Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
saling terkejut


__ADS_3

Entah kebetulan atau tidak, tapi aku senang jika dia di terima dengan baik.


.


.


.


.


Setiap wanita yang ingin bertemu dengan calon mertua selalu gugup dan selalu takut jika dirinya tak akan mampu untuk menjawab semua pertanyaan tentang bibit, bebet, dan bobot.


Takut pula jika dirinya tak akan mendapatkan restu dari orang tua pacarnya, terkadang selera mertua selalu berbeda. Ada yang baik ada pula yang jahat. Baik di depan anaknya tapi jahat jika di belakang anaknya, ada pula yang terang-terangan jahat dan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap calon menantu dan menyuruh mereka untuk putus.


Seperti yang di alami Dhira saat ini, ia menunggu kekasihnya di rumah dengan rasa cemas dan gugup. Takut dengan penampilannya yang jelek dan takut dengan orang tua Revan.


Penampilan Dhira yang sangat berbeda malam ini, dengan dirinya yang mencoba memakai mini dress selutut dengan lengan panjang berwarna gray, di padu dengan sepatu sandal berwarna putih dan tas slempang kecil berwarna putih serta rambut yang di biarkan tergerai. membuat dirinya seperti gadis faminim dan bukan gadis tomboy.


Mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya, ia pun dengan segera berdiri dan membukakan pintu rumah.


Revan yang sudah ada hadapannya, terpana dengan penampilan Dhira. Seperti bukan kekasihnya saat ini, karena dia selalu melihat Dhira memakai baju oblong dan celana, dan selalu seperti itu entah di rumah ataupun di ajak keluar olehnya.


" Cantik." puji Revan, membuat Dhira bersemu merah dan menahan senyum.


" Berangkat sekarang.?" Tanya Dhira.


" Hmm, iya." Jawabnya dengan tersenyum.


" Bik, kak!! Dhira berangkat dulu ya." pamit Dhira pada Bik Minah dan Alex yang sedang melihat tv.


" Hati-hati Non, Mas." jawab Bik Minah saat menghampiri mereka.


" Iya, Bik." Jawab Dhira dan Revan hanya mengangguk serta tersenyum.


" Jangan tidur malam-malam kak!" Kata Dhira sebelum berangkat dan melihat Kakaknya yang masih asik nonton tv.


Berjalan keluar rumah dengan Revan yang menggandeng tangan Dhira hingga menuju mobilnya.


Membukakan pintu mobil untuk Dhira, membuat Dhira lagi-lagi menahan senyum dengan tingkah Revan.


" Kamu cantik Beb." pujinya sekali lagi saat dirinya sudah berada di dalam mobil.


" Apaan sih kak. Malu tau!" jawab Dhira yang tak bisa lagi menyembunyikan senyumnya, Revan pun juga ikut tersenyum dan mengusap pipi Dhira.

__ADS_1


" Sepertinya aku harus hati-hati jika mengajak kamu keluar, bila pakai baju ini." Ucapnya. " Aku tidak sanggup jika banyak yang menatap kamu, aku cemburu." ujarnya lagi.


" Ih, gombal.!" seru Dhira dan tertawa melihat wajah Revan. " Udah ah ayo berangkat, nanti keburu malam lho ketemu camernya." Kata Dhira, Revan ikut tertawa, mengangguk untuk mengakhiri kegombalannya dan menjalankan mobilnya menuju ke rumah orang tuanya dengan dia yang menggenggam tangan Dhira dan sekali kali memberikan kecupan di tangan yang mulus.


Mendapatkan perlakuan yang manis dan romantis, hati Dhira merasa berbunga-bunga juga malu sendiri di perlakukan seperti itu dengan kekasihnya.


" Miss you.?" Ucap Revan.


" Miss you to." Jawab Dhira dengan saling menatap saat mereka berada di lampu merah.


****


" Kamu yakin ini rumahnya.?" Tanya Citra yang melihat rumah megah dengan dirinya yang masih berada di atas motor.


" Enggak tau." jawab Dika, dan melihat lokasi yang di kirimkan Dhira lewat chat.


" Kok enggak tau sih Dik.!" Seru Citra.


" Aku saja belum pernah ke sini, dan ini Dhira hanya share lock alamat ibu itu." Jawab Dhika. " Turun cepat tanyakan sana." Perintah Dika.


" Kamu enggak lihat apa, aku bawa ini.!" gerutu Citra yang membawa sebuket bunga dan kue dari Dhira sebagai tanda permintamaafannya. " Kau saja yang tanya." ujarnya lagi dengan ketus.


Dengan besar hati Dika pun turun dari motor dan mencoba mengetuk pagar samping pos.


Gerbang terbuka dan memperlihatkan penjaga. " Iya cari siapa mas." Tanya penjaga


" Apa benar pak ini rumah Bapak Gio." tanya Dika.


" Benar, ada urusan apa ya." Kata penjaga.


" Saya di suruh kemari pak sama Bapak Gio dengan undangan makan malam." Jawab Dika seadanya.


" Dengan Mas siapa." Tanya Penjaga lagi.


" Dengan Dika dan Dhira pak." jawabnya lagi.


" Ooh! iya Mas silahkan masuk." Perintah penjaga dengan senyum ramah dan membukakan gerbang tinggi, menyuruh Dika untuk masuk.


" Bener ini rumahnya." tanya Citra yang melihat Dika menghampirinya.


" Iya." jawabnya, dan naik ke atas motor, menyalakan motornya untuk memasukkannya ke halaman rumah yang begitu luas.


" Gila, gede bener." gumam Dika sambil menatap rumah yang begitu megah dan kokoh.

__ADS_1


" Mari mas saya antar ke dalam." Ajak penjaga, Dika dan Citra hanya mengangguk.


" He, lepasin dulu ini helmku.!" seru Citra yang tak bisa melepaskan helmnya karena tangan yang penuh dengan oleh-oleh Dhira.


" Merepotkan." gumam Dika, dan masih di dengar oleh Citra.


" Ini bawa sendiri." Ketus Citra dan menyerahkannya dua bingkisan di tanganya pada Dika.


" Kok aku sih Cit, ogah kamu bawa saja ini." menyerahkan kembali bingkisannya pada Citra.


" Kau.!"


" Mas, Mba! sudah di tunggu sama Tuan di dalam." Potong penjaga yang melihat perdebatan antara Citra dan Dika yang tak akan ada kunjung habisnya bila tak ada yang melerai.


" Oh, iya pak maaf." jawab Dika, dan terpaksa melepaskan helm Citra, agar dirinya tidak membawa karangan bunga serta bingkiran di paberbag berwarna pink itu.


Sungguh menyebalkan Citra harus ikut dengan Dika, karena Dhira yang menyuruhnya untuk mendampingi Dika. Selalu bertengkar tak ada akur-akurnya dengan Dika, tapi mereka saling membantu dan juga saling menyayangi sebagai sahabat dan akan selamanya seperti itu. Karena Dika sudah menganggap Citra dan Dhira seperti saudaranya sendiri.


Berjalan beriringan masuk ke dalam rumah yang megah, di sambut baik oleh Nyonya Vani dan Tuan Gio yang berada di ruang tamu.


" Malam Tante, Om.?" Sapa ramah Dika dan Citra menyalimi mereka.


" Malam nak Dika." Sapa balik Nyonya vani dengan tersenyum.


" Eh, ini siapa." Tanya Nyonya Vani.


" Citra tante, temannya Dhira." Jawabnya. " Oh iya tante ini dari Dhira, sebagai tanda maaf karena gak bisa datang." ujarnya lagi, menyerahkan buket bunga dan paberbag di tangannya pada Nyonya Vani.


" Terima kasih.?" jawabnya. " Tante padahal sudah berharap Dhira akan datang, tante rindu dengannya." Imbuhnya dengan wajah yang sedikit muram.


" Maaf ya tante, katanya ada urusan keluarga." Sahut Dika yang juga merasa tak enak hati dengan Nyonya Vani.


" Tidak papa, lain kali juga bisa kan makan malam bersama lagi." Ucap Tuan Gio dengan tersenyum, hanya mengangguk dan tersenyum.


" Ya sudah ayo duduk dulu nak Dika, nak Citra." Ajak Nyonya Vani.


Belum sempat mereka duduk di sofa, suara seorang pria menyapa pemilik rumah, membuat empat orang berbalik dan menatap sumber suara. Serta begitu terkejutnya enam orang yang saling berpandangan dengan apa yang mereka lihat di hadapannya sekarang.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2