
Aku dan kamu akan menjadi satu, saat orang tuaku sudah merestui kita.
.
.
.
.
Rasa lelah menyelimuti tubuhnya saat adik kakak sudah sampai di rumah sore hari dan merebahkan tubuhnya di sofa untuk merenggangkan ototnya sebentar.
Dhira menyuruh Alex masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat saat melihat wajah kakaknya yang kelelahan.
Sedangkan dirinya juga akan masuk ke dalam kamar, menyegarkan tububnya saat ia akan pergi lagi.
Menatap ponsel yang ia pegang dan berbunyi notif chat dari kekasihnya, membuatnya mengurungkan ke kamar mandi. duduk di tepi ranjang dan membuka pesan Revan.
"Lagi apa Beb." tulis pesan Revan membuat Dhira tersenyum.
" Barusan pulang jalan-jalan sama kak Alex, kamu lagi apa?" tanya balik Dhira dan mengirimkannya pada Revan.
" Lagi mikirin kamu, nanti malam aku jemput ya. aku ingin jalan-jalan dengan kamu." balas Revan, tersipu malu saat melihat kegombalan Revan dan mengerutkan kening saat Revan mengajaknya jalan-jalan.
" Maaf beb, nanti malam aku ada balap motor." tulis Dhira, dan di sebrang sana merasa sedikit kecewa saat Dhira menolak untuk di ajak jalan.
Menunggu balasan dari Revan hingga sepuluh menit tidak ada jawaban membuat Dhira merasa gelisah dan mencoba mengirimkan pesan lagi pada kekasihnya.
" Beb.?" sapa Dhira dan sama masih tidak mendapatkan jawaban.
" Apa kamu marah dengan ku." tulisnya lagi.
" Jangan marah, aku minta maaf. besok kita jalan-jalan." bujuknya, tapi tetap saja masih tidak mendapatkan respon dari kekasihnya.
Menghembuskan nafas beratnya dan tidak ingin ambil pusing saat kekasihnya tidak membalas pesannya, menaruh ponselnya di atas laci dan bergegas jalan ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Sifat Dhira yang memang seperti itu, tidak mau ambil pusing saat ia sudah meminta maaf tapi tidak mendapatkan respon dan dia tidak akan mengemis lagi untuk meminta maaf atau pun membujuknya lagi untuk di maafkan.
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, mengambil ponselnya di laci dan mencoba menyalakan ponselnya tapi tetap sama tidak ada balasan, tersenyum kecut dan mematikan ponselnya agar ia bisa fokus untuk balapan nanti malam.
****
__ADS_1
Berada di bace camp, bertemu dengan teman-teman prianya dan berkumpul mengecek motornya untuk balapan nanti malam.
" Nomer kamu kenapa enggak bisa di hubungi Dhir." tanya Dika saat Dhira berada di samping dirinya.
" Lupa enggak di cash." jawabnya dengan berbohong. " Cafe gimana." tanyanya.
" Aman dan terkendali." jawab Dika dan di anggukkan oleh Dhira. " Kenzi mana.?" tanya Dika, Dhira mengangkat bahunya karena tidak tau keberadaan Kenzi.
Berjalan menuju lantai atas karena lama sekali ia tidak ke ruang serbagunanya. Membuka pintu, menyalakan lampu dan tersenyum saat melihat ruangan yang tertata rapi, seperti tidak ada orang yang pernah masuk ke dalam ruangannya.
Berjalan ke arah rak buku, memilih buku novel untuk membacanya saat ia merasa bosan dan jenuh di bawah menunggu teman-temannya. Cukup lama ia membaca, mata mulai mengantuk saat ia merasa lelah hingga tanpa sadar ia tertidur dengan buku yang berada di tangannnya.
pintu ruangan yang terbuka dengan Kenzi yang baru sampai di tempat bace camp dan langsung ke atas untuk mencari Dhira.
Melihat Dhira yang tertidur di sofa panjang dengan buku yang masih ia pegang membuat Kenzi menggelengkan kepala dan tersenyum melihat wajah Damai Dhira.
" Tumben sekali dia tidur." ucapnya dengan lirih dan berjalan menghampiri Dhira, mengambil buku yang ada di tangannya dan membenarkan posisi tidur Dhira
" Cantik." gumamnya saat melihat wajah Dhira lebih dekat dan terkejut saat melihat Dhira mulai terbangun hingga dia cepat-cepat berdiri tegak dan duduk di sofa lain.
Mengusap matanya yang masih mengantuk beralih menatap sekitar dan mendapati Kenzi yang duduk di kursi tunggal dengan dia yang bermain ponsel.
" Kamu dari tadi." tanya Dhira dan mulai duduk dari tidurnya, menatap ke arah Dhira yang menunduk dan mengusap matanya.
" Hemm, sedikit lelah." jawabnya.
" Kamu sakit.?" ucap Kenzi yang mulai khawatir.
" Tidak.!" elaknya dengan tersenyum " Hanya lelah saja," ujarnya lagi dan berdiri dari duduknya membuat Kenzi mendongakkan kepala menatap Dhira.
" Mau kemana?" tanya Kenzi.
" Mau ke kamar mandi." jawabnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Merasa kasihan melihat Dhira saat dia merasa lelah dan mulai khawatir jika nanti Dhira ikut balap.
****
Wajah Dhira yang sangat kelihatan saat kelelahan membuat Kenzi dan Dika khawatir.
" Sebaiknya kamu tidak usah ikut balapan Dhir." pinta Kenzi
__ADS_1
" Aku enggak sakit jadi kamu tenang saja." kata Dhira.
" Kau ini kalau di bilangin ngeyel sekali." cibik Dika membuat Dhira mengerucutkan bibirnya, sebenarnya memang lelah tapi bukan kelelahan karena jalan-jalan bersama Alex, dia kelelahan karena memikirkan Revan yang tidak membalas pesannya saat Dhira mulai mengaktifkan kembali ponselnya.
Apa ini yang di namakan galau seperti teman-temannya, merasa galau karena bertengkar dengan kekasihnya. Dulu Dhira tidak seperti ini saat tidak berpacaran.
Tidak mau ambil pusing saat orang marah dengannya yang terpenting Dhira sudah minta maaf, jika tidak di maafkan Dhira tidak keberatan.
Tapi kali ini sungguh Dhira merasa galau dan salalu memikirkan Revan karena kekasihnya marah dengannya.
Menghembuskan nafas berat dan tak ingin lagi memikirkan Revan, hingga ia pamit pada Dika dan Kenzi untuk pergi ke minimarket sebelum pertandingan di mulai.
Menuju minimarket, mencari minuman bersoda membelinya dua kaleng dan duduk sebentar di depan minimarket dengan dia yang mulai meminum serta memikirkan sesuatu.
Memicingkan mata saat melihat ketua jaguar ada di sebelahnya dengan mengambil minuman yang Dhira beli.
" Jika seperti ini, berarti kau sedang memikirkan sesuatu." ucap Dava dan melihat Dhira yang menatap depan dengan kembali meminum, tersenyum sekilas saat Dava masih mengerti sifatnya.
" Kenapa.?" tanya Dava
" tidak ada apa-apa." jawab Dhira. " Kau kenapa kemari." tanya Dhira.
" Menemui mu." jawabnya dan menyesap minumannya. " Wajah kamu tidak bisa berbohong dan masih sama jawabanmu seperti dulu, tidak ada apa-apa." ujarnya lagi, membuat Dhira menatap sekilas dan tersenyum.
" Kau sedang galau, karena pacar." kata Dava, membuat Dhira sedikit terkejut dan menatap teman lamanya, Dava yang di tatap hanya tersenyum saat melihat expresi Dhira yang terkejut karena mengetahuinya.
" Kau menguntit ku." ucap Dhira dengan menatap tajam.
" Tidak, hanya beberapa kali saja aku melihat mu bersama pria itu." jawab Dava dengan jujur. " Dan wajah mu kelihatan sekali bahagia bersamanya." ujarnya lagi, mengingat kembali saat ia pernah melihat Dhira bersama pria itu di taman dengan tertawa senang, melihat Dhira bersama pria itu di atas balkon yang bersandar di bahunya dan melihat Dhira di peluk oleh Revan saat di depan Rumahnya.
Tidak pernah ia melihat Dhira sebahagia dan senyaman itu dengan pria lain selain ayah, kakaknya dan juga dirinya yang dulu selalu bersama dia sebelum ia mengungkapkan perasaannya hingga membuat Dhira menjauhinya.
Lama berteman dan bersahabat dengan Dhira, Dava tau sifat Dhira yang sudah nyaman dengan seseorang ataupun marah dan galau dia tau semuanya.
Pria itu sangat beruntung mendapatkan Dhira, karena Dhira sulit sekali di dapatkan. Dava yang sudah lama mencintainya selalu bersamanya di tolak mentah-mentah cintanya oleh Dhira hingga Dhira memilih menjauh darinya karena kecewa saat insiden di tempat karaoke.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃