Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
saling menguatkan


__ADS_3

Bukan kemauan kita untuk menjadi wanita tak sempurna, jika sudah waktunya Tuhan pasti akan memberikannya.


.


.


.


.


Seiring berjalannya waktu, satu persatu mereka bertiga mulai berkata jujur dan saling mengungkapkan isi hati dan keinginannya.


saling mendukung dan saling melindungi dalam persahabatan. Terutama pada wanita hamil yang sudah mulai menginjak kandungan tujuh bulan. Dua sahabatnya begitu posesif, selalu menuruti kemauannya dan selalu melindunginya selama dirinya hamil.


Tapi yang lebih posesif adalah Citra, setiap hari dirinya selalu di perhatikan olehnya. Selalu datang ke rumah dan selalu mengajaknya mengobrol agar tak kesepian di rumahnya padahal di rumah sudah ada Alex dan bik minah. Tapi dirinya sangatlah suka, ya walaupun terkadang sangat menjengkelkan karena Citra selalu memaksanya untuk meminum susu hamil, karena dirinya sangat tidak menyukai itu.


selama dirinya hamil, ia jarang sekali ke cafe lantaran selama dirinya hamil ia selalu malas beraktivitas.


Dirinya lebih senang di rumah, menghabiskan waktunya hanya untuk tidur dan makan hingga badan mulai mengembang, seperti donat ketika kandungannya menginjak empat bulan dan tidak lagi mual ataupun muntah.


" Ini masih tujuh bulan, dan badanku sudah sebesar ini!" Gumam Dhira, menonton tv malam hari di temani Revan dan Alex yang tuduk di depan tv dan lebih fokus memperhatikan layar tipis dari pada gumaman adiknya.


" Enggak papa badan besar yang penting sehat!" Jawab Revan, mengusap lembut perut Dhira yang membucit dan mendapatkan tendangan hebat dari dalam sana.


" Dia nendang!" Seru Revan, tertawa kecil mendapatkan tendangan dari anaknya yang belum keluar. " Hay, sayang kangen papa ya?" Ujarnya, menempelkan telinganya di perut Dhira untuk mencoba mendengar detak jantung anaknya. Sangat berirama dan mengagumkan malaikat kecil yang masih berada di dalam perut istrinya.


Tendangan ke dua yang begitu hebat membuat Dhira meringis kesakitan. " Dia selalu nendang jika kamu mengusapnya sampai keras sekali! kalau gak ada kamu jarang sekali nendang dan gak seberapa keras seperti ini." Ujar Dhira, mengusap perutnya dan protes dengan tendangan anaknya yang selalu aktif jika Revan ada di sisinya.


" itu berarti anak papa, sayang papa ya?" Goda Revan.


" Harus sayang mamanya, kan aku yang mengandung." Ketus Dhira, sedikit tak terima jika anaknya lebih sayang ayahnya.


Revan yang mendengar protesan istrinya begitu tertawa, mengacak rambut istrinya serta dan mencium keningnya.


" Dia akan mencintai kamu, seperti papanya yang juga mencintai mamanya." Kata Revan, membuat Dhira tersenyum. Menyandarkan kepalanya di bahu Revan dan memeluknya untuk rasa terima kasih karena dia selalu mencintanya.


" Tadi mama Vani telpon?"


" Mama kan setiap hari telpon kamu?" Jawab Revan.


" Ihh... aku tau!" Seru Dhira, membuat Revan tertawa. " Mama tadi telpon katanya minggu depan tujuh bulanan aku dan mama akan mengadakan syukuran." Ujarnya lagi, menatap Revan.

__ADS_1


" Di mana?" Tanya Revan.


" Kata mama di rumahnya, sekalian ngundang kerabat." Jawab Dhira.


" Mama Devi sudah tau!"


" Sudah, tadi aku menghubunginya." Kata Dhira, membuat Revan tersenyum.


Selama Dhira hamil, hubungan antara anak dan Ibu mulai sedikit ada berubahan. Dulu yang sering berjauhan dan tak pernah memberi kabar. Perlahan lahan Nyonya Devi, memberikan perhatian dan kasih sayang pada putrinya dan juga pada putranya Alex melalu sambungan telepon dan sering berkunjung ke rumahnya. Dengan hati yang lapang dan mencoba membuka hati, Dhira sedikit mulai menerima ibunya kembali dan merasa senang dirinya sedikit mulai akur dengan ibunya.


" Sudah malam ayo kita tidur?" ajak Revan. Melihat jam yang sudah menunjukkan angka sembilan.


" Kak Alex? sudah malam ayo tidur kak." Kata Dhira, membuat Alex melihatnya dan menganggukkan kepala.


" Selamat malam?" Ucap Alex berdiri dari duduknya, berjalan terlebih dulu meninggalkan Dhira dan Revan.


" Mau di gendong?" Tawar Revan.


" Ihh, enggah ah! Malu nanti kalau bik minah lihat. " Jawab Dhira, berdiri dari duduknya sedikit kesusahan karena berat badan yang menjadi donat.


Membantu istrinya berdiri dan dengan cepat menggendongnya hingga membuat Dhira sedikit terkejut.


" Bik Minah enggak ada sudah tidur." Jawab Revan. " Papanya lagi ingin jenguk si kecil." Bisik Revan, hingga Dhira membulatkan mata.


" Ada maunya!!" Seru Dhira, membuat Revan tertawa dan berjalan masuk ke dalam kamar Dhira.


****


Citra sedang menikmati pemandangan indah di taman, dengan berbagai anak kecil yang begitu senang bermain bersama teman atau pun bersama dengan ke dua orang tuanya.


Pemandangan yang sangat membahagiakan lebih dari apapun. Menatap perutnya yang ramping, mengusap perutnya dengan senyum sedih.


" Belum saatnya Tuhan menitipkan si kecil." Ucap seorang pria dari depan, membuat Citra mendongakkan kepala menatap indah dan sabarnya ciptaan Tuhan yang dia berikan untuknya. Siapa lagi jika bukam suaminya, Rizal.


Duduk di samping Citra, memberikan gelas plastik berisi minuman bubble untuknya, saat sang istri meminta untuk di belikan.


Menyeruput menumannya sambil menatap anak-anak kecil.


" Maaf, belum bisa membuat kamu dan keluarga kamu senang." Lirih Citra, merasa bersalah saat dirinya belum juga hamil.


Menggenggam tangan istrinya, menatapnya dalam dengan tersenyum. " Jangan meminta maaf, ini bukan salah kamu." Ucap Rizal.

__ADS_1


" Tapi, aku belum juga hamil."


" Apa aku dan keluargaku menuntut kamu cepat hamil?" Tanya Rizal, dan di gelengkan kepala oleh Citra.


Ya, hampir tujuh bulan Citra belum mendapatkan hasil yang mengembirakan bagi dirinya dan suaminya. Hampir jutuh bulan dirinya selalu mengharapkan keajaiban, mengharapkan akan titipan Tuhan yang ia inginkan, seperti sahabatnya. Yang baru menikah satu bulan dan sudah mendapatkan titipan malaikat kecil di rahimnya dari Tuhan, dan kehamilannya juga sudah menginjak tujuh bulan.


" Jangan pernah menyalahkan diri sendiri, jangan pernah menyerah, kita bisa melaluinya bersama. Apapun keadaannya kita akan selalu bersama." Tutur suaminya, membuat hati Citra terenyuh akan kesabaran dan ke dewasaannya saat dirinya sedang membutuhkan sandaran.


" Kita nikmati berduaan dulu, aku ingin di manja istriku." Ujarnya lagi, dengan senyum jail dan kedipan mata. membuat Citra tersenyum dan memukul lengan suaminya.


" Nakal!" Seru Citra.


" Nakalnya sama istri gakpapa kan!" Jawab Rizal, yang juga ikut tertawa kecil melihat istrinya bersemu merah di pipinya.


" Mau nakal sama orang lain!" Sungut Citra. " Mau aku potong biar gak bisa berdiri!"


" Sadiss!!" Ngeri Rizal, dan menggelengkan kepala menatap Istrinya yang mulai berubah ketus.


" Janganlah yank! Masih ingin menjenguk ini!" Melas Rizal.


" Awas saja, kalau aku lihat dan mergoki kamu sama cewek." Ancam Citra.


" Satu saja enggak nguatin, apa lagi dua." Gumam Rizal, masih terdengar dengan Citra.


" Apa!"


" Enggak yank." Jawab cepat serta menggelengkan kepala, takut akan pelototan mata istrinya.


" Kita pulang yuk yank!" Ajak Rizal.


" Iya." Jawab Citra.


Berjalan beriringan bersama, saling menggenggam tangan. Menyitari taman, menikmati malam indahnya kebersamaan dan saling menguatkan satu sama lain.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2