Sad Boy With Gadis Tomboy

Sad Boy With Gadis Tomboy
sidang di pagi hari


__ADS_3

Satu kata yang harus aku hindari, cukup. Aku tidak mau lagi!


.


.


.


.


Terasa nyaman, sangat nyaman. Hingga keduanya merasa enggan untuk bangun dan membuka mata.


Tidak senyaman ini mereka tidur, di dalam ranjang yang empuk serta memeluk guling yang begitu hangat dan menenangkan menghirup aroma khas mereka.


Sangat dekat, seperti perangko yang enggan untuk di pisahkan. Yang satu tetap memeluk dan yang satu sedang mencari kenyamanan seperti anak kucing.


Tapi sayang, kenyamanan dan ketenangan kini berganti suara teriakan yang menggema seluruh ruangan hingga ke pendengaran mereka. Mengerutkan alis dan perlahan membuka mata dengan mereka yang masih saling memeluk.


" Siapa?" Lirih sang wanita, setengah sadar dan mata yang masih setengah terbuka.


" Enggak tau?" Jawab pria yang semakin mengencangkan pelukannya.


Kembali menutup mata beberapa detik, sebelum akhirnya mereka tersadar dan membuka mata lebar-lebar, saling menatap dan beralih ke sumber suara.


" Mama!"


" Tante!" Ucap mereka bersamaan dan menjauhkan posisi mereka yang saling memeluk.


" Papa!!" Teriak Tante Rani.


Ya siapa lagi jika bukan Mama Rizal, datang di pagi hari ingin membuat kejutan bersama suaminya untuk merayakan ulang tahun putra tunggalnya. Tapi justru Mama Rizal yang terkejut apa yang ia lihat sekarang.


Putranya, anaknya tunggalnya, tidur satu ranjang dengan seorang gadis. Gadis yang ternyata adalah pacarnya, calon mantunya. Yang membuatnya terkejut.


" Ada apa Ma?" Sapa Tuan Rama menghampirinya dengan tergesa-gesa.


Menatap suaminya dengan mata yang membulat, menunjuk ke arah dua manusia yang berdiri di sisi ranjang dengan wajah gugup dan takut akan apa yang nanti mereka hadapi.


Mengerutkan kening melihat anak serta calon menantunya dari ujung atas hingga bawah.

__ADS_1


Rambut yang berantakan, mata yang sembab khas bangun tidur serta wajah yang menegang saat melihatnya.


" Mereka tidur bersama pa?" Rengek Nyonya Rani menampilkan wajah sendu serta mata yang berkaca-caka.


" Apa! Tidur bersama." Pekik Tuan Rama dan di anggukkan Nyonya Rani dengan semangat.


" Enggak Pa! Ini salah paham." Kilah Rizal.


" Iya Om, itu tidak benar.!" Imbuh Citra, sambil melambaikan ke dua tangannya di depan dada.


" Mama punya bukti ya!"Sahut cepat Nyonya Rani, memperlihatkan buktinya dengan membuka ponsel, melihatkannya pada suaminya dan juga pada Rizal dan Citra.


Membulatkan mata, terkejut tiada tara saling menatap beberapa detik dan kembali menatap Nyonya Rani.


" Kalian, papa tunggu di ruang tamu." Ujar Tuan Rama, berjalan keluar kamar Rizal di ikuti Nyonya Rani dari belakang.


Di luar kamar, pintu yang sudah tertutup rapat saling bertatapan hingga dua orang tua melengkungkan bibir sangat sempurna, kala aktingnya begitu berhasil di depan putra dan calon menantunya.


Kesempatan yang tidak di sia-siakan akan momen beruntungnya melihat putranya tidur satu ranjang dengan wanita yang belum muhrim.


Kedua orang tuanya membuat seolah-olah mereka sudah melakukan hal yang lebih, padahal orang tuanya tau, anaknya tidak pernah menyentuh wanita ataupun berpacaran saja belum pernah.


Tapi ini demi misi dan kebaikan anaknya. Misi ingin putranya cepat menikah, mempunyai mantu serta ingin mempunyai cucu. Kebaikan, demi mereka yang kepergok beberapa kali melihat Citra di apartemen putranya, takut akan berbuat lebih dan bisa menghancurkan nama baik Kevin dan Citra serta berimbas pada ke dua pihak keluarga.


Melemparkan bantal dengan kuat ke arah Rizal dan di tangkap baik sebelum mengenai tubuhnya.


" Kamu kenapa tidur di kasur sih!!" Gerutu Citra.


" Ini kamar, terserah aku mau tidur di mana." Jawab Rizal.


" Setidaknya kan kamu bisa tidur di sofa, jangan di kasur"


" Semalam kan aku sudah menyuruhmu untuk tidur di sofa, ngapain tidur di ranjang." Ucap Rizal.


" Ada yang kosong ngapain juga aku tidur di sofa!" Sengit Citra.


" Ya sudah sama." Jawab Rizal, berjalan menuju pintu, membukanya dan menoleh ke belakang. menatap Citra yang masih berada tempatnya dengan mengerucutkan bibirnya.


" Ayo cepat keluar, mama papa sudah menunggu. Dan mau tidak mau kita harus mengikuti perintahnya." Ujar Rizal lirih, pasrah akan apa yang dalam sidang nanti kedua orang tuanya berikan.

__ADS_1


Menghembuskan nafas berat, memejamkan mata beberapa detik. Berjalan lemas seakan berat untuk keluar kamar, menghadapi kedua orang tua Rizal. Dirinya tak sanggup untuk bertemu, bersitatap ke dua orang tua Rizal yang kepergok tidur berpelukan dengan Putranya, apa lagi dengan posisi yang belum sah sama di depan mereka dan masyarakat.


duduk sejajar berdua di hadapan ke dua orang tua Rizal, Citra yang menunduk dan Rizal yang menatap ke dua orang tuanya.


Tau, Citra yang takut akan ke dua orang tuanya. Tanpa paksaan dan tanpa sengaja dirinya menyentuh tangan Citra, menggenggamnya dengan lembut untuk menenangkannya.


Citra yang tersentak kecil akan genggaman tangan Rizal dan sentuhannya yang sedang menenangkannya hingga dirinya berani membalas dekapan tangan Rizal dengan meneteskan air mata seakan dirinya mempunyai dukungan dan tidak sendiri akan menghadapi semuanya


" Kalian tau apa resikonya, jika bukan papa dan mama yang melihat kalian tidur satu ranjang sebelum menikah." Tanya Tuan Rama.


" Kami tau Pa." Jawab tegas Rizal.


Tau akan resiko apa yang mereka perbuat jika di grebek oleh orang asing dan akan di nikah paksakan atau di arak keliling terlebih dulu menuju balai desa, jika di kampung.


" Bagus jika kalian tau." Ujar Ruan Rama menatap putra dan menantunya yang menundukkan kepala.


" Citra.?" Sapa lembut Tuan Rama.


Sedikit demi sedikit Citra memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk melihat papa Rizal.


" Demi kebaikan kalian, besok papa dan mama akan kerumah kamu, meminta kamu pada orang tua kamu." Ucapnya, Hanya mengangguk dan tersenyum samar untuk menutupi ketakutannya.


Saling melempar senyum saat Tuan Rama menatap istrinya serta mengangguk kecil mengisyaratkan untuk ke samping menantunya.


Beralih duduk di sisi menantunya yang menunduk takut akan apa yang dia perbuat dengan putranya. Seakan kejadian itu sedikit menyudutkan dia.


Mengusap lembut rambut Citra dan punggungnya, hingga Citra menatap ke samping melihat calon ibu mertua tersenyum ramah denganya.


" Jangan takut! Ini demi kebaikan kalian. Mama tidak marah, mama malah senang kamu akan menjadi menantu mama?" Tuturnya dengan suara sangat lembut seperti antara ibu dan anak kandung.


" Apapun keadaannya nanti Mama dan Papa akan tetap bersama Citra." Ujarnya lagi, dan perkataannya sukses membuat air mata Citra jatuh tanpa bisa di pendam lagi dan menghambur ke dalam pelukan hangat seorang ibu yang menenangkan hati kegundahan anaknya.


.


.


.


.πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


Ciye.!! nunggu babang up yaπŸ˜€. Terima kasih ya, kalian masih setia dengan babang kadal.πŸ˜‡


Maaf akhir-akhir ini memang sibuk, maklum kalau lagi hajatan gak bisa pegang ponsel. Maunya sih ingin jadi dayang-dayang, tapi kebayak enggak muatπŸ˜…πŸ˜… ya sudah ambil alih dapur saja, kesana kemari kaki sampai jadi kaku.


__ADS_2