dan ramah pada siapapun." ujarnya lagi, yang membuat Revan sedikit tak mengerti.
" Terus.!" Ucap Revan yang menyuruh Mamanya untuk cerita lagi.
" Besok malam Mama mengundangnya untuk makan malam ke rumah kita, kamu pulang ya kita makan bersama besok dengan gadis itu." Pinta Mama.
Dan dirinya mau mengerti sekarang kemana arah pembicaraan Mamanya.
__ADS_1
" Mama ingin menjodohkan ku dengan gadis itu.!" Tebak Ravan dengan suara yang mulai dingin.
" Enggak.!" Elak Nyonya Vani. " Mama hanya ingin kita makan bersama saja, ya mungkin siapa tau kamu tertarik dan jodoh dengannya." ujarnya lagi dengan tersenyum.
" Ma.!" Seru Revan dengan nada lembut tapi juga tegas. " Mama tau kan jika Revan sudah mempunyai kekasih." ucapnya dan di anggukkan oleh Nyonya Vani.
" Mama hany-,"
" Aku hanya ingin mau menikah dengannya Ma, dan dia sudah menerima lamaranku." Potong Revan tegas, membuat ke dua orang tuanya sedikit terkejut menatap dalam putranya dan beralih saling menatap.
" Kamu sudah melamarnya." Tanya lirih Nyonya Vani.
" Iya, tadi pagi Ma dia menerima lamaranku." Jawabnya.
" Kalau begitu bawalah kekasih mu besok kemari, kita makan malam bersama dengan gadis yang menolong ke dua orang tua kamu ini." Perintah Tuan Gio, menatap Papanya seakan iya ingin protes tapi malas sekali berdebat hingga dirinya hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Melihat putra semata wayangnya yang kembali menjalin percintaan dengan wanita yang sudah membuat hidup anaknya berubah tak seperti dulu lagi, saat di tinggal mantan kekasihnya menikah dengan saudara tirinya. Membuat Nyonya Vani mengerti jika anaknya sudah nyaman dan bahagia dengan pilihannya.
Dan dirinya tidak bisa lagi menghalangi dan tak merestui Revan dengan pilihannya, karena dirinya sangat takut jika akan terulang lagi dan akan membuat hidup anaknya menjadi pendiam dan dingin dengannya. Bagi seorang ibu hanya ingin anaknya hidup bahagia saat sudah berumah tangga dan berharap calon istri putranya bisa membahagiakannya dan bisa saling mengerti satu sama lain. Semoga saja, dalam hati Nyonya Vani.!
Menatap suaminya yang juga menatapnya, mengangguk, mengedipkan mata dan tersenyum untuk mengurangi rasa khawatir pada istrinya dan menenangkannya, jika semuanya akan baik-baik saja. Begitulah isyarat matanya pada sang istri.
****
" Maaf kak, tapi aku enggak bisa.?"
" Mama dan Papa ingin bertemu dengan mu, kenapa kamu enggak bisa.!" kata Revan yang suaranya sedikit mulai berubah.
Pagi sekali Revan datang ke rumah Dhira dengan wajah yang senang akan kejutan yang dia buat untuk kekasihnya menemui kekasihnya yang ada di kamar dan saling duduk bersebelahan. Sayangnya kejutan itu malah membuat mereka berdebat kecil dan ini pertama kalinya mereka bertengkar.
" Aku sudah ada janji kak, sama seseorang untuk datang nanti malam ke rumahnya." jawab Dhira.
" Siapa.! Apa dia sangat penting bagi kamu." Ucap Revan dingin.
" Kak!" seru Dhira. " Dia seorang ibu, ibu itu mengundangku ke rumahnya dan dia sangat memohon untuk aku datang." jawab Dhira.
" Tapi ini juga penting Dhira.! Ini orang tuaku, ingin bertemu dengan kamu.!" Ucap Revan dengan nada sedikit tinggi, dan lagi-lagi jika Revan sudah memanggilnya dengan nama itu artinya dia sangat marah dengannya.
Memejamkan mata, mencoba menahan emosi saat Revan membentaknya dan hanya menundukkan kepala dengan dirinya yang mulai diam.
__ADS_1
Revan yang sudah sedikit terbawa emosi karena Dhira lebih memilih orang baru yang dia kenal dari pada kekasihnya. Dan menyadari jika dirinya membentak Dhira.
" Maaf." Ucap Revan lirih.
Kata maaf yang terucap dari bibir Kekasihnya itu sukses membuat mata Dhira berkaca-kaca. Dan entah kenapa dirinya begitu egois serta tak mengertikan perasaan Revan.
" Kita bertemu dengan Mama dan Papa jam berapa.?" tanya Dhira lirih, membuat Revan menatapnya.
" Apa kamu terpaksa?" tanya Revan, mendongakkan kepala menatap kekasihnya.
" Tidak, aku ingin mementingkan kekasihku dulu." Ucapnya dengan tersenyum.
Memeluk tubuh Dhira, membenamkan kepalanya di dadanya, mengusap lembut rambut Dhira dan menciumnya beberapa kali dan itu membuat hati Dhira terenyuh.
" Maafkan aku yang sedikit membentak kamu." Kata Revan dengan rasa bersalah.
" Aku yang seharusnya minta maaf, karena aku egois." jawab Dhira. " Nanti kakak jemput aku jam berapa." tanyanya dan melepaskan pelukan Revan.
" Janji kamu dengan ibu itu bagaimana." tanya Revan.
" Biar nanti Dika saja yang datang." jawabnya, membuat Revan tersenyum.
" Nanti aku akan jemput kamu jam tujuh Beb." Kata Revan dan di anggukkan oleh Dhira.
Bukankah dalam menjalin hubungan kita harus saling mengerti dan saling mengalah satu sama lain jika ada yang marah, agar bisa mencari solusi dan bisa membuat hubungannya tak akan renggang. Tapi kerkadang juga masih banyak dalam menjalin hubungan tak ads yang mau mengalah dan mengerti hingga mereka memutuskan untuk pisah walaupun sebenarnya mereka masih cinta.
Dan kini Dhira mengerti jika menjalin hubungan tak semudah menjalin pertemanan. dan dirinya merasa lega jika Revan tak marah dan kecewa dengannya.
.
.
.
.🍃🍃🍃
Numpang Promo ya kak, yuk ramaikan dengan Mawar yang berganti judul NOT A PAID LOVER.
__ADS_1